Salat Iduladha di Paris
Takbir, tahmid, dan tahlil itu bergema. Terdengar khusyuk dan khidmat. Serangkaian kalimah tayyibah ini meluncur di bawah langit musim semi yang lembut dan panjang. Suasana memang sedang menuju akhir musim semi dan awal musim panas.
Pagi-pagi, kota mode dan museum ini belum benar-benar sibuk. Serangkaian kalimah tayyibah mulai mengalun dari Wisma Indonesia, Paris (Prancis), tempat masyarakat muslim Indonesia dan diaspora beribadah Iduladha 1447 H/2026 M.
Udara musim semi akhir terasa ringan, membawa aroma rumput basah dan kopi dari kafe-kafe kecil yang baru memajang kursinya di trotoar. Lama matahari lebih panjang. Langit sering biru terang. Udara sejuk – hangat sekitar 18 – 25 derajat Celsius. Pohon chestnut dan maple sudah hijau penuh. Taman dipenuhi bunga. Di pagi hari, burung-burung kecil ramai berkicau mendendangkan kebebasan
Di kejauhan, burung-burung gereja terbang melintas langit kota tua ini. Takbir, tahmid, dan tahlil menggema pelan di antara bangunan batu berwarna krem. Timur Tengah, Nusantara, dan Eropa, saat itu seakan sedang duduk semeja di pagi yang sama.
Presiden Prabowo Subianto datang mengenakan setelan gelap dan peci hitam, menjelang salat Iduladha, pukul 08.40 waktu setempat (27/05/26). Presiden berjalan kaki, disambut gema takbir jamaah, diiringi desir angin Sungai Seine dan suara camar kecil yang kadang memotong langit.
Imam/khatib Iduladha 1447 itu, Fakhrudin Ar-Rozy, dosen Universitas Muhammadiyah Lamongan (Jawa Timur), lulusan S-2 Universitas Islam Internasional Islamabad, Pakistan.
Pesan Imam/Khatib, sebagaimana dikutip Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, “Bahwa Iduladha merupakan hari raya yang mengandung dimensi ketuhanan sekaligus kemanusiaan. Ia mengingatkan bahwa ibadah kurban tidak hanya menjadi simbol kepatuhan kepada Allah, tetapi juga ajakan untuk berbagi, menjaga identitas keislaman, meneguhkan keluarga, serta memperkuat persatuan, khususnya bagi umat Islam yang hidup sebagai diaspora di negeri orang”
Di halaman tempat salat, orang-orang Indonesia dan diaspora saling bersalaman, diiringi doa tahniah “taqabbalallahu minna wa minkum.” Anak-anak kecil berlari membawa balon merah-putih. Sebagian warga lokal Kota Paris berhenti sebentar, memandang keramaian dengan rasa ingin tahu.
Lebih Enak dari Menu MBG Kita
Pagi itu, warga sebuah kampung sulit menyembunyikan kegembiraan. Tahun ini, ada sapi super besar, gemuk, dan sehat. Anak-anak ingin lebih dekat dengan sapi kurban dari Presiden. Bagi mereka, hari itu berarti dapur akan mengepul dengan aroma daging. Anak-anak tak selalu menemukannya setiap hari.
Di bawah langit Zulhijah yang cerah, suara takbir bersahutan dari pengeras suara masjid. Beberapa warga memandangi sapi itu dengan mata berbinar. Anak-anak memotretnya dengan telepon genggam. Selfie. Ada yang tertawa, ada yang bercanda soal sate, gulai, dan rendang.
Orang sekampung akan mendapatkanya, baik anak-anak maupun orang dewasa. Panitia bentukan Pak Kades sudah siap mengelola kebahagiaan bersama daging hewan kurban dari Presiden itu.
“Kita bisa makan lebih enak, bahkan jauh lebih enak dari 100 porsi MBG yang kita peroleh setiap hari,” canda mereka, tertawa lepas. Kalimat sederhana ini terdengar biasa. Namun, di balik kampung yang rindang dan tanpa polusi udara itu, ada cerita panjang tentang harga sembako yang meroket, penghasilan yang pas-pasan, dan meja makan yang lebih sering diisi lauk pauk biasa. Maka, Iduladha hari itu punya rasa dan nuanasa yang berbeda.
Asap pembakaran sate mulai naik sejak siang. Bau daging yang dibakar bercampur arang memenuhi ruangan. Anak-anak mondar-mandir membawa tusukan sate sebelum matang. Di dapur yang amat sangat sederhana, yang tak sebagus dapur MBG, ibu-ibu sibuk meracik sambal kecap atau bumbu kacang.
Para remaja meniup bara sambil tertawa, sambil bercerita tentang esok hari. Di sini, tentu tak ada restoran mewah. Tak ada meja mahal. Tak ada peredaran dolar pula. Namun, kebahagiaan Iduladha itu terasa utuh. Presiden Prabowo, boleh jadi, akan lebih bersemangat menyediakan hewan kurban untuk tahun-tahun berikutnya, dan ingin beradaptasi dengan kebahagiaan mereka.
Di teras rumah, orang-orang duduk lesehan menikmati sate renyah dan hangat dengan lontong atau nasi putih. Dagingnya empuk dan nikmat, Cukup membuat semua merasa istimewa.
Bagi mereka, sesungguhnya, kurban bukan sekadar soal daging.
