Jakarta, 29 Mei 2026 — Bencana hidrometeorologi di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara menyebabkan gangguan besar pada layanan pendidikan. Kemendikdasmen mencatat 4.922 satuan pendidikan terdampak, dengan lebih dari 707 ribu siswa serta puluhan ribu guru dan tenaga kependidikan ikut terdampak.
Untuk mempercepat pemulihan, pemerintah menjalankan program revitalisasi sekolah, pembangunan ruang kelas darurat, serta bantuan bagi GTK.
Hingga 25 Mei 2026, sebanyak 3.101 sekolah telah menandatangani kerja sama revitalisasi dengan nilai Rp2,9 triliun. Dari jumlah itu, 3.033 sekolah sudah menerima pencairan tahap awal sebesar Rp2 triliun.
Pelaksanaan di lapangan terbagi dua, yakni swakelola oleh sekolah sebanyak 2.834 unit, serta 267 sekolah rusak berat atau relokasi yang ditangani TNI AD. Masih ada 68 sekolah dalam proses pencairan.
Dari progres pembangunan, 28 sekolah telah mencapai lebih dari 70 persen, sementara ribuan lainnya masih dalam tahap awal. Pemerintah menargetkan sebagian sekolah dapat selesai sebelum tahun ajaran baru 2026/2027.
Selain itu, bantuan untuk 59.270 GTK juga telah disalurkan, dengan lebih dari 52 ribu penerima sudah menerima bantuan.
Di Aceh Tamiang, revitalisasi SLBN Pembina terus berjalan dengan progres 24,4 persen setelah sebelumnya terdampak banjir besar. Proses belajar tetap berlangsung menggunakan ruang darurat.
Sementara di Pidie Jaya, pembangunan SMK Ummul Ayman telah mencapai sekitar 29 persen dan masih memanfaatkan gedung sementara untuk kegiatan belajar.
Pemerintah menegaskan pemulihan ini tidak hanya fokus pada bangunan, tetapi juga memastikan kegiatan belajar tetap berjalan aman hingga sekolah kembali normal.





