Kesenian Buaya Putih, Kearifan Lokal Masyarakat Padarincang

KABUPATEN SERANG – Kesenian buaya putih merupakan salah satu dari banyak kesenian pertunjukan tradisional di wilayah Banten. Kesenian buaya putih berasal dari Padarincang, salah satu kecamatan di Kabupaten Serang.

Kecamatan Padarincang terletak kurang lebih 37 kilometer ke arah tenggara dari pusat Kota Serang. Padarincang merupakan salah satu daerah lumbung padi di Banten. Daerah ini merupakan wilayah yang subur karena dikelilingi pegunungan.

Kesenian Tradisional Buaya Putih di Padarincang khususnya di Kampung Curugdahu Desa Kadubeureum adalah kearifan lokal budaya yang masih tersisa diwilayah tersebut. Berbeda dengan dibeberapa Kecamatan yang ada di Kabupaten Serang, Kesenian Tradisional Buaya Putih di Kampung Curugdahu sampai saat ini masih terpelihara dan terjaga malah semakin banyak perkembangan. Terbukti dengan masih dilakukannya acara pertunjukan setiap bulan sekali minggu keempat dalam acara latihan yang bertempat disanggar seni. Pertunjukan tersebut biasanya dilakukan dalam acara mapag panganten (pernikahan), khitanan, peresmian gedung, penyambutan tamu, pembukaan perlombaan, ikhtifalan (lepas kenang anak sekolah).

Kesenian ini merupakan seni pertunjukan saat acara hajatan atau syukuran, terutama saat pernikahan. Kesenian buaya putih menjadi bagian tidak terpisahkan pada tradisi seserahan atau upacara tanda ikatan kekeluargaan kedua calon pengantin.

Iring-iringan keluarga pengantin pria diiringi oleh alunan musik, nyanyian, serta tari-tarian. Pusat arak-arakan ini, berada di bagian paling depan, adalah sebuah replika buaya putih. Replika inilah muasal nama kesenian ini.

Mengiring atau dalam bahasa setempat disebut ngarak. Buaya putih dibuat dari kerangka bambu dibentuk sedemikian rupa menyerupai buaya lengkap dengan kepala yang sedang menganga. Hiasan-hiasan dari janur kelapa dibuat menjutai mengelilingi pinggiran badan buaya. Buaya buatan ini dipanggul oleh empat orang yang mengenakan pakaian tradisional, diarak oleh pemain dan warga.

Replika buaya putih sebenarnya sebuah wadah untuk membawa keperluan hajat, misalnya hasil bumi di daerah keluarga si pria yang hendak menikah. Di bagian kepala buaya yang sedang menganga, diletakkan sebuah bakakak atau ayam bakar, atau makanan lain untuk digunakan sebagai tradisi saling menyuapi antara pengantin pria dan wanita. Buaya putih ini menjadi simbol status keluarga laki-laki berdasarkan ukuran dan isi di dalamnya.

Kesenian buaya putih sangat meriah karena melibatkan banyak orang untuk ikut serta, selain warga atau pihak keluarga. Dalam sebuah keterangan yang dirilis Dinas Pariwisata Banten, pemain kesenian buaya putih dimainkan oleh 40 orang.

Sebanyak 4 orang merupakan pembawa buaya putih yang memiliki panjang 8 hingga 10 meter, 4 orang bertugas memegang umbul-umbul pembatas barisan, 2 orang bertugas menjaga barisan depan, 2 orang memegang spanduk, 1 orang sebagai penarik penonton, dan setidaknya ada 10 orang penari mojang desa. Para pemain kesenian buaya putih mengiringi pengantin dan keluarganya.

Pemain yang berperan membawa buaya putih dituntut hati-hati sambil terus mengikuti iring-iringan musik. Buaya putih ini dikendalikan oleh seorang pawang yaitu Ma Ijah. Kemeriahan kesenian buaya putih tidak lepas dari seni musik tradisional yaitu sebanyak 14 orang pemain musik bernama rudat. Rudat ini merupakan musik pengiring dengan alat musik tradisional gending paria ria, kemplongan, dan gembrung.

Pada perkembangannya, kesenian buaya putih juga dilangsungkan tidak hanya untuk acara pernikahan. Acara hajatan di wilayah padarincang seperti sunatan, syukuran rumah, bahkan acara kesenian pertunjukan umum. Jika Anda melancong ke Banten khususnya Serang, mendapat kesempatan untuk ikut serta dalam kesenian buaya putih tentu memberikan pengalaman yang sangat berharga.***