Vihara Avalokitesvara, Harmonisasi Kebudayaan

http://majalahteras.com/-Ketika memasuki pintu gerbang Vihara Avalokitesvara terlihat ukiran arca dua ekor naga yang terlihat cantik memamerkan giginya yang tajam layaknya sedang menjaga kelenteng itu. Mereka sedang berebut mustika penerang dunia, Matahari. Naga dianggap sebagai mahluk suci yang melambangkan keselamatan, juga pelindung arah timur (musim semi).

Vihara Avalokitesvara merupakan klenteng tua yang berada di Kampung Kasunyatan Desa Kasemen Serang. Warna merah mendominasi interior dan eksterior ruang-ruang lain di vihara pada perayaan imlek tahun ini. Lampion-lampion berwarna merah menghiasi situs kuno yang terkenal ini. Para pengujung berbondong-bondong datang untuk melihat kemeriahan imlek tahun ini. Selain itu jajaran pedangan kaki lima sudah memenuhi area vihara untuk meraup rupiah.

Di Vihara Avalokitesvara ini terdapat 16 patung dewa. Beberapa diantaranya yaitu patung Dewi Kwan Im. Patung Dewi Kwan Im merupakan perlambang welas asih atau kasih sayang. Dengan melihat Dewi Kwan Im, setiap orang yang bersembahyang diingatkan agar berlaku welas asih kepada semua makhluk di dunia.

Selain itu terdapat hiolo antik dengan ukiran yang unik. Hiolo merupakan bokor yang digunakan untuk menancapkan batang hio yang telah dibakar dan telah digunakan sebelumnya untuk berdoa di altar para dewa. Di depan altar berdiri Kim Lo yaitu bangunan berbentuk pagoda, biasanya di halaman kelenteng, yang lazim digunakan sebagai tempat untuk membakar kertas sembahyang, untuk persembahan bagi arwah para leluhur.

Telihat juga barisan lilin-lilin raksasa yang menyala di dekat Kim Lo. Lilin dan nyala api adalah hal yang tak terpisahkan pada peribadatan di setiap kelenteng. Lilin dengan tinggi 2 m dan diameter 50 cm harganya bisa mencapai 9 juta rupiah. Lilin-lilin itu juga diberi aroma agar lebih sedap tercium ketika dibakar.

Menelisik sedikit sejarah Vihara Avalokitesvara dari berbagai sumber, tempat peribadatan ini merupakan peninggalan kerajaan Banten dibangun oleh salah satu raja Banten yang pernah memerintah di tahun 1652 bernama Syeh Syarief Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati. Saat itu Syeh Syarief Hidayatullah menikahi seorang putri Tiongkok bernama Ong Tien Nio.

Syeh Syarief Hidayatullah yang merupakan salah seorang dari Wali Songo, melihat bahwa ada banyak perantau dari Cina yang membutuhkan tempat ibadah. Maka kemudian Sunan Gunung Jati berinisiatif untuk membangun sebuah vihara yang kemudian diberi nama Vihara Avalokitesvara diambil dari nama seorang Buddha yakni Buddha Avalokitesvara.

Menurut cerita, Vihara Avalokitesvara merupakan simbol romantisme dua agama. Sunan Gunung Jati yang menikahi sang putri keturunan Tiong Hoa menyimbolkan persatuan antara dua agama dan dua kebudayaan. Posisinya yang dekat (Vihara dan Masjid) menandakan hubungan harmonis antara etnis Tionghoa dan penduduk setempat yang memeluk Islam. @TRESNA