Cebu siang itu tidak hanya menjadi ruang pertemuan para pemimpin ASEAN, tetapi juga panggung bagi sebuah pesan yang lebih dalam: bahwa visi tanpa eksekusi hanyalah dokumen.
Di KTT Khusus BIMP-EAGA, Presiden Prabowo Subianto berbicara dengan nada yang tegas namun terukur. Ia membuka pidatonya dengan apresiasi kepada Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr., sebelum masuk pada inti persoalan: masa depan kerja sama kawasan.
Menurutnya, dunia sedang berada dalam fase yang tidak stabil, dan kawasan Asia Tenggara tidak bisa hanya bertahan dengan pernyataan niat.
“Ini saat yang sangat genting,” ujar Presiden, menandai urgensi yang ia maksud.
Namun di balik bahasa diplomatik itu, ada penekanan yang konsisten: kerja sama harus turun ke level yang lebih nyata—energi, pangan, dan kebutuhan dasar masyarakat.
BIMP-EAGA 2035, yang selama ini menjadi peta jalan jangka panjang, kembali ditegaskan bukan sebagai tujuan akhir, tetapi sebagai kompas yang harus diwujudkan.
Di ruang konferensi itu, pesan yang dibawa bukan sekadar optimisme, melainkan tuntutan untuk bergerak.





