Oleh: Dr. KH. Anang Azharie Alie, M.Pd.
(Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Mizan 1,2,3 Banten)
Menjadi seorang pemimpin, terlebih memimpin institusi sebesar Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) sebagai Kapolri, tentu bukanlah sebuah perjalanan yang selalu nyaman. Ada saatnya seorang pemimpin bekerja dalam suasana yang tenang, mendapat dukungan, berjalan tanpa banyak rintangan dan hambatan. Namun ada pula saatnya ia harus menghadapi persoalan, tekanan, kritik, perbedaan pandangan, bahkan fitnah.
Itulah dinamika kepemimpinan.
Nyaman ketika jalan terbuka. Tidak nyaman ketika jalan penuh duri. Tetapi seorang pemimpin sejati tidak boleh hanya kuat ketika keadaan nyaman; ia harus tetap teguh ketika keadaan tidak nyaman.
Allah SWT telah mengingatkan:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.”
(QS. Al-Insyirah: 5–6)
Ayat ini mengajarkan bahwa kesulitan bukanlah tanda bahwa seseorang berada di jalan yang salah. Kesulitan justru sering menjadi bagian dari proses penguatan diri dan pembuktian kualitas kepemimpinan.
Pemimpin Tidak Boleh Takut pada Rintangan
Seorang pemimpin tidak mungkin menyenangkan semua orang. Sebaik apa pun kebijakannya, pasti ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Sebagus apa pun langkahnya, pasti ada yang mendukung dan ada yang mengkritik.
Karena itu, pemimpin tidak boleh menjadikan pujian sebagai ukuran keberhasilan dan tidak boleh menjadikan celaan sebagai ukuran kegagalan.
Yang harus menjadi ukuran adalah:
Apakah kebijakan itu benar? Apakah keputusan itu adil? Apakah dilakukan dengan ikhlas? Apakah membawa kemaslahatan bagi masyarakat? Dan apakah dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT?
Rasulullah SAW bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah hakikat kepemimpinan dalam Islam: jabatan bukan sekadar kehormatan, tetapi amanah dan pertanggungjawaban.
Jangan Mundur Hanya Karena Fitnah
Salah satu ujian terberat seorang pemimpin bukanlah banyaknya pekerjaan, tetapi ketika niat baiknya disalahpahami, kebijakannya dipelintir, bahkan dirinya menjadi sasaran fitnah.
Dalam keadaan seperti itu, seorang pemimpin harus belajar dari para nabi dan orang-orang saleh. Mereka tidak selalu mendapatkan penghormatan ketika menjalankan kebenaran. Bahkan sebagian dari mereka mendapatkan penolakan, tuduhan, dan perlakuan yang tidak adil.
Allah SWT berfirman:
وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
“Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamulah yang paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang beriman.”
(QS. Ali ‘Imran: 139)
Seorang pemimpin tidak boleh membalas fitnah dengan fitnah, kebencian dengan kebencian, atau kedzaliman dengan kedzaliman.
Tetaplah tenang. Tetaplah bekerja. Tetaplah menjaga kehormatan.
Sebab kebenaran tidak selalu membutuhkan pembelaan dengan suara keras. Kadang-kadang kebenaran cukup dibuktikan dengan integritas, keteladanan, konsistensi, dan waktu.
Ketika Tidak Nyaman, Justru Di Situlah Karakter Diuji
Pemimpin yang hanya mampu bekerja ketika keadaan nyaman belum tentu pemimpin yang kuat.
Karakter kepemimpinan justru terlihat ketika ia berada dalam keadaan sulit.
Ketika dikritik, apakah ia tetap rendah hati?
Ketika dipuji, apakah ia tetap tawadhu’?
Ketika difitnah, apakah ia tetap sabar?
Ketika memiliki kekuasaan, apakah ia tetap adil?
Ketika memiliki kesempatan membalas, apakah ia mampu menahan diri?
Di situlah kualitas seorang pemimpin diuji.
Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
“Orang yang kuat bukanlah orang yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kekuatan seorang pemimpin bukan hanya terlihat dari kewenangannya untuk memerintah, tetapi dari kemampuannya mengendalikan diri ketika memiliki kekuasaan.
