“Adu Domba” Teologis
Amr bin Al-‘Ash, seorang cerdas, politisi ulung di kalangan orang Qurasy. Oleh karena itu. Amr jadi utusan untuk menghadap Raja Najasyi, terkait dengan kaum muhajirin yang dipimpin Ja’far bin Abu Thalib.
Gagal membujuk Raja pada hari pertama, lalu berusaha menemui kembali Raja, keesokan harinya. Kini, fitnahnya berupa “adu domba”. Raja Habasyah tak mudah percaya, lalu memanggil kembali Ja’far bin Abu Thalib.
Pada hari pertama berpidato, sangat menyentuh dan memukau Raja. Tuduhan Amr bin Al-‘Ash pada hari kedua lebih tajam dan provokatif. “Wahai Paduka, mereka (kaum muslimin) mengatakan hal yang sangat buruk dan mengerikan tentang Isa bin Maryam!”
Ini adalah taktik “adu domba” teologis. Amr bin Al-‘Ash tahu bahwa bagi orang Kristen, status Yesus adalah isu sensitif. Ia berharap Ja’far akan terjepit, tersudut, jika berkata Yesus adalah Tuhan. Jika berkata Yesus adalah hamba, ia akan dihukum oleh Raja. Amr bin Al-‘Ash mengira, Ja’far akan menghadapi pilihan sulit.
Ja’far yang Tenang
Raja Najasyi memanggil kembali kaum muslimin, lalu bertanya dengan nada serius, “Apa yang kalian katakan tentang Isa?”. Suasana jadi sangat tegang. Para sahabat sempat merasa khawatir. Namun, Ja’far tetap tenang. Ia tak mencoba mencari jawaban yang “aman” atau melntarkan diplomatis secara palsu.
Ja’far menjawab dengan integritas penuh: “Kami mengatakan tentang Isa sebagaimana yang diajarkan Nabi kami. Beliau adalah hamba Allah, Rasul-Nya, Ruh-Nya, dan Kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, gadis suci yang perawan.”
Ja’far cerdik, menya,mpaikan hak, dan bersandar pada perkataan Rasulullah SAW. Boleh jadi, akan sangat berbeda, kalau kalimat itu langsung disampaikan oleh Ja’far sendiri.
Sejak awal, Raja percaya dan terpukau pula oleh Nabi Rasulullah SAW, meski belum pernah bertemu muka. Ja’far berkata jujur, dan bersandar pada “dinding’ yang sangat kokoh nan teguh. Raja percaya.
Pengakuan Raja Najasyi
Mendengar jawaban Ja’far, Amr bin Al-‘Ash merasa di atas angin, Amr mengira, Raja akan marah karena menyentuh eksistensi Maryam dan Isa yang sangat sensitif. Ja’far tak mengobarkan prinsip, diplomasi lurus, dan menyampaikan jawaban berbasis ajaran Rasulullah SAW. Jawabannya berbasis ayat dan iman sekaligus.
Kalau saja Ja’far mengatakan begini, “Kami mengimani Isa sebagai nabi,. bukan sebagai anak tuhan sebagaimana anggapan Paduka Raja”. Boleh jadi, kalau Ja’far berujar begitu, Paduka Raja marah, tersiggung. Inilah memang yang diharapkan Amr bin Al-‘Ash.
Namun yang terjadi justru sebaliknya. Raja Najasyi terpukau untuk kedua kalinya. Perbedaan keyakinan tak dirasakannya sebagai beban dan bahan permusuhan.
Raja Najasyi lalu memukul tangannya ke tanah, mengambil sebatang kayu kecil, dan berkata: “Demi Allah, apa yang kau katakan tentang Isa tak berbeda dengan apa yang kami yakini, bahkan tak lebih dari seukuran batang kayu ini!”
Kekalahan Berdiplomasi
Para uskup di sekitar Raja Najasyi mulai mendengus, tidak senang, karena perbedaan perspektif tentang “Hamba Allah”. Namun, Raja Najasyi membela kaum muslimin, dan berkata, “Meskipun kalian mendengus, mereka tetap aman di tanahku”.
Raja Najasyi kemudian memerintah agar semua hadiah (kulit hewan dan emas) yang dibawa oleh Amr bin Al-‘Ash dikembalikan. Raja Najasyi berkata,“Tuhan tak mengambil suap dariku ketika Dia mengembalikan kerajaanku padaku, maka aku pun tak akan mengambil suap dari kalian.”
Amr bin Al-‘Ash keluar dari istana kerajaan. Wajah tertunduk, berbalut rasa malu yang besar. Padahal, dia dikenal tak pernah gagal dalam diplomasi, Kini, justru dipatahkan oleh kejujuran dan ketenangan Ja’far.
Catatan Menarik
Kemenangan Ja’far ini bukan hanya soal kata-kata, melainkan juga soal ketulusan. Amr bin Al-‘Ash datang membawa harta (suap), sedangkan Ja’far datang membawa kebenaran dan akhlak.
Di mata penguasa yang adil seperti Raja Najasyi, akhlak jauh lebih berharga daripada emas. Kini, masih banyakkah raja, presiden, atau pejabat publik yang mendahulukan akhlak dan kebenaran? (Dean Al-Gamereau)





