GEMA RAMADAN 1447 H : Diplomasi yang Gagal di Istana Kerajaan Habasyah

oleh
oleh
Profil Kerajaan Habasyah tempo hari. Foto ilustrasi dialog Raja Najasyi dan Ja’far bin Abu Thalib (Foto ilustrtasi : https://suaraislam.id)

“Adu Domba” Teologis

Amr bin Al-‘Ash, seorang  cerdas, politisi ulung di kalangan orang Qurasy. Oleh karena itu. Amr  jadi utusan untuk menghadap Raja Najasyi, terkait dengan kaum muhajirin yang dipimpin Ja’far bin Abu Thalib.

Gagal membujuk Raja pada hari pertama, lalu berusaha menemui kembali Raja, keesokan harinya. Kini, fitnahnya  berupa “adu domba”. Raja Habasyah tak mudah percaya,  lalu memanggil kembali Ja’far bin Abu Thalib.

Pada hari pertama berpidato, sangat menyentuh dan memukau Raja. Tuduhan Amr bin Al-‘Ash pada hari kedua lebih tajam dan provokatif.  “Wahai Paduka, mereka (kaum muslimin) mengatakan hal yang sangat buruk dan mengerikan tentang Isa bin Maryam!”

Ini adalah taktik “adu domba” teologis. Amr bin Al-‘Ash tahu bahwa bagi orang Kristen, status Yesus adalah isu sensitif. Ia berharap Ja’far akan terjepit, tersudut,  jika berkata Yesus adalah Tuhan. Jika berkata Yesus adalah hamba, ia akan dihukum oleh Raja. Amr bin Al-‘Ash mengira, Ja’far akan menghadapi pilihan sulit.

Ja’far yang Tenang

Raja Najasyi memanggil kembali kaum muslimin, lalu bertanya dengan nada serius, “Apa yang kalian katakan tentang Isa?”. Suasana jadi sangat tegang. Para sahabat  sempat merasa khawatir.  Namun, Ja’far tetap tenang. Ia tak mencoba mencari jawaban yang “aman” atau melntarkan diplomatis secara palsu.

Ja’far  menjawab dengan integritas penuh: “Kami mengatakan tentang Isa sebagaimana yang diajarkan Nabi kami. Beliau adalah hamba Allah, Rasul-Nya, Ruh-Nya, dan Kalimat-Nya yang disampaikan kepada Maryam, gadis suci yang perawan.”

Ja’far cerdik, menya,mpaikan hak, dan bersandar pada perkataan Rasulullah SAW. Boleh jadi, akan sangat berbeda, kalau kalimat itu langsung disampaikan oleh Ja’far sendiri.

Sejak awal, Raja percaya dan terpukau pula oleh  Nabi Rasulullah SAW, meski belum pernah bertemu muka. Ja’far berkata jujur, dan bersandar pada  “dinding’ yang sangat kokoh nan teguh. Raja percaya.

Pengakuan Raja Najasyi

Mendengar jawaban  Ja’far,  Amr bin Al-‘Ash merasa di atas angin, Amr  mengira,  Raja akan marah karena menyentuh eksistensi Maryam dan Isa yang sangat sensitif. Ja’far tak mengobarkan prinsip, diplomasi lurus, dan menyampaikan jawaban  berbasis  ajaran Rasulullah SAW. Jawabannya berbasis ayat dan iman sekaligus.

Kalau saja Ja’far mengatakan begini, “Kami mengimani Isa sebagai nabi,. bukan sebagai anak tuhan sebagaimana anggapan Paduka Raja”.  Boleh jadi, kalau Ja’far berujar begitu, Paduka Raja marah, tersiggung. Inilah memang yang diharapkan Amr bin Al-‘Ash.

Namun yang terjadi justru sebaliknya. Raja Najasyi terpukau untuk kedua kalinya. Perbedaan keyakinan tak dirasakannya sebagai beban dan bahan permusuhan.

Raja Najasyi lalu  memukul tangannya ke tanah, mengambil sebatang kayu kecil, dan berkata: “Demi Allah, apa yang kau katakan tentang Isa tak berbeda dengan apa yang kami yakini, bahkan tak lebih dari seukuran batang kayu ini!”

Kekalahan  Berdiplomasi

Para uskup di sekitar Raja Najasyi mulai mendengus, tidak senang, karena perbedaan perspektif tentang “Hamba Allah”. Namun,  Raja Najasyi membela kaum muslimin,  dan berkata, “Meskipun kalian mendengus, mereka tetap aman di tanahku”.

Raja Najasyi kemudian memerintah agar semua hadiah (kulit hewan dan emas) yang dibawa oleh Amr bin Al-‘Ash dikembalikan. Raja Najasyi  berkata,Tuhan tak mengambil suap dariku ketika Dia mengembalikan kerajaanku padaku, maka aku pun tak akan mengambil suap dari kalian.”

Amr bin Al-‘Ash keluar dari istana kerajaan.  Wajah tertunduk, berbalut  rasa malu yang besar. Padahal, dia dikenal  tak pernah gagal dalam diplomasi, Kini, justru dipatahkan oleh kejujuran dan ketenangan Ja’far.

Catatan Menarik

Kemenangan Ja’far ini bukan hanya soal kata-kata, melainkan juga  soal ketulusan. Amr bin Al-‘Ash  datang membawa harta (suap), sedangkan Ja’far datang membawa kebenaran dan akhlak.

Di mata penguasa yang adil seperti  Raja Najasyi, akhlak jauh lebih berharga daripada emas. Kini, masih banyakkah raja, presiden, atau pejabat publik  yang mendahulukan akhlak dan kebenaran? (Dean Al-Gamereau)

No More Posts Available.

No more pages to load.