MAJALAHTERAS.COM – Menjadi penjaga kelestarian alam tidak harus menunggu aksi yang rumit atau berskala besar. Wakil Menteri Lingkungan Hidup/Wakil Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Diaz Hendropriyono, mengajak seluruh peserta Jambore Nasional XII Tahun 2026 untuk membawa satu kebiasaan sederhana namun berdampak besar sekembalinya mereka ke daerah asal: memilah sampah mulai dari rumah. Ajakan tersebut disampaikan Wamen Diaz saat berdialog hangat dengan peserta Jambore Nasional XII dari Kontingen Jawa Barat dalam agenda wisata edukasi lingkungan di kantor KLH/BPLH, Jakarta.
Wamen Diaz menegaskan bahwa urusan sampah tidak akan pernah tuntas jika hanya mengandalkan pola konvensional, mengangkut dan membuangnya begitu saja ke tempat pemrosesan akhir (TPA). Perubahan perilaku masyarakat, yang dimulai dari kesadaran individu di tingkat tapak, adalah kunci utamanya. Sampah yang dikelola dan dipilah sejak dari sumbernya bukan hanya menyelamatkan lingkungan, tetapi juga menyimpan nilai ekonomi yang berharga.
“Kalau kita pilah dengan baik, ini bisa menghasilkan uang juga. Kalau dipilah, kalau enggak dipilah cuma angkut saja, uangnya enggak dapat, masalahnya juga enggak selesai,” ungkap Wamen Diaz di hadapan para anggota Pramuka muda.
Oleh karena itu, alih-alih membebani para generasi muda dengan teori yang rumit, Wamen Diaz menekankan satu pesan utama yang paling esensial. “Saya enggak mau pesannya terlalu banyak, terlalu rumit. Satu, pilah sampah itu saja menurut saya sudah merupakan tantangan tersendiri”.
Semangat kepedulian ini ternyata telah bersemi di hati para peserta. Salah satu anggota Pramuka asal Kota Bandung, Michael Dias, mengaku tergerak sekaligus prihatin melihat masih adanya sampah yang tertinggal di area kegiatan. Bagi Michael, menjaga kebersihan adalah cerminan langsung dari nilai luhur Dasa Dharma Pramuka, khususnya poin kedua tentang cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.
“Yang pertama, saya merasa kecewa dan juga agak sedih. Kenapa? Karena seorang Pramuka, apalagi kami yang dikirim, pastinya sudah diseleksi terlebih dahulu, tetapi kami tidak bisa bertanggung jawab,” tutur Michael.
Tidak hanya tinggal diam, Michael bersama regunya langsung mengambil tindakan nyata dengan memungut sampah yang berserakan, termasuk sisa aktivitas di area publik. Pengalaman reflektif inilah yang diharapkan Wamen Diaz dapat menular luas.
“Adik-adik perlu jadi agen lingkungan di daerah asalnya,” tegas Wamen Diaz memotivasi.
Wamen Diaz kembali mengingatkan agar gerakan mulia ini berakar dari lingkup terkecil. “Mulai dari lingkungan sendiri. Mulai dari sampah dapur, mulai dari ibu, dari bapak, adik-adik, kakak. Mulai pilah sampah dari rumah sendiri”.
Selain membumikan budaya pilah sampah, Wamen Diaz juga mendorong para Pramuka muda untuk aktif dalam aksi pemulihan ekologis lainnya, seperti menanam pohon. Wamen Diaz berharap pengalaman berharga selama mengikuti Jambore Nasional XII ini menjadi percikan awal bagi gerakan lingkungan yang lebih masif di seluruh penjuru nusantara.
“Semoga adik-adik bisa terus menjaga daerahnya masing-masing, menjaga Indonesia, dan menjaga Bumi agar bisa terus lestari,” pungkas Wamen Diaz penuh harap.





