Lepas 2.361 Lulusan Vokasi, Menperin Tekankan Pentingnya Integritas SDM Industri

oleh
oleh

MAJALAHTERAS.COM – Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menegaskan bahwa keberhasilan industrialisasi Indonesia bergantung pada ketersediaan sumber daya manusia (SDM) vokasi yang kompeten, berintegritas, dan adaptif terhadap perkembangan teknologi. Menurutnya, pendidikan vokasi industri harus mampu menghasilkan analis, teknisi, dan tenaga profesional yang menjadi fondasi penguatan sektor manufaktur nasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Agus saat memberikan kuliah umum (Studium Generale) dalam rangka Pelepasan Lulusan Serentak SMK-SMAK dan SMK-SMTI di lingkungan Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Tahun 2026 yang berlangsung di SMK-SMAK Bogor, Kamis, 16 Juli 2026. Kegiatan itu diikuti sekitar 27 ribu peserta secara luring dan daring, terdiri atas siswa, mahasiswa pendidikan vokasi Kemenperin, serta pegawai Kemenperin dari berbagai daerah.

“Indonesia membutuhkan generasi muda yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki karakter dan integritas. Indonesia Emas 2045 bukan proyek generasi saya, melainkan proyek kalian,” ujar Agus.

Dalam kesempatan tersebut, Agus juga melepas sebanyak 2.361 lulusan dari sembilan SMK-SMAK dan SMK-SMTI di bawah pembinaan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI). Para lulusan dipersiapkan untuk memasuki dunia kerja sebagai analis kimia, teknisi, maupun tenaga profesional yang mendukung kebutuhan industri manufaktur.

Menurut Agus, lulusan pendidikan vokasi memiliki posisi strategis dalam menjaga kualitas dan keberlanjutan proses produksi. Analis bertanggung jawab memastikan mutu produk sebelum dipasarkan, sementara teknisi menjaga agar proses produksi dan operasional mesin berjalan optimal.

“Seorang analis menentukan apakah suatu produk layak keluar dari pabrik, sedangkan teknisi menjaga agar mesin dan proses produksi tetap berjalan dengan baik. Kalian adalah orang-orang di balik kualitas industri Indonesia,” katanya.

Agus juga memaparkan perkembangan sektor manufaktur yang dinilainya masih menunjukkan prospek positif. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), industri pengolahan pada triwulan I 2026 tumbuh 5,04 persen, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,55 persen.

Kontribusi industri pengolahan terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional mencapai 19,07 persen. Sektor ini juga menyerap lebih dari 20 juta tenaga kerja dan menyumbang sekitar 82 persen dari total ekspor nasional dengan nilai hampir US$95 miliar sepanjang Januari hingga Mei 2026.

“Industri manufaktur terus tumbuh dan membutuhkan tenaga kerja baru. Kesempatan itu terbuka bagi lulusan pendidikan vokasi yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri,” ujarnya.

Agus menambahkan, arah pembangunan industri nasional selaras dengan kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan industrialisasi dan hilirisasi sebagai strategi meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus memperkuat perekonomian nasional.

Ia menegaskan target Indonesia menjadi negara maju pada 2045 tidak akan tercapai tanpa dukungan SDM industri yang unggul. Menurutnya, keberhasilan hilirisasi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan, tetapi juga oleh kualitas tenaga kerja di laboratorium dan lantai produksi.

“Tidak ada hilirisasi tanpa laboratorium. Tidak ada laboratorium tanpa analis. Tidak ada pabrik yang berjalan dengan baik tanpa teknisi yang terampil,” katanya.

Agus juga mengungkapkan tingkat penyerapan lulusan sekolah vokasi Kemenperin tergolong tinggi. Dari 5.472 lulusan pada 2025, sebanyak 4.009 orang telah bekerja, 156 menjadi wirausaha, 704 melanjutkan pendidikan, dan 603 lainnya sedang menjalani proses rekrutmen. Alumni sekolah vokasi Kemenperin juga telah bekerja di 21 negara dan direkrut sejumlah perusahaan multinasional.

Meski demikian, Agus mengingatkan bahwa kompetensi harus berjalan seiring dengan integritas. Khusus bagi analis, ia menekankan pentingnya menjaga keakuratan data dan hasil pengujian sebagai bentuk tanggung jawab terhadap keselamatan konsumen serta reputasi industri nasional.

Menutup kuliah umum, Agus mengapresiasi peran orang tua, guru, tenaga pendidik, dan mitra industri dalam mendukung pendidikan vokasi. Ia berharap para lulusan dapat mengabdikan kompetensi yang dimiliki untuk meningkatkan daya saing industri manufaktur Indonesia.

“Dengan segala rasa bangga, saya nyatakan lulusan SMK-SMAK dan SMK-SMTI Tahun 2026 di lingkungan Kementerian Perindustrian resmi dilepas untuk mengabdi kepada industri dan bangsa Indonesia,” ujar Agus.(***)

 

No More Posts Available.

No more pages to load.