Menelisik Keindahan & Keunikan Budaya di Batu Lubang Papua

Majalahteras.com – Keindahan Tanah Papua barangkali takkan pernah pudar. Hamparan pegunungan yang hijau dan lautan nan indah dengan flora dan fauna di dalamnya masih terus terjaga. Banyak tempat-tempat indah yang begitu tersohor namanya seperti Raja Ampat.

Lokasi yang satu ini barangkali belum begitu akrab terdengar di telinga para backpaker, Desa Batu Lubang Pantai. Sebuah desa kecil yang berada di Distrik atau Kecamatan Makbon, Kabupaten Sorong, di Papua Barat. Disebut batu lubang, karena di pinggiran pantai desa ini terdapat sebuah batu yang berlubang dan bisa dilewati menggunakan boat kecil.

Desa yang begitu unik, dengan penduduk yang ramah-ramah.  Kaum perempuan menari, sementara laki-lakinya memainkan sejumlah alat musik tradisionalnya.

Gerakan tari diiringi lantunan musik yang dihasilkan dari sejumlah alat musik tradisional seperti tifa, juga  ukulele, dan gitar sangat asik didengar. Siapapun yang mendengarnya seolah terhipnotis untuk ikut menari mengikuti gerakan dan ritme musik.

Selain kekhasan kehidupan warganya, Batu Lubang juga memiliki pantai yang cukup indah. Desa ini juga dibalut lebatnya hutan. Menurut warga, hutan lebat di desa mereka sering dijumpai burung khas Papua, Cenderawasih, juga hewan berkantung Kanguru. Spot air terjun juga tersedia di desa ini.

Papeda dan suami, sajian tradisional khas Papua

Selain keindahan alam yang memanjakan mata, masyarakat di desa Batu Lubang Pantai juga akrab dengan makanan tradisional mereka. Salah satunya adalah Papeda, bubur sagu yang biasanya disajikan dengan kuah ikan tongkol atau mubara.

Bagi masyarakat Batu Lubang, makanan berwarna putih dan bertekstur lengket menyerupai lem ini, masih menjadi salah satu makanan sehari-hari. Meski kini mereka telah mengonsumsi nasi sebagai makanan pokok, Papeda masih menjadi sajian wajib.

Selain papeda, salah satu makanan khas dan unik lainnya adalah Suami. Tak jelas mengapa makanan yang satu ini diberi nama suami. Namun katanya makanan yang satu ini juga berasal dari Ambon.

 “Yang belum ada suami bisa makan, nanti ada suami,” ujar warga Batu Lubang diiringi gelak tawa.

Untuk menuju ke desa ini, membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam dari Kota Sorong dengan menggunakan perahu atau boat kecil. Hanya bisa di akses melalui jalur laut. Sementara jalur darat hanya bisa di akses setengah perjalanan dengan menggunakan sepeda motor. Sisanya harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Tidak perlu khawatir, selama perjalanan suguhan keindahan alam dan pesona laut memanjakan mata. Pesisir pantai yang putih, hutan-hutan lebat yang hijau serta birunya laut membuat siapapun yang melihatnya tak berhenti mengucap syukur dan memuji anugerah Tuhan tersebut.

Jika beruntung, selama perjalanan Anda akan bertemu dengan burung Maleo Waigeo (Aepypodius bruijnii). Salah satu spesies burung endemik Pulau Waigeo, Pupua Barat. Maleo Waigeo merupakan salah satu spesies burung gosong (famili Megapodiidae) yang hidup di Indonesia dan kini telah langka dan terancam punah. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *