MAJALAHTERAS.COM – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus mendorong hilirisasi komoditas berbasis agro guna meningkatkan nilai tambah sumber daya lokal sekaligus memperkuat daya saing industri pangan nasional. Salah satu komoditas yang menjadi fokus pengembangan adalah singkong, yang dinilai memiliki potensi besar untuk diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi tinggi.
Produk turunan singkong meliputi tepung tapioka, Modified Cassava Flour (MOCAF), pati termodifikasi, glukosa, sorbitol, hingga berbagai bahan baku yang dibutuhkan industri pangan maupun nonpangan.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin menggelar kegiatan Penguatan Hilirisasi Berbasis Agro dan Peningkatan Daya Saing IKM Pangan Provinsi Lampung di Bandar Lampung, Kamis, 16 Juli 2026. Kegiatan ini ditujukan untuk memperkuat ekosistem hilirisasi dari sektor hulu hingga hilir serta mendorong pengembangan industri pangan berbasis potensi lokal.
Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza mengatakan hilirisasi singkong menjadi bagian penting dalam mendukung program penganekaragaman pangan nasional sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 81 Tahun 2024 tentang Percepatan Penganekaragaman Pangan Berbasis Potensi Sumber Daya Lokal.
“Hilirisasi dan penganekaragaman pangan bukanlah dua agenda yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling melengkapi dalam mewujudkan industri pangan nasional yang lebih tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan,” kata Faisol dalam keterangan tertulis, Jumat, 17 Juli 2026.
Menurut Faisol, pemerintah telah menyiapkan sejumlah kebijakan untuk mendukung hilirisasi singkong, termasuk perlindungan terhadap industri dalam negeri melalui penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) dan mekanisme persetujuan impor berbasis pertimbangan teknis.
Ia menjelaskan, kebijakan tersebut dirancang untuk memperkuat keterkaitan antara sektor hulu dan hilir sehingga mampu menciptakan rantai nilai industri yang lebih efisien sekaligus mengoptimalkan potensi sentra produksi di daerah.
“Regulasi yang baik harus diikuti dengan peningkatan kapasitas industri. Kemampuan pelaku usaha memanfaatkan teknologi produksi modern menjadi faktor penting untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing industri pangan nasional,” ujarnya.
Faisol juga mengapresiasi Pemerintah Provinsi Lampung yang telah menerbitkan regulasi mengenai tata kelola dan hilirisasi ubi kayu guna mendorong kemitraan yang lebih adil antara petani dan pelaku usaha. Menurutnya, implementasi kebijakan tersebut perlu diperluas hingga tingkat kabupaten dan kota.
Lampung merupakan sentra produksi singkong terbesar di Indonesia dengan kontribusi sekitar 51 persen terhadap produksi nasional. Karena itu, penguatan hilirisasi di daerah tersebut dinilai strategis untuk mendukung pengembangan industri pengolahan singkong nasional.
Direktur Jenderal IKMA Kemenperin, Reni Yanita, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman pemerintah daerah dan pelaku usaha mengenai pentingnya pengembangan industri olahan singkong sebagai upaya meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
Selain itu, Kemenperin memanfaatkan kegiatan tersebut untuk menyosialisasikan Program Dana Alokasi Khusus (DAK) serta membuka peluang kemitraan antara industri kecil dan menengah (IKM) dengan industri skala besar agar terbentuk rantai pasok yang lebih kuat.
“Kehadiran industri besar penting untuk memberikan gambaran mengenai kebutuhan pasar, standar mutu, teknologi pengolahan, hingga tata kelola rantai pasok. Dengan demikian, IKM dapat meningkatkan kualitas produknya agar mampu menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional,” kata Reni.
Dalam pelaksanaan program tersebut, Kemenperin menggandeng sejumlah mitra, antara lain Kementerian PPN/Bappenas, Asosiasi Industri Roti, Biskuit dan Mi Instan (AROBIM), serta PT Thai Wah Indonesia.
Kegiatan di Bandar Lampung diikuti sekitar 80 peserta yang terdiri atas perwakilan pemerintah daerah dan pelaku IKM MOCAF serta tapioka dari berbagai kabupaten dan kota di Provinsi Lampung.
Rangkaian program akan dilanjutkan dengan Workshop Sistem Keamanan Pangan dan Diversifikasi Produk Olahan Singkong bagi 30 pelaku IKM, serta diseminasi Program Restrukturisasi Mesin dan Peralatan yang ditargetkan diikuti sekitar 120 pelaku IKM pangan. Program tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi produksi, kualitas produk, serta memperluas akses IKM terhadap rantai pasok industri nasional.(***)