Ia adalah rasa yang diperhatikan. Rasa menjadi bagian dari bangsa yang besar.
Rasa bahwa di tengah hidup yang keras ini masih ada hari ketika anak-anak bisa makan kenyang dan bergizi.
Ketika malam turun perlahan di kampung itu, aroma sate renyah masih tertinggal di udara. Ada tawa warga yang sederhana dan bahagia. Mereka, satu rasa, satu usaha, dan satu suara tentang peerhatian kepada rakyat. Presiden Prabowo jauh di sana, di Prancis, tetapi kebahagiaan warga sekampung itu akan sampai pula ke telinganya, melalui
Tidak Sah, Tetapi Halal
Dari layar ponsel, para ustaz di kampung itu tahu, sapi premium ini bagian dari 1.098 hewan kurban, yang disalurkan ke 552 daerah, dalam 38 provinsi. Tegas disebutkan, sumber dana hewan kurban ini berasal dari APBN, seluruhnya sekitar Rp100 miliar.
Para ustaz membaca, Wakil Menteri Sekretaris Negara, Juri Ardiantoro, dalam keterangan pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Ibu Kota Jakarta, menyampaikan arahan Presiden, agar sapi kurban itu dimanfaatkan sebesar-besarnya. Para ustaz juga tahu, Pak Wakil Menteri ini ternyata mereka kenal, sebab pernah berkunjung ke kampung ini saat jadi ketua KPU Pusat (2016 – 2017).
Namun, tahukah Anda, di balik kebahagiaan Iduladha dengan hewan kurban sapi, di kampung itu, ada hati yang gelisah, sedang tak baik-baik saja. Bukan karena tak mendapat hewan kurban, atau tak suka melihat orang-orang bergembira makan sate renyah, melainkan ada nama yang tertukar : dari pesta sapi jadi ibadah kurban. Keduanya berbeda, karena punya cara dan ciri masing-masing.
Di sebuah sudut masjid kampung itu, beberapa ustaz memang tampak dingin. Wajah-wajah yang seperti menyembunyikan sesuatu, dan memang sesuatu itu harus dibunyikan. Dari sunyi ke bunyi.
Di hadapan mereka ada kitab klasik Islam. Fikih kurban Iduladha sudah tuntas dibahas. “Kesimpulan kita, berdasarkan kajian hukum, sudah jelas,” seorang ustaz memecah senyap. “Kurban itu, ibadah perorangan, berasal dari dana pribadi. Satu orang, satu ekor kambing atau domba. Sapi, kerbau, atau unta, untuk tujuh orang, Hadisnya sahih,” sambung ustaz yang lain.
“Jadi, namanya bukan ibadah kurban kalau memang uangnya bersumber dari sebuah badan atau sebuah perkumpulan,” sambung ustaz yang lain. “Termasuk uangnya kalau bersumber dari APBN misalnya?” kata ustaz yang lain. “Benar!,” tegas ustaz.
“Hati kita gelisah sebetulnya di tengah-tengah kegembiraan warga kampung ini,” sambung ustad yang lain. “Hewannya memenuhi syarat untuk kurban, tetapi tak sah jadi kurban kalau bukan dari perorangan dan biaya pribadi. Mungkin jadi sedekah saja. Namun, dagingnya, halal, ” tambah ustaz.
Kalau bukan kurban, dan oleh karena bersumber dari APBN, yang artinya berasal dari dana publik, maka namanya boleh saja “Bantuan Kemasyarakatan Presiden RI”, “Program Bantuan Sosial Keagamaan Pemerintah RI”, dan lain-lain;
Tentu saja, tak harus selalu disalurkan persis pada saat Iduladha. Program-program ini bisa pula nanti jadi pesta sapi dari Istana di kalangan masyarakat yang membutuhkan. Bantuan itu memang tak harus selalu berbentuk hewan.
Kegelisahan para ustad di kampung ini akhirnya terobati juga. Hasil kajian mereka ternyata banyak persamaannya dengan hasil kajian dan pengajian lain, seperti yang beredar di media sosial.
Kata seorang ustaz, “Saya baca, ustaz dari PERSIS, Dr. K.H. Jeje Zaenudin, M.Ag. mengingatkan bahwa kurban itu ta’ abbudi”. Menurut Dr Jeje pula, kata Ustaz itu lagi, syariat kurban diatur oleh Al-Qur’an dan As-Sunnah, juga fatwa fikih para ulama.
Ustaz ini mengutip lagi keterangan Ustaz Jeje, “Bantuan sosial atau keagamaan untuk masyarakat boleh diatur oleh Istana. Kurban tidak disyariatkan kepada lembaga atau instansi mana pun.”. Namun, beliau tak menyebutnya bid’ah.
Kurban atau Sedekah Daging?
Di sebuah grup WA para doktor dan guru besar, terdiri dari anggota PERSIS struktural dan kultural, ada perdebatan tentang status hewan kurban Presiden Prabowo sekarang ini : sah atau tidak sah. Semua punya hujjah masing-masing.
Dr. Robi Permana, yang ikut berdiskusi, akan mencatatnya jadi materi sidang Dewan Hisbah. Kata anggota Tim Kesekretariatan Dewan Hisbah ini, “Saya catat dulu untuk bahan sidang Dewan Hisbah”. Fokus sidang, boleh jadi, sapi yang berasal dari Istana itu : kurban atau sedekah daging? (Dean Al-Gamereau)





