Dari Dibantu Menjadi Mandiri: Membangun Ekosistem Ekonomi Pesantren

oleh
oleh

Oleh: Dr. KH. Anang Azharie Alie, M.Pd.

Ada satu persoalan yang perlu kita renungkan bersama dalam membangun kemandirian ekonomi pesantren. Banyak pesantren sebenarnya tidak sulit membangun unit-unit usaha. Tanah tersedia, sumber daya manusia ada, santri dan alumni cukup banyak, bahkan modal dan bantuan pun relatif mudah diperoleh. Konveksi bisa dibangun, bakery bisa didirikan, koperasi bisa dibentuk, pertanian bisa dikembangkan, peternakan bisa dimulai.

Namun persoalannya sering muncul setelah itu:

Bagaimana mengelolanya agar tumbuh?
Bagaimana membuatnya profesional?
Bagaimana memperluas pasarnya? Dan bagaimana menjadikannya sebagai sumber kekuatan ekonomi yang berkelanjutan?

Di sinilah letak persoalan yang sesungguhnya.

Pesantren kadang berhasil membangun usaha, tetapi belum berhasil membangun ekosistem usaha.

Padahal, memiliki mesin bukan berarti memiliki industri. Memiliki produk bukan berarti memiliki pasar. Memiliki modal bukan berarti memiliki kemandirian.

Kemandirian ekonomi membutuhkan lebih dari sekadar aset dan modal. Ia membutuhkan manajemen, profesionalisme, produktivitas, pemasaran, distribusi, jaringan, dan keberanian untuk terus berkembang.

Dibantu karena Maju, Bukan Maju karena Dibantu

Ada sebuah prinsip yang menarik untuk dijadikan filosofi dalam membangun ekonomi pesantren:

“Dibantu karena maju, bukan maju karena dibantu.”

Kalimat ini bukan berarti pesantren tidak boleh menerima bantuan. Justru sebaliknya, bantuan adalah bagian dari taawun dan kepedulian umat.

Tetapi bantuan hendaknya menjadi akselerator, bukan menjadi mesin utama kehidupan pesantren.

Pesantren yang sehat secara ekonomi bukanlah pesantren yang tidak pernah dibantu, melainkan pesantren yang tidak berhenti bergerak ketika bantuan berhenti datang.

Bantuan seharusnya mempercepat langkah, bukan menjadi alasan untuk mulai melangkah.

 

Karena itu:

Jangan menjadikan bantuan sebagai sumber kehidupan, jadikan bantuan sebagai sumber pertumbuhan.

Atau dalam kalimat yang lebih sederhana:

Bantuan boleh menjadi bahan bakar, tetapi mesin kemandirian harus tetap berada di dalam pesantren sendiri.

Jangan Meminta-Minta Bantuan, Tetapi Jika Dibantu Jangan Ditolak

Ada pula prinsip lain yang menurut saya sangat penting:

“Jangan meminta-minta bantuan, tetapi jika dibantu jangan ditolak.”

Pesantren harus memiliki harga diri dalam membangun kehidupannya.

Artinya, pesantren jangan membangun budaya ketergantungan dengan selalu menunggu:

“Siapa yang akan membantu kita?”

Pertanyaan yang lebih tepat adalah:

“Apa yang bisa kita lakukan dengan apa yang sudah kita miliki?”

Jika ada tanah, produktifkan tanah.

Jika ada santri, kembangkan keterampilannya.

Jika ada alumni, bangun jaringannya.

Jika ada mesin, operasikan.

Jika ada pasar, layani dengan profesional.

Jika ada ilmu, ubah menjadi nilai.

Jika ada wakaf, kelola secara produktif.

Jika ada bantuan datang, terima dengan rasa syukur dan kelola dengan penuh tanggung jawab.

Jadi, pesantren tidak menunggu bantuan untuk bergerak.

Pesantren bergerak terlebih dahulu, bantuan kemudian memperbesar gerakannya.

