MAJALAHTERAS.COM – Perjalanan program Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda (KELANA) Edisi tiga bertajuk “Java Overtrip” berlanjut di Banyumas, membawa 13 peserta sekolah menengah atas pada sebuah pengalaman yang membuka wawasan. Bukan sekadar mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat setempat, di sini mereka diajak melihat persoalan sampah dari sudut pandang yang berbeda, menyadari secara langsung bahwa sesuatu yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata masih dapat diolah dan memberikan manfaat nyata.
Pengalaman tersebut mereka dapatkan saat mengunjungi Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Sukoraja dan Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Berbasis Lingkungan dan Edukasi (TPST BLE). Setibanya di lokasi, peserta melihat aktivitas pengelolaan sampah yang berlangsung setiap hari. Sampah yang datang tidak langsung dibuang, melainkan dipilah dan diproses untuk melihat potensi pemanfaatannya kembali.
Muhammad Madani Rafan, siswa SMA Negeri 78 Jakarta, mengaku mendapatkan sudut pandang baru selama mengikuti perjalanan Kelana di Banyumas. Menurutnya, kunjungan ke TPST membuatnya menyadari bahwa sampah harian ternyata dapat diolah menjadi berbagai benda yang berguna.
“Kami di sini belajar ternyata sampah itu bisa didaur ulang, yang mana sampahnya bisa dihasilkan menjadi sesuatu yang bermanfaat. Salah satunya bisa dijadikan paving block, yang kegunaannya buat jalan dan banyak banget. Selain itu, tidak hanya bisa dibuat paving block, tapi juga bisa didaur ulang menjadi genteng, bahan bakar,” ujar Madani.
Rasa penasaran membuat para peserta aktif mengamati proses pemilahan serta mengajukan pertanyaan seputar jenis sampah, metode pengolahan, hingga produk yang dihasilkan. Dari kunjungan ini, mereka mulai memahami bahwa pengelolaan sampah bukan hanya soal membuang pada tempatnya, tetapi juga memberi kesempatan kepada sampah untuk kembali memiliki nilai.
Apa yang disaksikan Madani merupakan bagian dari pendekatan pengelolaan sampah Banyumas yang dilakukan secara berjenjang dari hulu hingga hilir. Di tingkat hulu, masyarakat berperan penting melalui pemilahan sampah dari rumah, didukung penguatan bank sampah dan pemanfaatan teknologi untuk mendorong ekonomi sirkular.
Selanjutnya di tingkat tengah, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) mengolah sampah organik menjadi kompos dan maggot, sementara sampah anorganik diubah menjadi produk seperti paving plastik dan Refuse Derived Fuel (RDF). Pada tahap hilir, hasil olahan tersebut dikembangkan menjadi berbagai produk akhir, mulai dari biomassa atau BBJP, bijih plastik KW-2, paving block, hingga palet lantai.
Koordinator Lapangan TPST BLE Banyumas, Teguh Erutomo, menjelaskan bahwa fasilitas tersebut menerima sampah segar dari berbagai sumber untuk diolah menjadi produk bernilai guna.
“TPST BLE itu adalah Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu Berbasis Lingkungan dan Edukasi. Aktivitas yang dilakukan di TPST BLE Banyumas sendiri adalah pengolahan sampah murni atau sampah fresh yang berasal dari PDU maupun KSM, yang kemudian diolah menjadi RDF ataupun biomassa. Untuk sampah anorganiknya, kita ubah menjadi paving block, sedangkan residunya kita olah menjadi cacahan RDF juga dengan menggunakan mesin crusher. Sementara sisa-sisa organik kita ubah menjadi pelet organik,” jelas Teguh.
Menurut Teguh, kunjungan peserta KELANA menjadi kesempatan yang baik untuk memperkenalkan proses pengelolaan sampah di lapangan secara langsung. Ia berharap pengalaman ini dapat menjadi pembelajaran yang dibawa pulang dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kami berharap kedatangan peserta KELANA ke Banyumas, apa yang disaksikan di sini bisa menjadi pembelajaran,” tutur Teguh.
Selain melihat proses teknisnya, peserta juga menyaksikan kerja para pekerja yang setiap hari memilah dan menangani sampah. Dari sana, mereka melihat bahwa lingkungan yang bersih lahir dari konsistensi dan kerja sama banyak pihak.
Kunjungan ke TPST Sukoraja dan TPST BLE menjadi bagian penting dalam perjalanan KELANA di Banyumas. Peserta melanjutkan perjalanan “Java Overtrip” dengan pemahaman bahwa pengelolaan sampah yang tepat membutuhkan sistem yang terhubung, yang dimulai dari kesadaran di tingkat rumah tangga hingga pengolahan lanjutan di fasilitas terpadu.





