Asta Cita Jadi Dasar Penguatan Gerakan ASRI dan PSEL untuk Hadapi Krisis Sampah

oleh
oleh

Pemerintah terus memperkuat upaya pengendalian perubahan iklim dan percepatan pengelolaan sampah sebagai bagian dari pelaksanaan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam mewujudkan pembangunan berkelanjutan, meningkatkan kualitas lingkungan hidup, dan mendorong pemanfaatan energi terbarukan. Hal tersebut disampaikan Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) dalam sesi Konferensi Pers Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI) terkait perkembangan Program Prioritas Nasional dan Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) di Jakarta.

Penyampaian ini sekaligus memanfaatkan momentum peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 untuk mengajak masyarakat memperkuat aksi nyata menjaga lingkungan.

Dalam konferensi pers tersebut, KLH/BPLH menyoroti dua agenda utama, yakni penguatan Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (ASRI) dan percepatan pembangunan Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai bagian dari transformasi sistem pengelolaan sampah nasional.

Plt Deputi Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah, dan Bahan Berbahaya dan Beracun (PSLB3) KLH/BPLH, Laksmi Widyajayanti, mengatakan bahwa tantangan lingkungan saat ini semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, kehilangan keanekaragaman hayati, hingga polusi yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

“Melalui tema ‘Saatnya Bekerja untuk Iklim’, kami ingin mendorong agar kepedulian terhadap lingkungan diwujudkan dalam aksi nyata dan menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat sehari-hari,” ujar Laksmi.

Sebagai upaya memperkuat partisipasi publik, pemerintah terus mendorong implementasi Gerakan Nasional Indonesia ASRI. Melalui gerakan ini, masyarakat diajak membangun budaya hidup bersih dan berkelanjutan melalui pemilahan sampah dari sumber, pengurangan sampah, serta keterlibatan aktif dalam berbagai kegiatan pelestarian lingkungan.

Di sisi lain, pengelolaan sampah masih menjadi tantangan yang memerlukan percepatan penanganan. Berdasarkan data nasional, timbulan sampah Indonesia mencapai sekitar 141.926 ton per hari, sementara tingkat pengelolaannya baru sekitar 26 persen.

Untuk menjawab tantangan tersebut, pemerintah menerapkan strategi pengelolaan sampah dari hulu hingga hilir melalui pengurangan sampah di sumber, penguatan ekonomi sirkular, optimalisasi TPS 3R dan bank sampah, hingga pemanfaatan teknologi pengolahan sampah yang ramah lingkungan.

Salah satu langkah yang tengah dipercepat adalah pembangunan Pengolah Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan Melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.

“Dengan timbulan sampah nasional yang mencapai sekitar 141.926 ton per hari dan baru sekitar 26 persen yang terkelola, diperlukan langkah percepatan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Salah satu upaya yang sedang kami dorong adalah pembangunan PSEL sebagai solusi untuk mengurangi timbunan sampah sekaligus menghasilkan energi terbarukan melalui teknologi yang ramah lingkungan,” kata Laksmi.

Pembangunan PSEL diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA), menekan pencemaran lingkungan, mendukung penurunan emisi gas rumah kaca, sekaligus memperkuat pemanfaatan energi terbarukan.

Melalui berbagai langkah tersebut, pemerintah menegaskan komitmennya untuk mendukung pelaksanaan Asta Cita melalui pembangunan yang berkelanjutan, penguatan ketahanan lingkungan, serta pengelolaan sampah yang lebih modern dan terintegrasi demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

No More Posts Available.

No more pages to load.