Dari Mesin Menjadi Nilai

Dalam konteks ini, pengalaman Al-Mizan menarik untuk dijadikan contoh.

Ketika mendapatkan bantuan berupa mesin-mesin jahit untuk konveksi, peralatan produksi roti, dan berbagai sarana usaha lainnya, bantuan tersebut tidak berhenti sebagai barang yang disimpan.

Mesin digunakan.

Produksi berjalan.

Produk dihasilkan.

Kegiatan ekonomi tumbuh.

Manfaatnya mulai dirasakan.

Di sinilah kita melihat bahwa bantuan dapat berubah menjadi nilai produktif apabila berada di tangan lembaga yang memiliki kemauan untuk bekerja.

Namun masih ada satu persoalan yang perlu diperkuat:

Marketing.

Produk sudah dibuat, tetapi pasarnya belum meluas.

Produksi sudah berjalan, tetapi distribusi belum maksimal.

Barang sudah tersedia, tetapi belum seluruh umat mengetahui dan menggunakannya.

Maka tantangan berikutnya bukan lagi:

“Bagaimana mendapatkan mesin?”

Tetapi:

“Bagaimana membuat produk ini sampai kepada konsumen?”

Inilah tahap ketika pesantren harus bergerak dari production oriented menuju market oriented.

Pesantren Tidak Boleh Hanya Menjadi Produsen, Tetapi Harus Menjadi Pemilik Pasar

Sering kali kita terlalu bangga ketika pesantren mampu memproduksi sesuatu.

Padahal dalam dunia usaha, kemampuan memproduksi hanyalah separuh perjalanan.

Separuh lainnya adalah kemampuan menjual.

Produk yang bagus tetapi tidak dikenal pasar akan tetap menjadi produk yang tidak berkembang.

Karena itu, pesantren membutuhkan Marketing Center, bukan hanya Production Center.

Orang yang pandai menjahit belum tentu pandai menjual.

Orang yang pandai membuat roti belum tentu pandai membangun merek.

Orang yang pandai bertani belum tentu menguasai distribusi.

Maka diperlukan tenaga profesional yang menguasai:

branding, digital marketing, marketplace, sales, distribusi, customer service, fotografi produk, konten digital, dan jaringan bisnis.

Pesantren harus belajar satu hal penting:

“Jangan hanya

memproduksi barang:
bangunlah pasar untuk
barang yang diproduksi.”

Dari Unit Usaha Menuju Ekosistem Ekonomi

Kemandirian tidak akan lahir dari satu unit usaha yang berjalan sendirian.

Ia membutuhkan ekosistem.

Bayangkan sebuah jaringan pesantren yang saling membutuhkan.

Pesantren A memiliki konveksi.

Pesantren B memiliki bakery.

Pesantren C memiliki pertanian.

Pesantren D memiliki percetakan.

Pesantren E memiliki usaha digital.

Masing-masing tidak berjalan sendiri-sendiri.

Mereka saling membeli, saling menjual, saling memasarkan, dan saling menguatkan.

Inilah yang disebut:

Ekosistem Ekonomi Pesantren.

Alumni bukan hanya menjadi donatur.

Alumni dapat menjadi:

reseller, distributor, investor, konsumen, pemasok, mitra bisnis, bahkan pembuka pasar.

Wali santri bukan hanya sumber pembayaran pendidikan.

Mereka juga dapat menjadi bagian dari jaringan konsumen dan distribusi.

Masyarakat sekitar bukan hanya penerima manfaat.

Mereka dapat menjadi bagian dari rantai produksi dan pemasaran.

Dengan demikian, pesantren tidak hanya mempunyai unit usaha, tetapi mempunyai sistem ekonomi yang hidup.

Jangan Semua Pesantren Menjadi Pengusaha yang Sama

Ada filosofi lain yang perlu diperhatikan:

Tidak semua orang harus menjadi pedagang yang sama, dan tidak semua pesantren harus memiliki usaha yang sama.

