MAJALAHTERAS.COM – Kehadiran Interactive Digital Panel (IFP) atau Papan Interaktif Digital (PID) di sekolah mulai mengubah cara sebagian guru menyiapkan pembelajaran. Perangkat yang semula hanya dipandang sebagai fasilitas teknologi kini dimanfaatkan untuk membuat media ajar yang lebih interaktif, mengembangkan bahan pembelajaran, hingga mendukung penggunaan kecerdasan artifisial (AI).
Pengalaman itu dirasakan para guru yang mengikuti kegiatan Advokasi Pemanfaatan Perangkat Digitalisasi Pembelajaran yang digelar Direktorat Sekolah Menengah Pertama, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), di Bandung Barat beberapa waktu lalu.
Bagi guru, keberadaan perangkat digital saja belum cukup. Kemampuan menggunakannya menjadi bagian penting agar teknologi tersebut benar-benar memberi dampak terhadap proses belajar mengajar.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal (PAUD, Dikdas, dan PNFI), Gogot Suharwoto, mengatakan digitalisasi pendidikan harus berjalan beriringan dengan peningkatan kompetensi guru.
Menurut Gogot, keberhasilan digitalisasi tidak semata-mata diukur dari jumlah perangkat yang tersedia di sekolah. Yang lebih penting adalah bagaimana teknologi tersebut digunakan untuk memperkuat proses pembelajaran dan membantu guru memenuhi kebutuhan murid.
“Teknologi tidak menggantikan peran guru. Justru teknologi harus memperkuat kemampuan dan peran guru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih interaktif, kreatif, dan sesuai dengan kebutuhan murid,” ujar Gogot.
Ia mengatakan guru perlu terus belajar dan berkolaborasi agar perangkat digital tidak berhenti sebagai fasilitas di ruang kelas. Papan interaktif, kata dia, seharusnya dapat digunakan untuk menjelaskan konsep secara lebih menarik, membuka ruang interaksi, sekaligus mendorong kreativitas siswa.
Dari perencanaan hingga AI
Salah satu guru yang mengikuti kegiatan tersebut adalah Sumirah, guru Matematika SMPN 1 Atap Rimbakarya, Kabupaten Bandung Barat.
Dalam pelatihan, Sumirah mempelajari sejumlah cara memanfaatkan IFP, mulai dari menyusun perencanaan pembelajaran, membuat media interaktif, hingga mengembangkan Learning Management System (LMS) dengan bantuan AI.
“Bagaimana pemanfaatan papan interaktif digital yang sudah diberikan kepada sekolah kami. Mulai dari bagaimana membuat perencanaan, kemudian juga membuat media pembelajaran interaktif, dan juga bagaimana membuat Learning Management System menggunakan kecerdasan artifisial,” kata Sumirah.
Ia tidak ingin langsung menerapkan seluruh materi yang diperoleh. Sumirah berencana mempelajari kembali materi pelatihan dan menyesuaikannya dengan kebutuhan pembelajaran di sekolah.
Perencanaan, bahan ajar, dan media pembelajaran akan ia evaluasi agar penggunaan IFP tidak sekadar menjadi tambahan perangkat dalam proses belajar mengajar.
Bagi Sumirah, tantangan berikutnya adalah membuat teknologi tersebut benar-benar terasa manfaatnya bagi siswa. Ia berharap penggunaan media digital dapat membuat pembelajaran Matematika yang selama ini dianggap sulit atau membosankan menjadi lebih menarik.
“Semoga pembelajaran di sekolah saya, utamanya di kelas saya, bisa lebih aktif. Banyak siswa yang tadinya pasif bisa mengikuti pembelajaran dengan baik, terutama di pelajaran Matematika yang tadinya mungkin membosankan dan mumet, jadi lebih antusias,” ujarnya.
Menularkan pengalaman kepada guru lain
Pengalaman serupa dirasakan Dewa Romshani, guru SMP PGRI 385 Puteran. Ia mengaku mendapatkan pengetahuan baru mengenai sejumlah fitur IFP yang sebelumnya belum diketahuinya.
Dewa antara lain mempelajari penggunaan lima jari, fitur dua layar, hingga penerjemahan otomatis ke Bahasa Inggris.
“Alhamdulillah yang saya dapatkan dari pelatihan advokasi ini banyak sekali, mulai dari fitur-fitur papan interaktif digital,” kata Dewa.
Bagi Dewa, pengalaman tersebut memperluas pandangannya mengenai pembelajaran. Menurut dia, proses belajar tidak hanya ditentukan oleh materi, tetapi juga oleh media yang digunakan untuk menyampaikan materi tersebut.
Ia melihat AI dan IFP dapat dimanfaatkan guru untuk mengembangkan media pembelajaran sesuai kebutuhan siswa.
Setelah kembali ke sekolah, Dewa berencana membagikan pengetahuan yang diperolehnya kepada guru lain. Ia juga akan mengeksplorasi kembali materi pelatihan untuk menghasilkan media ajar yang lebih beragam.
“Yang pertama tadi sudah saya sebutkan akan share kembali kepada guru-guru rekan-rekan saya di sekolah. Kemudian yang kedua, tentunya kepada siswa yang menjadi tujuan utama dari pelatihan advokasi ini adalah mengembangkan kembali media-media ajar,” ujarnya.
Menurut Dewa, pemanfaatan IFP dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar dengan cara yang lebih beragam sekaligus mendorong mereka lebih kreatif menggunakan teknologi.
Ia berharap pelatihan serupa dapat menjangkau lebih banyak guru. Sebab, kegiatan advokasi yang diikutinya masih melibatkan perwakilan dari setiap sekolah.
“Harapan saya untuk pelatihan advokasi ini mungkin lebih luas lagi cakupan guru yang dituju,” kata Dewa.
Perangkat sebagai awal, bukan tujuan
Pengalaman Sumirah dan Dewa menunjukkan bahwa pemberian perangkat digital merupakan awal dari proses yang lebih panjang. Setelah perangkat tersedia, guru tetap membutuhkan pelatihan, ruang untuk bereksperimen, dan pendampingan agar teknologi tersebut dapat digunakan secara tepat.
Bagi guru, tantangannya bukan sekadar menguasai fitur IFP. Mereka perlu menerjemahkan teknologi itu menjadi bagian dari strategi pembelajaran—memilih fitur yang relevan, mengembangkan bahan ajar, dan menyesuaikannya dengan karakteristik siswa.
Dengan pendampingan yang berkelanjutan, papan interaktif digital diharapkan tidak hanya menjadi perangkat baru di ruang kelas. Teknologi tersebut dapat menjadi sarana bagi guru untuk menciptakan pembelajaran yang lebih aktif, beragam, dan dekat dengan kebutuhan siswa.





