“Harapan Kami, Sehat dan Selamat”
Pasir putih Pantai Carita, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, sore itu, terasa lebih dingin dari biasanya. Di seberang sana, riak gelombang ombak bergulung bergantian, tak pernah lelah berkejaran. Para wartawan duduk melingkar. Senyap. Termenung lesu bersama angin laut yang asin.
Kepala mereka tertunduk. Gumpalan doa dipanjatkan. Jauh di seberang sana, kepulan asap masih menembus langit. “Jantung” Anak Gunung Krakatau masih berdegup. lebih kencang dari biasanya, dan masih memuntahkan sisa-sisa erupsinya ke langit malam yang kian legam.
Di pantai ini, sekelompok wartawan menolak menyerah pada ke-putus asa-an. Mereka melingkar, menggenggam jemari satu sama lain, melantunkan doa terbaik untuk rekan-rekan seprofesi mereka.
Di bibir Pantai Carita, sekelompok wartawan dari berbagai daerah itu memang duduk bersila, menundukkan kepala, khusyuk, dan dengan bola mata yang sembab. Anak Gunung Krakatau di seberang sana masih mendemonstrasikan aktivitas vulkaniknya, entah berapa lama lagi.
Para wartawan tidak sedang mendiskusikan judul berita, sudut pandang, atau breaking news, melainkan sedang berdoa untuk kawan-kawan mereka yang telah kehilangan kontak sejak beberapa hari sebelumnya.
Laut belum juga mengabari tempat teman-teman mereka kini berada. “Kami tetap berikhtiar dan berdoa. Harapan kami, teman-teman tetap sehat dan selamat,” kata Ketua PWI Provinsi Banten, Ryan Nopandra, Senin pagi (14/9/26).
“Ya, Allah, kami mohon keselamatan untuk semua : untuk awak kapal, pemandu, untuk para wartawan. Kembalikan mereka kepada kami, ya Allah, dengan selamat”. Di Pantai Carita kini, zikir dan doa kepada Allah SWT tak pernah berhenti. Doa jadi lebih penting dari berita, dari sekadar headlime atau deadline.
Karena Mereka Pejuang Kata
Ombak Pantai Carita tetap bergemuruh, tetapi tak bercerita tentang wartawan, tentang pemandu, tentang awak kapal yang kini sedang dicari dengan melibatkan banyak pihak. Pantai Selat Sunda pun belum mau berbicara, bahkan kepada komandan Tim SAR Gabungan sekalipun.
Letusan Anak Gunung Krakatau memang harus dijauhi, bukan didekati, tetapi tidak untuk wartawan, karena mereka pejuang kata. Mereka membelah Selat Sunda dengan kapal motor cepat (speedboat). Tentu saja, sama sekali bukan untuk menantang maut, melainkan profesi wartawan karena memang penuh risiko.
Mereka membawa perlengkapan dan semangat memotret dari jarak paling dekat. Hasil liputaan dan jepretan mereka ditunggu jutaan pembaca, pemerhati, dan pemirsa.
Ombak Pantai Carita hanya datang dan pergi, lalu surut membawa tanya. Selat Sunda pun seakan sedang merahasiakan tentang mereka yang sedang dicari, yang belum juga pulang. Pencarian memasuki hari kedelapan, namun hasilnya masih nihil, tetapi tak pernah mengurangi semangat petugas, malah kian penasaran. Pencarian sampai ke perairan Ujung Kulon.
Negara Tak Tinggal Diam
Matahari tenggelam ke balik malam, merah seperti lava pijar. Pantai Carita seakan tak lagi jadi tempat wisata. Namun, seakan jadi ruang tunggu yang paling panjang dan lama.
Isak tangis keluarga wartawan dan keluarga awak kapal motor cepat tak bisa dibendung. Tim Psikologi Polda Banten pun turun tangan mendampingi mereka, seperti kata Kapolda Irjen Pol. Hengki, S.I.K., M.H.
Di Selat Sunda yang sedang bergejolak itu negara tidak tinggal diam. Belasan kapal yang didukung ratusan tenaga profesional dikerahkan. Tim SAR Gabungan yang merupakan garda terdepan, TNI AL, TNI AU, Polri, POLAIRUD, Kementerian Kominfo, BMKG, PVMBG, PMI. Pemprov Banten, organisasi wartawan, masyarakat nelayan, dan penyelam ikut terlibat dalam pencarian. Mereka menampilkan kineras terbaiknya.
Dia, Seniman Foto
Lima wartawan, dua awal kapal, dan seorang pemandu itu berangkat naik kapal motor cepat Arupadhatu 1, dari Dermaga Pagedongan, Pantai Carita, 7 September 2026, sekitar pukul 14.00 WIB.
Kelima wartawan itu, M. Bagus Khoirunnas (LKBN ANTARA Biro Banten), Arie Basuki (Merdeka, com), Yudistiro (iNEWS), Firman Daus (Anadolu Agency), dan Donal Husni (wartawan lepas, freelancer). Dua awak kapal motor cepat, terdiri dari Warta (nakhoda kapal) dab Surakman (anak buah kapal), Heriyanto sebagai pemandu perjalanan..
Dari lima wartawan itu, seorang di antaranya, warga Kota Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten : M. Bagus Khoirunnas. Dia terbiasa membidik Banten dari segala sisi dan segi, untuk sebuah karya foto jurnalistik.
Bagus sendiri, menurut penuturan istrinya, Desi Purnamasari, sebetulnya sudah memiliki foto-foto terbaru letusan Anak Gunung Krakatau. Namun, naluri jurnalistiknya bangkit untuk memotret lagi, saat diajak teman-teman seprofesinya.
Penuturan Desi pula kepada Gubernur Banten, Andra Soni, S.M., M.A.P., suaminya pernah mengirim foto ceria dan semangat bersama kawan-kawannya saat berada di kapal motor cepat, saat mendekati Anak Gunung Krakatau. “Saya kontak balik beberapa saat kemudian, tetapi tak ada jawaban,” tambah perempuan berhijab dan berkacamata minus ini.
Bagus, yang pernah menimba ilmu agama di Madrasah Diniyah Al-Furqan Pesantren Persatuan Islam (PPI) Rangkasbitung 320 ini, rupanya jadi ahli waris bakat ayahnya, Mansur Suryana, yang juga masih aktif jadi wartawan Kantor Berita ANTARA. “Tahun 2000-an, Bagus jadi murid Madrasah Diniyah Al-Furqan,” kata Ustazah Mulyani, S.Pd., guru Diniyah ketika itu.
“Dia itu seniman foto sebetulnya, tetapi kemudian jadi wartawan foto,” kata Mansur, sang ayah, yang tetap sabar dan tetap tinggal di Pantai Carita untuk menunggu kepastian. “Saya berbahagia juga, hasil foto jurnalistik anak saya banyak dipajang media asing,” kata Mansur pula.
Bagus dan kawan-kawan kembali, sehat dan selamat, itu harapan semua. Juga, harapan anak-anak yang biasa mendapatkan oleh-oleh dari perjalanan sang ayah, sang pejuang kata. (Dean Al-Gamereau)