Jangan sampai setiap pesantren ingin memiliki:

konveksi, bakery, peternakan, pertanian, percetakan, laundry, koperasi, toko, dan berbagai usaha sekaligus.

Akhirnya semua ada, tetapi tidak ada yang menjadi besar.

Lebih baik setiap pesantren menemukan keunggulan ekonominya masing-masing.

Ada pesantren yang unggul dalam pertanian.

Ada yang kuat di peternakan.

Ada yang ahli konveksi.

Ada yang unggul dalam bakery.

Ada yang memiliki kekuatan percetakan.

Ada yang mempunyai SDM digital.

Kemudian semuanya dihubungkan dalam satu jaringan.

Kekuatan pesantren bukan terletak pada keseragaman usahanya, tetapi pada kemampuan menghubungkan keunggulannya.

Bantuan Harus Berubah Menjadi Kekuatan

Karena itu, paradigma bantuan juga harus diubah.

Jangan berhenti pada:

“Memberikan mesin kepada pesantren.”

Tetapi harus sampai pada:

“Membangun perusahaan sosial yang hidup di dalam pesantren.”

Setiap bantuan idealnya mempunyai lima mata rantai:

Aset = SDM – Produksi — Pasar – Keuntungan

Kemudian:

Keuntungan – Reinvestasi + Pertumbuhan – Kemandirian – Kemanfaatan

Dengan demikian, bantuan satu kali dapat menghasilkan manfaat berkali-kali.

Sebuah mesin jahit tidak lagi hanya bernilai sebagai mesin.

Ia menjadi:

lapangan kerja — keterampilan — produk — omzet — keuntungan —

pendidikan = pemberdayaan – kesejahteraan.

Di situlah bantuan menemukan makna tertingginya.

Kemandirian Bukan Berarti Tidak Membutuhkan Orang Lain

Ini juga perlu diluruskan.

Kemandirian bukan berarti berdiri sendiri tanpa membutuhkan siapa pun.

Manusia memang makhluk yang saling membutuhkan.

Pesantren membutuhkan umat.

Umat membutuhkan pesantren.

Pesantren membutuhkan alumni.

Alumni membutuhkan pesantren.

Pesantren membutuhkan pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan berbagai mitra.

Yang harus dihindari bukan ketergantungan kepada orang lain, tetapi ketidakmampuan untuk bergerak tanpa bantuan orang lain.

Maka:

Mandiri bukan berarti tidak dibantu.

Mandiri berarti mampu tetap berjalan ketika bantuan belum datang.

Dan ketika bantuan datang:

diterima dengan syukur, dikelola dengan amanah, dikembangkan dengan profesional, dan dikembalikan manfaatnya kepada umat.

Dari Pesantren yang Dibantu Menuju Pesantren yang Memberdayakan

Pada akhirnya, cita-cita kemandirian ekonomi pesantren bukan sekadar agar pesantren memiliki uang.

Tujuannya jauh lebih besar.

Pesantren yang kuat secara ekonomi akan memiliki ruang yang lebih luas untuk:

– meningkatkan kualitas pendidikan:

– memberikan kesejahteraan kepada guru dan karyawan:

– mengembangkan fasilitas:

– memberikan beasiswa,

– membuka lapangan pekerjaan:

– memberdayakan masyarakat:

– membangun usaha baru;

– dan melahirkan santri yang memiliki jiwa kewirausahaan.

Maka arah perjuangannya harus berubah:

Dari menerima bantuan menjadi mengelola bantuan.

Dari mengelola bantuan menjadi membangun usaha.

Dari membangun usaha menjadi membangun ekosistem.

Dari membangun ekosistem menjadi membangun kemandirian.

Dan akhirnya:

Dari pesantren yang dibantu umat, menjadi pesantren yang mampu memberdayakan umat.

Itulah sesungguhnya makna kemandirian ekonomi pesantren.

Dan sebuah prinsip terakhir layak kita tanamkan:

“Jangan menunggu kuat untuk mandiri. Bangunlah kemandirian agar menjadi kuat.”

No More Posts Available.

No more pages to load.