Kepemimpinan Membutuhkan Dua Kecerdasan
Seorang pemimpin, khususnya pemimpin institusi publik, membutuhkan sekurang-kurangnya dua kecerdasan: kecerdasan intelektual dan kecerdasan spiritual.
Kecerdasan intelektual membuat pemimpin mampu membaca persoalan, menganalisis keadaan, mengambil keputusan, menyusun strategi, dan menyelesaikan masalah secara tepat.
Sedangkan kecerdasan spiritual membuat pemimpin sadar bahwa di atas dirinya masih ada kekuasaan Allah SWT.
Dengan kecerdasan intelektual, ia mampu berkata:
“Saya harus mengambil keputusan yang tepat.”
Dengan kecerdasan spiritual, ia mampu berkata:
“Saya harus mengambil keputusan yang benar dan diridai Allah.”
Karena itu, pemimpin tidak cukup hanya cerdas, tetapi juga harus berintegritas.
Tidak cukup hanya berani, tetapi juga harus berakhlak.
Tidak cukup hanya tegas, tetapi juga harus adil.
Tidak cukup hanya berkuasa, tetapi harus mampu menahan diri dari penyalahgunaan kekuasaan.
Jangan Mengejar Kenyamanan, Kejarlah Kebenaran
Ada kalanya seorang pemimpin tergoda untuk memilih jalan yang paling nyaman: menghindari persoalan, menghindari kritik, mengikuti arus, atau mengambil keputusan yang paling aman bagi dirinya sendiri.
Padahal kepemimpinan bukanlah seni mencari kenyamanan pribadi.
Kepemimpinan adalah keberanian memikul amanah, sekalipun amanah itu berat.
Jika sebuah keputusan benar dan maslahat, lakukan dengan penuh tanggung jawab meskipun tidak semua orang menyukainya.
Jika sebuah kebijakan harus diperbaiki, akuilah dengan rendah hati.
Jika ada kesalahan, jangan mencari kambing hitam.
Jika ada keberhasilan, jangan mengambil semua pujian.
Karena pemimpin yang baik tidak bertanya:
“Bagaimana agar saya terlihat hebat?”
Tetapi bertanya
“Bagaimana agar masyarakat mendapatkan manfaat?”
Untuk Kapolri dan Para Pemimpin
Kepada siapa pun yang sedang memegang amanah kepemimpinan, termasuk Kapolri dan seluruh jajaran pimpinan POLRI:
Jangan takut pada rintangan. Jangan patah karena kritik. Jangan goyah karena fitnah. Jangan terlena karena pujian.
Berjalanlah dengan ilmu.
Bekerjalah dengan profesionalitas.
Memimpinlah dengan ketegasan.
Bersikaplah dengan akhlak.
Putuskanlah dengan keadilan.
Dan sandarkanlah semuanya kepada Allah SWT.
Sebab pada akhirnya, jabatan akan berakhir, pangkat akan ditinggalkan, fasilitas akan berlalu, dan pujian manusia akan berhenti.
Yang akan tetap tinggal adalah amal dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.
Maka ketika jalan terasa berat, katakanlah:
“Saya tidak sedang mencari kenyamanan. Saya sedang menjalankan amanah.”
Ketika datang fitnah, katakanlah:
“Allah Maha Mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”
Ketika menghadapi tekanan, katakanlah:
“Hasbunallahu wa ni’mal wakil.”
Dan ketika memperoleh keberhasilan, katakanlah:
“Alhamdulillah, ini bukan semata-mata karena kekuatan saya, tetapi karena pertolongan Allah.”
Karena sesungguhnya pemimpin yang hebat bukanlah pemimpin yang hidupnya selalu nyaman.
Pemimpin yang hebat adalah pemimpin yang tetap teguh ketika keadaan tidak nyaman, tetap adil ketika berada di bawah tekanan, tetap rendah hati ketika berada di puncak kekuasaan, dan tetap takut kepada Allah ketika manusia memberikan kekuasaan kepadanya.
Jabatan adalah kehormatan.
Kepemimpinan adalah amanah.
Pengabdian adalah ibadah.
Dan pertanggungjawaban terakhir adalah di hadapan Allah SWT.
Kairo, Selasa 6/10/2026





