GEMA RAMADAN 1447 H : Jafar bin Abu Thalib dan Mahakarya Diplomasi Islam

oleh
oleh

Hijrah Kedua ke Habasyah

Rasulullah SAW sangat tepat mengizinkan atau mengutus Jafar bin Abu Thalib sebagai pemuka muhajirin (pindak tempat) dari Makkah ke Habasyah (Etiopia sekarang ini). Kaum muhajirin yang mempertahankan iman sampai ke sebuah kerajaan di Benua Afrika itu, sekitar 100 orang, terdiri dari puluhan laki-laki dan belasan perempuan.

Hijrah kaum muslimin ini, untuk kedua kalinya, terjadi pada tahun ke-5 Kenabian (tahun 615 Masehi). Hijrah pertama ke kerajaan yang sama dipimpin oleh Usman bin Affan (ikut serta Ruqayah, putri Rasuullah SAW). Para sahabat muhajirin pertama ini  sekitar 15 orang, terdiri dari laki-laki 11 orang dan perempuan 4 orang).

Kaum Quraisy Makkah mengejar jamaah muhajirin kedua ini, sampai ke Habasyah. Kaum Quraisy (diwakili duet diplomat Quraisy Amr bin Ash dan Abdullah bin Abi Rabiah. minta mereka dideportasi (dikembalikan) ke Makkah). Namun,  permimntaamn ditolak, meski diiming-imingi hadiah besar. Baik Amr maupun Abdullah akhirnya masuk Islam.

Penolakan deportasi terjadi setelah dialog Raja Najasyi dan Jafar. Pidato pembelaan Jafar sangat menyentruh Raja Najasyi, terutama setelah Jafar membacakan Al-Qur’an surat Maryam yang antara lain berisi kemuliaan dan pemuliaan  Maryam dan Isa bin Maryam.

 

Mahakarya Diplomasi

Pidato Jafar bin Abu Thalib di hadapan Raja Najasyi dianggap oleh para pakar sejarah sebagai salah satu masterpiece (mahakarya) diplomasi dalam Islam. Ia tak hanya bicara soal agama, tapi juga menggunakan pendekatan psikologis dan sosiologis yang sangat cerdas. Berikut adalah lima analisis strategi diplomasinya:

  1. Pendekatan Kontras (Social Comparison)

Jafar memulai pidatonya dengan deskripsi objektif kondisi zaman Jahiliyah secara ekstrem (kekejian, penindasan, memakan bangkai). Ini adalah taktik untuk menciptakan “titik nol” yang buruk, sehingga saat ia memperkenalkan Islam, ajaran tersebut terlihat sebagai solusi moral yang sangat bercahaya. Ia tidak menyerang agama Kristen (agama Raja), tetapi  menyerang perilaku buruk kaumnya sendiri.

 

  1. Menonjolkan Karakter (Building Trust)

Alih-alih langsung bicara tentang Tuhan, Jafar bicara tentang kredibilitas pembawa pesan. Ia menyebut Rasulullah SAW sebagai orang yang dikenal nasabnya, dikenal kejujurannya, dikenal pula kesuciannya Ini adalah strategi untuk membangun kepercayaan bahwa informasi yang mereka bawa bukan kebohongan. Jafar mendiskripsikan kemuliaan Nabi SAW secara objektif, apa adanya, bukan polesan atau pencitraan.

 

  1. Universalitas Pesan (Universal Values)

Jafar menekankan nilai-nilai yang disukai oleh semua penguasa yang adil, seperti menyambung silaturahmi. berbuat baik kepada tetangga, dan melindungi harta anak yatim. Nilai-nilai ini sebetulnya pernah disampaikan Khadijah, istri Rasulullah SAW, saat beliau “galau” pulang beribadah di Gua Hira. Dengan cara ini, Raja Najasyi melihat Islam bukan sebagai ancaman politik, melainkan sebagai gerakan perbaikan sosial yang sejalan dengan prinsip keadilan.

 

  1. Strategi Mencari Titik Temu (Common Ground)

Ini adalah bagian paling krusial. Ketika ditanya soal Nabi Isa (Yesus), Jafar tak berbohong demi menyenangkan Raja Najasyi, namun ia memilih diksi yang tepat.

Jafar membacakan Al-Qur’an surat Maryam. Jafar paham, dalam tradisi Kristen, Maryam adalah sosok yang sangat suci. Maka, dengan membacakan Al-Qur’an tentang Maryam, juga tentang Isa, Jafar menunjukkan bahwa Islam memuliakan apa yang Raja muliakan. Jafar Jujur, dan itulah memang fakta dalam A-Qur’an. Inilah yang  meruntuhkan sekat perbedaan dan sekaligus menciptakan empati mendalam.

  1. Keberanian Berbasis Kebenaran (Integrity)

Meskipun nyawa Jafar dan para sahabatnya  terancam jika Raja marah, Jafar tetap konsisten pada prinsip tauhid saat menjelaskan posisi Nabi Isa AS sebagai hamba dan utusan Allah. Sebuah kejujuran yang berisiko tinggi ini ternyata di penyebab  Raja Najasyi kagum. Di mata penguasa, kejujuran seperti ini jauh lebih berharga daripada diplomasi “asal bapak senang” yang dilakukan utusan Quraisy.

Syahid di Perang Mu’tah

Jafar kakak beradik dengan Ali bin Abu Thalib. Ada empat anak Abu Thalib, terdiri dari Talib, Aqil, Jafar, dan Ali. Jafar dan para sahabat muhajirin ke Habasyah pulang ke Madinah setelah tinggal sekitrar 15 tahun.

Jafar gugur di Perang Mu’tah (tahun 8 Hijriah atau tahun 629 Masehi). Perang ini termasuk besar dan hebat saat tentara umat Islam melawan tentara Kekaisaran Bizantium (sebuah kekaisaran kelanjutan dari Kerajaan Romawi bagian timur). Kekuatan 3.000-an tentara melawan tentara Kekaisaran Bizantium yang cukup besar. antara 200.000 sampai 300.000 orang (termasuk tentara sekutunya)

Panji yang dipegang tangan kanannya lepas, seiring dengan  tangan kanannya yang lepas pula ditebas pedang musuh. Panji kemudianm dipegang tangan kirinya. Putus pula, tangan kirinya, sampai akhirnya wafat (syahid).  Panji ada dalam pelukan dadanya.

Panglima perang pertama adalah Zaid bin Harisah yang kemudian gugur. Jafar menggantikannya. gugur pula, lalu panji dipegang oleh Abdullah bin Rawahah,  gugur lagi. Akhirnya, panji dipegang oleh Khalid bin Walid sampai  kaum muslimi memenangkan peperangan.

Rasulullah SAW memberi gelar Ath-Thayyaar kepada Jafar (Jafar yang terbang). Kedua tangannya yang putus diganti dengan dua sayap, sehingga Jafar bisa terbang ke mana pun di sorga.

Rasulullah SAW menyebut pula Jafar paling mirip dengan Rasulullah SAW. Sabdanya, “Engkau pa;ling mirip denagn rupaku dalam akhlak dan rupa” sebagaimana hadis riwayat Al-Bukhari. dari A-Barra bin ‘Azib. (Dean Al-Gamereau)

No More Posts Available.

No more pages to load.