Anak Perempuan Lebih Kuat Hadapi Perceraian Orangtua

Anak lelaki, sedari kecil selalu diajarkan untuk menjadi kuat dan tidak cengeng. Sebaliknya, anak perempuan lebih diberikan toleransi mengenai mengekspresikan rasa sedih dengan tangisan.

Ternyata, pola asuh umum tersebut bisa menjadi bumerang ketika pernikahan orangtua karam dan berakhir dengan perceraian.

Studi terbaru di Northwestern University menemukan bahwa reaksi anak lelaki terhadap perceraian lebih negatif, ketimbang anak perempuan.

Perceraian memberikan perubahan besar dalam kehidupan setiap anggota keluarga, terutama anak-anak.

Selain itu, perceraian membutuhkan waktu untuk proses adaptasi dan situasi yang tidak menyenangkan.

Para peneliti menganjurkan, orangtua untuk memberikan banyak perhatian dan waktu untuk anak-anak, terutama anak lelaki.

Penjelasan yang paling masuk akal, menurut peneliti, perceraian menjadi sangat berat dihadapi anak lelaki karena semenjak lahir dan fase tumbuh kembang, mereka tidak terbiasa untuk mengekspresikan kondisi emosional.

Studi pun memperlihatkan presentasi anak perempuan yang tetap berperilaku positif lebih tinggi dibandingkan anak lelaki, dalam menghadapi perceraian orangtua.

Menurut seorang pakar psikologi, Ronald Levant, kenyataan yang tidak seimbang itu terjadi karena banyak orangtua yang membatasi anak lelaki untuk berekspresi sedari usia dini.

Jadi, emosi anak lelaki tumbuh terbiasa tumbuh dengan pengendalian emosional ketimbang mengeskpresikannya ketika menghadapi situasi yang kritis.

Oleh karena itu, Levant pun menyarankan para orangtua untuk mengurangi pola asuh yang membatasi anak lelaki mengekspresikan emosi.

Pasalnya, cara tersebut menyulitkan mereka untuk bertahan dan bisa melalui masalah dalam hidup dengan bijak.

sumber : kompas.com