(Bagian Ketiga dari Empat Tulisan)
Namanya, Pinah. Kulitnya putih bersih semurni kasih.Bibirnya merah, lumrah sebagaimana gadis seusianya di tengah rimbunnya Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Di beranda rumahnya, di Kampung Kaduketug, gadis berusia 15-an tahun ini asyik menenun, sebuah keterampilan turun-temurun dari orang tuanya.
Satu lembar kain selesai ditenun rata-rata lima hari. Bisa laku dijual puluhan ribu rupiah, atau bahkan ratusan ribu rupiah. Tempat penjualan dan promosinya cukupdi beranda rumah.
“Lima hari, baru selesai,” kata Pinah, tersenyum, dan kedua tangan lembutnya terus mengayun tenun. Perempuan berambut hitam legam amat panjang ini hanya menggelengkan kepala ketika ditanya tentang sekolah.
Pinah punya telepon genggam?Lagi-lagi, perempuan berkebaya adat Badui ini menggelengkan kepala, padahal banyakanak-anak muda setempat yang sudah memilikinya. Pinah tak memiliki kecakapan literasi teks, tetapi kaya dengan kecakapan literasi nonteks.
Pinah hanyalah satu sosok dari sekian sosok perempuan penghuni Desa Kanekes. Masih banyak Pinah yang lain, di seberang sana, yang juga produktif menenun kain khas adat Badui. Mereka jadi pengusaha, di samping suami mereka sibuk bertani huma di atas bukit.
Perempuan pengusaha dari kalangan masyarakat adat Badui, tampaknya, semakin banyak. Mereka menjajakan aneka oleh-oleh atau cendera mata tradisional masyarakat adat Badui – yang mereka produksi sendiri.
Cukup digelar di serambi rumah, dan selalu nyaris ada di setiap rumah. Jadilah Kampung Kaduketug sebagai pasar tradisional. Mereka jadi perempuan pencari nafkah pula. Mereka berbisnis sambil mengasuh anak, atau sambil memasak di dapur. Inilah rutinitas mereka, dari hari ke hari, di tengah rimbunnya Desa Kanekes.
Lalu, dari mana mereka belajar menenun dengan hasil yang cukup baik, seperti hasil seorang lulusan sekolah keterampilan? Dari mana pula mereka terampil membuat kerajinan tangan dengan hasilnya yang antik dan menarik? Dari orang tua!
Rumah yang terbuat dari kayu dan bambu itu, dengan atap ijuk berderet, dan tanpa penerangan lampu listrik PLN, berfungsi pula sebagai “sekolah” tempat mereka belajar.
Kalau Pemerintah memberi hadiah gedung sekolah atau tempat kursus keterampilan, pasti akan mereka tolak. Oleh karena itu, sampai kini, satu-satu desa yang tanpa gedung sekolah, se-Provinsi Banten, pastilah Desa Kanekes. .
Dari mana pula anak muda Desa Kanekes belajar menanam padi huma di atas bukit? Mereka belajar di alam terbuka, dari orang tua masing-masing, melalui kaderisasi langsung di lapangan.Sama sekali mereka tak mengenal teori dari buku, atau dari guru di kelas. Semua dari alam terbuka, dari luar ruang kelas yang beratap langit dan belantai hamparan tanah adat yang subur
Anak Muda dan WI-FI
Kalau saja wireless fidelity (WI-FI) gratis hadir di Desa Kanekes, boleh jadi, pengguna telepon genggam akan melonjak. Di desa yang terletak di kaki Gunung Kendeng itu kini sudah hadir kios pulsa.Pembelinya, terutama anak-anak muda desa setempat yang memang sudah sangat akrab dengan telepon genggam.
Kini, anak mudaBadui Luar itu semakin banyak yang pandai menulis dan membaca, padahal resminya, sekolah masih belum diizinkan oleh para pemuka adat. Belajar di mana dan belajar dari siapa? Terutama sekarang ini, mereka “berguru” pada telepon genggam, sampai asyik menulis dan membaca pesan. Mereka pun punya jajanan baru : pulsa.
Cepat atau lambat, terasa atau tak terasa, desa yang jauh dari mesin kota dan polusi udara itu akhirnya tembus pula dengan introduksi dan teknologi. Kini, telepon genggam jadisalah satu introduksi yang paling kuat menembus dinding “tembok” teu wasa (pantang) di Desa Kanekes.
Cara pandang dan ciri pandang anak muda Desa Kanekes, tampaknya, sudah jauh meninggalkan cara pandang dan ciri pandang orang tua mereka. Anak muda seakan menemukan kehidupan baru melalui introduksi dan penetrasi budayanirkabel.The Information Age telah kian dahsyat merambah ke balik gunung dan bukit.
Anak muda setempat belum berani menghadirkan sepeda motor untuk membelah belukar atau menyusuri jalan setapak, atau sekadar untuk memikat seorang gadis/ Kedua pasang kaki, yang tanpa alas kaki itu, masih terlalu kuat untuk melangkah. Mereka tak membutuhkan sepatu atau sandal ber-merk apa pun.
Pada akhirnya, gedung sekolah, jalan beraspal, penerangan listrik PLN, dan kebutuhan lain zaman sekarang, di Desa Kanekes, mungkin kelak bukan hal yang mustahil lagi. Mungkin pula, akan lahir The New Baduiyang terbuka, tetapi tetap sinergi dan harmoni dengan budaya setempat.
Atau, biarkan Desa Kanekes tanpasemua itu, tanpa modernisasi dan teknologi, tetapi tetap jadi tempat belajar, jadi |”sekolah alam” dengan “lulusannya” yangcerdas-cerdas nonteks.
Kalau mereka butuh ijazah?Oh, bisa menyeberang ke desa di sebelah sana, bisa mengikuti ujian kesetaraan Paket A (SD), Paket B (SMP), atau Paket C (SMA). Ijazahnya asli (Dean Al-Gamereau)





