Cebu sore itu tidak hanya menjadi ruang diplomasi ASEAN, tetapi juga ruang kecil yang berubah menjadi pertemuan emosional antara negara dan warganya di perantauan.
Di sebuah hotel tempat Presiden Prabowo Subianto bermalam, suasana hangat terasa sejak pintu kendaraan terbuka. Dua anak Indonesia berdiri dengan pakaian tradisional, membawa bunga yang mereka serahkan langsung kepada Kepala Negara.
Di dalam, para menteri Kabinet Merah Putih telah menunggu. Namun yang paling mencolok bukan protokol kenegaraan, melainkan wajah-wajah diaspora Indonesia yang memenuhi area lobi dengan ekspresi antusias.
Ronald Tasik, seorang dokter yang telah lama bekerja di Cebu, tak bisa menyembunyikan rasa harunya. Ia menyebut Presiden tampil hangat, tidak berjarak, bahkan sempat menanyakan asal dan nama para diaspora yang ditemuinya.
Baginya, momen itu sederhana tetapi bermakna.
“Sangat ramah,” ucapnya singkat.
Di sudut lain, Lili Yahya menyebut kehadiran Presiden sebagai pengalaman pertama yang tak terlupakan di Cebu. Ia bahkan menyoroti penggunaan kendaraan Maung, yang menurutnya menjadi simbol kebanggaan Indonesia di luar negeri.
“Jauh-jauh dari Indonesia dibawa ke sini, itu mengejutkan sekaligus membanggakan,” ujarnya.
Sementara itu, Romo Agus Sudaryanto, yang telah 15 tahun bertugas di Cebu, melihat momen tersebut sebagai penanda kedekatan baru antara pemimpin dan warganya di luar negeri.
Bagi diaspora, malam itu bukan sekadar kunjungan kerja. Ada rasa pulang yang tiba-tiba hadir di tanah asing.





