Aceh Culinary Festival 2026 Catat Transaksi Rp1,5 Miliar, Wamenpar Dorong Penguatan Narasi Kuliner

oleh
oleh

MAJALAHTERAS.COM – Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa mendorong penguatan storytelling atau narasi di balik kuliner khas Aceh untuk memperkuat daya tarik wisata gastronomi Indonesia.

Dorongan tersebut disampaikan Ni Luh Puspa saat menutup Aceh Culinary Festival (ACF) 2026 di Taman Sulthanah Safiatuddin, Banda Aceh, Minggu (13/9/2026).

Menurut Wamenpar, kekayaan kuliner Aceh tidak hanya terletak pada cita rasa, tetapi juga memiliki nilai sejarah, budaya, tradisi, bahan pangan, serta kehidupan masyarakat yang membentuk setiap hidangan.

“Kita harus kuatkan storytelling dari kuliner-kuliner Aceh sehingga kita tidak hanya merasakan enaknya saja, tetapi kita tahu cerita di baliknya,” ujar Ni Luh Puspa.

Ia menilai Aceh Culinary Festival menunjukkan besarnya potensi kuliner daerah untuk dikembangkan sebagai bagian dari pariwisata berkualitas dan berkelanjutan.

Wamenpar juga berharap ACF dapat menjadi bagian dari penguatan Wonderful Indonesia Gourmet (WIG), program Kementerian Pariwisata yang mendorong kekayaan gastronomi Nusantara menjadi salah satu daya tarik pariwisata.

Menurutnya, pengalaman wisata gastronomi akan menjadi lebih utuh ketika wisatawan tidak hanya menikmati makanan, tetapi juga memahami cerita dan nilai budaya yang berada di balik hidangan tersebut.

Dorong Dampak Ekonomi

Ni Luh Puspa menekankan bahwa penyelenggaraan event pariwisata tidak cukup hanya menjadi ruang hiburan atau perayaan budaya. Setiap event juga diharapkan memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat.

Dampak tersebut antara lain melalui peningkatan transaksi pelaku UMKM, penciptaan lapangan kerja, serta tumbuhnya aktivitas ekonomi di sekitar lokasi penyelenggaraan.

Data Kementerian Pariwisata mencatat 110 event yang masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) sepanjang 2025 menghasilkan perputaran ekonomi lebih dari Rp17 triliun. Angka tersebut meningkat 25,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Rangkaian KEN 2025 juga mencatat 10,8 juta kunjungan, dengan melibatkan sekitar 108.500 tenaga kerja, 105.700 pelaku seni, 15.400 pengusaha UMKM, dan 4.900 komunitas.

Capaian tersebut, kata Wamenpar, menunjukkan bahwa event pariwisata memiliki efek berganda terhadap perekonomian sekaligus menjadi ruang untuk menjaga dan merayakan kebudayaan.

Wamenpar berharap penyelenggaraan ACF turut berkontribusi terhadap pencapaian target sektor pariwisata pada 2026, yakni 16 juta hingga 17 juta kunjungan wisatawan mancanegara dan 1,18 miliar perjalanan wisatawan Nusantara.

“Untuk itu, Kementerian Pariwisata berkomitmen untuk terus mendukung keberlanjutan festival ini. Kami ingin memastikan bahwa pelestarian budaya melalui pariwisata berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Kuliner Aceh Sarat Sejarah

Asisten Pemerintahan, Keistimewaan Aceh, dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Aceh Syakir, yang mewakili Gubernur Aceh, mengatakan kuliner Aceh memiliki warisan panjang yang tidak terpisahkan dari perjalanan masyarakatnya.

Ia menyebut berbagai hidangan khas Aceh menyimpan cerita mengenai kehidupan masyarakat, hubungan dengan dunia maritim, perdagangan rempah, perjumpaan berbagai etnis dan budaya, hingga sejarah Kesultanan Aceh.

“Karena itu, kita ingin agar kuliner Aceh tidak hanya dikenal sebagai makanan yang lezat, tetapi juga dipahami sebagai bagian dari warisan budaya dan kekuatan ekonomi kreatif,” ujar Syakir.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Dedy Yuswadi mengatakan, masuknya ACF dalam jajaran 10 besar KEN selama empat kali menunjukkan besarnya potensi kuliner dan event pariwisata Aceh.

ACF 2026 yang berlangsung pada 11-14 September 2026 melibatkan lebih dari 100 pelaku UMKM kuliner dari 12 kabupaten/kota. Festival tersebut juga melibatkan lebih dari 20 komunitas dan inisiatif kreatif dari Aceh, Jakarta, dan Bali.

Hingga hari penutupan, jumlah kunjungan tercatat lebih dari 11.000 orang dengan nilai transaksi mencapai lebih dari Rp1,5 miliar.

Dedy mengatakan capaian tersebut tidak terlepas dari kolaborasi berbagai pihak, mulai dari Kementerian Pariwisata, Pemerintah Aceh, pemerintah kabupaten/kota, Kementerian Kebudayaan, komunitas, hingga pelaku UMKM.

“Kesuksesan ACF tentu tidak terlepas dari dukungan berbagai pihak. Untuk itu, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Kementerian Pariwisata, khususnya Ibu Wamenpar Ni Luh Puspa yang berkenan hadir, kemudian Bapak Gubernur dan Wakil Gubernur, pemerintah kabupaten/kota, serta Kementerian Kebudayaan yang turut mendukung acara ini,” ujar Dedy.

Turut mendampingi Wamenpar dalam kegiatan tersebut Plt. Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kementerian Pariwisata Reza Pahlevi.

No More Posts Available.

No more pages to load.