Gema Ramadan 1447 H : Toleransi Islam-Kristen di  Pelukan Najasyi

oleh
oleh
Masjid di Etiopia ini, di Desa Negash, wilayah Tigray, juga simbol perlindungan Raja Najasyi kepada Ja’far dan para sahabatnya, muhajirin dari Makkah ke Etiopia (Foto : https://www.islamiclandmarks.com/various/negash-eithiopia).

Garis Tipis di Tanah Raja yang Adil

Jauh sebelum dunia modern merumuskan konsep toleransi antarumat beragama, sejarah Islam telah mencatat sebuah oase kerukunan di timur Benua Afrika. Di bawah kepemimpinan Ashamah bin Abjar, yang dikenal sebagai Raja Najasyi (Negus), Habasyah menjadikan  umat Islam dan umat Kristen (Koptik) duduk satu meja dalam suasana saling melindungi.

Momen paling ikonik dari toleransi ini terjadi saat Ja’far bin Abi Thalib menyampaikan  pembelaan diplomatik di hadapan majelis kerajaan. Di hadapan para uskup dan Raja Najasyi yang beragama Kristen, Ja’far membacakan Al-Qur’an Surat Maryam.

Surat ke-19 Al-Qur’an itu berisi kisah kemuliaan  Maryam (Bunda Maria) dan mukjizat Nabi Isa AS. Maryam satu-satunya nama yang disebut langsung dalam Al-Qur’an. Perempuan lain tak disebut langsung, seperti istri Nabi Nuh AS, istri Nabi Luth AS, istri Nabi Adam AS, dan lain-lain, Nama Maryam disebut 34 kali (secara eksplisit) dalam Al-Qur’an. Nama Isa sendiri, dalam Al-Qur’an, disebut sebanyak 25 kali. Nama  Isa bin Maryam disebut 13 kali. Umat Islam wajib mengimani Isa AS sebagai nabi dan rasul-Nya.

Mendengar ayat-ayat tersebut, Raja Najasyi dan para pemuka gerejanya menangis hingga janggut mereka basah. Najasyi kemudian membuat sebuah pernyataan yang menjadi tonggak sejarah dialog antaragama.

Kata sang Raja, “Sesungguhnya apa yang dibawa nabimu dan apa yang dibawa Isa berasal dari sumber cahaya yang sama. Perbedaan antara agama kami dan agama kamu  tidak lebih dari garis tipis ini.”

Suaka Tanpa Syarat

Toleransi di Habasyah (kini, Ethiopia), bukan drama, bukan pula bukan sekadar retorika. Raja Najasyi memberikan perlindungan fisik dan hukum kepada kaum muslimin muhajirin dari Makkah,  meskipun ada tekanan politik besar dari kaum Quraisy.

Raja Najasyi menolak hadiah-hadiah mewah utusan Mekkah. Raja Najasyi   menjamin keamanan kaum muslimin. Ungkapannya yang terkenal dan fenomenal,   “Kalian aman untuk mempraktikkan agama kalian di sini.  Kalian tidak akan menderita ketidakadilan”.

Prinsip Raja Najasyi adalah manifestasi dari kepemimpinan yang berlandaskan moralitas universal, bukan semata-mata sektarian. Baginya, melindungi orang-orang yang terzalimi adalah amanah Tuhan yang melampaui batas teologis.

Warisan untuk Dunia Modern

Selama 15 tahun, kaum muslimin hidup berdampingan dengan penduduk Habasyah yang Kristen tanpa ada upaya konversi paksa atau permusuhan. Ini adalah model awal  migration Justice (keadilan migrasi).  Sebuah negara memberikan ruang ibadah bebas bagi pengungsi berbeda keyakinan.

Ketika Najasyi wafat, Rasulullah SAW memberikan penghormatan tertinggi dengan melakukan salat gaib di Madinah, sebuah pengakuan spiritual atas jasa seorang raja Kristiani yang telah menjaga umat Islam.

Negeri Habasyah pun selamanya dikenang bukan sebagai tanah asing, melainkan sebagai “negeri kebenaran” yang mempertemukan dua iman besar dalam satu kemanusiaan. Raja Habasyah, memang, akhirnya memeluk Islam, dan oleh karena itu Nabi Muhammad SAW salat (jenazah) gaib untuknya.

Makam Raja Najasyi satu kompleks dengan masjid yang dibangun untuk mengenang kisah toleransi dan perlindungan kepada kaum muslimin muhajirin dari Makkah. Masjid itu terletak di Desa Negash, wilayah Tigray, Etiopia.

 Pulang ke Madinah

Hijrah ke Madinah tiba, Raja Najasyi tak hanya melepas mereka dengan tangan hampa. Sang Raja menyediakan dua kapal besar untuk menyeberangkan mereka melintasi Laut Merah. Tak hanya kapal, tetapi juga lengkap dengan perbekalan yang melimpah.

Ja’far bin Abi Thalib kembali dari Habasyah ke Madinah pada tahun 7 Hijriah.  Kepulangan beliau bertepatan dengan momen Penaklukan Benteng Khaibar. Rasulullah SAW menyambut kedatangan Ja’far dengan sangat gembira dan bersabda, Aku tidak tahu mana yang lebih membuatku senang, apakah penaklukan Khaibar atau kedatangan Ja’far”.

Ja’far telah menetap di Habasyah selama kurang lebih 12-13 tahun sebelum akhirnya menyusul ke Madinah. Jafar dan para sahabat bisa tenang tinggal di Habasyah, dengan perlindungan yang diberikan kerajaan.

Bagi Ja’far dan sahabat lainnya, ini adalah akhir dari masa pengasingan yang panjang, Mereka bisa beribadah secara terbuka bersama Rasulullah SAW di Madinah, setelah “mernikmati” kebebasan menjalankan agama di negara  berpenduduk mayoritas Kristen. (Dean Al-Gamereau).

No More Posts Available.

No more pages to load.