Jika Indonesia Terpilih Pimpin ITTO Visi Misinya

Ilustrasi hutan. (Foto: Istimewa)

Jakarta – Pemerintah Indonesia mengajukan diplomat senior Yuri Octavian Thamrin sebagai calon direktur eksekutif International Tropical Timber Organization (ITTO) 2021-2025. Jika terpilih, ini akan menjadi pertama kalinya Indonesia memimpin ITTO dalam hampir 40 tahun.

“Di bawah kepemimpinan saya, saya ingin ITTO menjadi lebih solid, lebih produktif, dan lebih inovatif dalam mencapai tujuan-tujuannya,” ujar Yuri dalam konferensi pers virtual, Jumat (26/11/2021) dilansir beritasatu.com,

Yuri menjelaskan, dalam hal solidaritas, misalnya, pihaknya akan bekerja sama erat dengan seluruh negara anggota ITTO. Serta mendengarkan masukan dari semua pihak, termasuk berkaitan dengan Strategic Action Plan 2022-2026 yang akan disetujui di sidang ke-57 International Tropical Timber Council (ITTC) mendatang.

Sementara itu, produktivitas ITTO ini berkaitan dengan proyek dan pendanaannya.

“ITTO hidup dari proyek untuk meningkatkan dua tujuan ITTO. Yakni memastikan ekspansi dan diversifikasi perdagangan internasional tropical timber yang berasal dari sumber-sumber yang sustainable. Kedua, ITTO adalah fora untuk meluaskan wilayah yang dikelola melalui program sustainable forest management,” ungkap Yuri.

Baca Juga  Jaga Kebersihan Laut, Ajak Konsumen Ganti Botol Plastik

Namun, pendanaan proyek adalah salah satu tantangan yang dihadapi ITTO saat ini. Dengan adanya pandemi Covid-19, kemampuan negara membayar kontribusinya terganggu. Terkait minat donor untuk memberikan voluntary contribution, ITTO juga masih harus bersaing dengan organisasi internasional lainnya.

Yuri mengatakan, untuk mendapatkan pendanaan, ITTO perlu memastikan proyek-proyek harus mencerminkan suasana kebatinan dunia seperti perubahan iklim. Dirinya juga menilai, saat ini adanya mismatch antara keinginan donor dan negara produsen, sehingga menghambat jalannya proyek tersebut.

“Saya akan memastikan dalam menyusun proyek, semua pihak terlibat. Sehingga yang mendanai juga akan merasa bahwa concern dan priority-nya ditampung,” pungkas Yuri.

Ia menambahkan, persepsi yang salah mengenai productive forests atau hutan produktif sendiri juga menjadi hal yang mendesak untuk diatasi.

“Laporan IPCC mengatakan bahwa productive forests ini adalah bagian dari solusi untuk menghadapi perubahan iklim dan relevan dengan environmental agenda. Namun, ada mispersepsi bahwa productive forests ini part of the problem. Padahal, core business ITTO adalah trying to promote productive forests (mempromosikan hutan produktif),” ungkap Yuri.

Baca Juga  Vaksinasi Covid-19 Umur 6 – 11 Tahun Kota Tangerang Dimulai

Jika ini tidak dibenahi, lanjutnya, dikhawatirkan dapat mengganggu animo untuk memberikan pendanaan untuk ITTO.

“Terakhir adalah inovasi. Kalau ada perubahan, pasti ada demand baru, ada tantangan baru. Old solution atau old way of doing things (cara lama) mungkin tidak in line dengan pandangan yang ada. Oleh karena itu, perlu inovasi,” ujar Yuri.

Yuri menegaskan, sudah waktunya Indonesia memimpin ITTO. Indonesia merupakan negara hutan tropis terbesar ketiga di dunia. Indonesia juga aktif berpartisipasi dan berkontribusi sebagai negara anggota ITTO. Di antaranya adalah bagaimana Indonesia membayar iuran dengan tertib, sepenuhnya, dan reguler. Indonesia juga kerap menjadi host untuk berbagai pertemuan-pertemuan ITTO, termasuk saat pembentukan Bali Partnership Fund.

Progres Indonesia dalam pengelolaan hutan secara berkelanjutan, lanjut Yuri, juga perlu mendapatkan perhatian. Misalnya, dalam mengurangi deforestasi dan kebakaran hutan.

Baca Juga  Alat Berat Menjadi Idola Anak Desa Hulu Pengkadan Dalam Sasaran Pra-TMMD Ke 110

“Sudah 40 tahun. Ini sudah waktunya. This is a request from a country with no less than 270 million people dan kita adalah negara tropical forest country ketiga terbesar di dunia,” pungkas Yuri.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Menurut Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Lestari KLHK Agus Justianto, ini adalah kesempatan yang besar bagi Indonesia untuk menjabat sebagai direktur eksekutif ITTO. Jika terpilih, fokus Indonesia adalah bagaimana kita bisa mengelola hutan secara berkelanjutan pada seluruh hutan tropis yang ada.

“Membangun sistem pengelolaan hutan secara berkelanjutan dan lestari, otomatis, kita juga akan mampu mengurangi emisi gas rumah kaca, bahkan Indonesia sedang fokus untuk mendorong FoLu Net Sink 2030. Itu adalah fokus dari pemerintah seandainya Pak Yuri Thamrin terpilih menjadi direktur eksekutif ITTO,” tutup Agus.(*/cr2)