Lewat “BK Penuh Cinta”, MTsN 1 Pangandaran Bangun Layanan Ramah Anak

oleh
oleh

MAJALAHTERAS.COM – Ruang Bimbingan dan Konseling (BK) kerap identik dengan tempat siswa yang melakukan pelanggaran dipanggil dan mendapat pembinaan. Di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Pangandaran, Jawa Barat, pandangan itu perlahan diubah.

Melalui inovasi Ruang BK Ruang Bahagia dan Layanan BK Penuh Cinta, layanan BK tidak hanya menjadi tempat menangani persoalan peserta didik, tetapi dikembangkan menjadi ruang yang aman untuk bercerita, mendapatkan pendampingan, dan menemukan solusi.

Guru BK MTsN 1 Pangandaran, Tita Astria, mengatakan perubahan pendekatan tersebut berangkat dari keinginan untuk mengubah stigma bahwa guru BK merupakan “polisi sekolah”.

“Kami ingin anak-anak merasa nyaman. Guru BK bukan polisi sekolah, tetapi sahabat siswa. Ketika mereka memiliki masalah, mereka tidak takut untuk datang dan bercerita,” ujar Tita saat ditemui di MTsN 1 Pangandaran, Kamis (13/8/2026).

Pendekatan tersebut mendorong guru untuk tidak hanya menunggu siswa datang ketika memiliki masalah. Guru juga dituntut lebih peka terhadap perubahan perilaku peserta didik. Anak yang tiba-tiba murung, misalnya, tidak selalu sedang mengalami persoalan di sekolah. Bisa jadi terdapat masalah keluarga, kondisi ekonomi, maupun persoalan lain yang belum diketahui.

“Kalau ada anak yang biasanya ceria kemudian menjadi murung, jangan malah dijauhi. Harus diperhatikan dan ditanya. Kadang ketika kita dekati, baru diketahui apa yang sebenarnya sedang mereka hadapi,” katanya.

Pendekatan penuh cinta tersebut membuat layanan BK di MTsN 1 Pangandaran tidak berhenti pada ruang konseling. Ketika menemukan persoalan yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, guru BK berkolaborasi dengan wali kelas, guru mata pelajaran, orang tua, hingga pihak profesional.

Kolaborasi untuk Mendampingi Anak

Salah satu penguatan layanan dilakukan melalui kolaborasi antara wali kelas, guru mata pelajaran, guru BK, dan orang tua siswa. Bagi Tita, persoalan peserta didik tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak. Madrasah perlu membangun komunikasi yang kuat dengan keluarga agar dapat memahami kondisi anak secara lebih utuh.

Melalui program parenting, orang tua juga diajak untuk memahami perkembangan remaja serta membangun pola komunikasi yang lebih baik dengan anak. “Ketika ada persoalan, kami tidak bisa hanya melihat anaknya. Kadang orang tua juga membutuhkan ruang untuk berdiskusi dan memahami apa yang sedang terjadi pada anaknya,” ungkapnya.

Pendekatan tersebut membuat pendampingan tidak hanya berorientasi pada penyelesaian masalah, tetapi juga pencegahan.

Guru dan orang tua didorong untuk lebih cepat mengenali perubahan perilaku anak dan bersama-sama mencari langkah yang tepat.

Dalam beberapa kasus, MTsN 1 Pangandaran juga menggandeng psikolog untuk membantu peserta didik yang membutuhkan pendampingan lebih lanjut.

Kolaborasi ini menjadi bagian penting dari upaya membangun layanan pendidikan yang tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga memperhatikan kondisi sosial dan emosional peserta didik.

Dari Konseling ke Ruang Edukasi

Inovasi layanan BK di MTsN 1 Pangandaran juga dikembangkan melalui podcast Ruang BK, Ruang Bahagia. Melalui ruang edukasi tersebut, madrasah membahas berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan remaja dan keluarga, termasuk isu kesehatan mental.

Langkah ini sekaligus memperluas fungsi layanan BK. Pendampingan tidak hanya dilakukan ketika siswa datang membawa persoalan, tetapi juga melalui edukasi dan upaya pencegahan yang dapat menjangkau peserta didik, orang tua, dan masyarakat.

Tita sendiri memiliki pengalaman sebagai Fasilitator Nasional Pendidikan Kesehatan Reproduksi Remaja Perspektif Islam Kementerian Agama RI. Pengalaman tersebut turut memperkuat komitmennya untuk menghadirkan layanan yang responsif terhadap berbagai persoalan yang dihadapi remaja.

“Praktik baik yang kami lakukan juga terus kami dokumentasikan dan bagikan. Harapannya bisa menjadi inspirasi bagi madrasah lain,” katanya.

Kepercayaan Tumbuh dari Pelayanan

Bagi MTsN 1 Pangandaran, membangun madrasah ramah anak tidak cukup dengan menyediakan fasilitas. Yang lebih penting adalah membangun budaya pelayanan.

Budaya untuk mendengar ketika anak ingin bercerita. Budaya untuk tidak terburu-buru menghakimi ketika anak melakukan kesalahan. Serta budaya untuk melibatkan keluarga dan berbagai pihak ketika peserta didik membutuhkan bantuan.

Pendekatan tersebut mendapat respons positif dari peserta didik dan orang tua. Siswa semakin nyaman datang kepada guru BK ketika menghadapi persoalan, sementara orang tua juga membangun komunikasi yang lebih terbuka dengan pihak madrasah.

Kepercayaan masyarakat terhadap layanan yang diberikan madrasah pun terus tumbuh.

Tita menilai, pelayanan kepada peserta didik merupakan bagian dari tanggung jawab ASN Kementerian Agama untuk menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Ketika kita menjadi ASN Kementerian Agama, kita harus bertanya, apa manfaat kita bagi masyarakat. Itu yang selalu menjadi semangat saya dalam bekerja,” ujarnya.

Pengalaman MTsN 1 Pangandaran menunjukkan bahwa inovasi layanan pendidikan dapat dimulai dari persoalan sederhana yang ditemui setiap hari.

Ruang BK yang selama ini dianggap menakutkan, misalnya, dapat diubah menjadi ruang yang membuat peserta didik merasa aman. Persoalan siswa yang semula hanya ditangani guru BK dapat diselesaikan melalui kolaborasi. Orang tua yang sebelumnya datang ketika anak bermasalah, dapat dilibatkan sejak awal dalam proses pendampingan.

Bagi madrasah lain, pendekatan tersebut dapat menjadi praktik baik yang dapat dikembangkan sesuai kebutuhan masing-masing.

Karena pada akhirnya, madrasah bukan hanya tempat peserta didik memperoleh pengetahuan.Madrasah juga harus menjadi tempat anak merasa didengar, dipahami, dan mendapatkan ruang untuk bertumbuh.

Dari situlah, ruang BK di MTsN 1 Pangandaran menemukan makna baru: bukan lagi ruang yang ditakuti siswa, tetapi Ruang BK, Ruang Bahagia.

 

No More Posts Available.

No more pages to load.