Menilik Sejarah Keraton Surosowan

Majalahteras.com – Sekitar 14 km sebelah utara Kota Serang, Provinsi Banten, tepatnya di Desa Banten, Kecamatan Kasemen, kawasan Banten Lama, terdapat reruntuhan Keraton Surosowan. Bangunan ini dahulu merupakan istana Kesultanan Banten yang menjadi pusat kerajaan dan tempat tinggal sultan bersama keluarga dan pengikutnya. Kini, reruntuhan tersebut hanya meninggalkan misteri dibalik masa keemasannya yang telah hilang.

Setelah ratusan tahun menjadi puing sampai saat ini Keraton Surosowan tidak bisa dibangun lagi, ada banyak hal yang menyebabkan peninggalan bersejarah itu tidak bisa direkontruksi, salah satunya karena material bangunan asli keraton sudah banyak yang hilang dipindahkan oleh penjajah Belanda untuk membangun gedung-gedung pemerintahan di Kota Serang.

Seperti diungkapkan Petugas Museum Kepurbakalaan Banten Lama, Turmudi,  Surosowan tidak dapat direkontruksi utuh seperti semula, karena tidak ada bukti yang kuat mengenai bentuk Surosowan hingga atap. Rekontruksi Keraton Surosowan maksimal hanya dapat dilakukan hingga pondasi bangunan, karena untuk merekontruksi keraton secara utuh dibutuhkan bahan-bahan bangunan yang sama, baik kualitas maupun warna seperti bangunan awalnya. Rekontruksi Keraton Surosowan tidak dapat dilakukan seperti rekontruksi Candi Borobudur atau Candi Prambanan. Kalau candi ada kuncian, sandi-sandi, dan sudah ada bagian-bagiannya, berbeda dengan Kerataon Surosowan tidak bisa seperti itu.

Turmudi menjelaskan, dahulu surosowan berwujud gundukan tanah ditumbuhi rerumputan berbukit-bukit, kemudian dilakukan penggalian untuk mengetahui bentuk dan mencari peninggalan lainnya.

Berdasarkan kajian arkeologi mengenai Keraton Surosowan Banten Lama, paling sedikit telah mengalami lima tahap pembangunan. Dari data pengupasan dan penggalian keraton sekarang ini hanya dapat memperlihatkan adanya dua fase pembangunan.

Berdasarkan sisa ubin dalam tiap ruang, diperoleh rekonstruksi ukuran dan pola pasang ubin pada tiap ruang di kompleks keraton. Diperoleh pula data untuk merekonstruksi pola pasangan bata dinding bangunan dan pondasi pada bangunan di kompleks keraton. Sementara itu, fungsi bangunan yang diketahui adalah tempat tinggal sultan dan keluarga, bangsal terima tamu, kolam Roro Denok, dan pemandian Pancuran Mas.

Dari analisis struktur bangunan, diketahui bahwa ada beberapa tipe pondasi digunakan di Keraton Surosowan. Tipe yang banyak digunakan adalah tipe yang terdiri atas enam lapisan; dua lapisan terbawah menggunakan karang berbentuk kotak seadanya, dan empat lapisan di atasnya menggunakan bahan bata. Tiap lapisan disusun sedemikian rupa sehingga tersusun secara simetris makin ke atas makin mengecil.

Dari struktur dinding juga diketahui terdapat beberapa tipe, umumnya adalah berupa susunan bata utuh sedemikian rupa sehingga dari sisi luar dinding terlihat: lapis pertama berupa susunan sisi tebal-panjang bata (strek), lapis kedua berupa susunan sisi tebal-lebar bata (kop), lapis ketiga kembali sama seperti lapis pertama, lapis keempat sama dengan lapis kedua, dan seterusnya.

Sementara itu, dari struktur lantai diketahui bahwa digunakan dua bahan yaitu ubin (untuk ruang yang penting) dan bata (untuk ruang yang kurang penting dan jalan/gang). Dari analisis struktur bangunan juga diketahui bahwa Keraton Surosowan yang tampak sekarang ini juga dibangun secara bertahap. Tahapan itu terlihat pada gejala penambahan ruang, penutupan struktur untuk peninggian lantai.

Dari analisis tata letak bangunan, khususnya struktur bangunan di dalam komplek keraton, diperoleh informasi terdapat: kediaman sultan, bangunan untuk istri dan kerabat keraton, bangunan terbuka dengan tiang dan permadani, Roro Denok (kolam dan bale kambang), kolam Pancuran Mas, Siti Luhur, Made bahan, Made mundu, Made gayam, kandang kuda, dan tempat kereta kuda. Berdasarkan data lapangan di dalam keraton yang masih terlihat dapat dikatakan bahwa bangunan yang dianggap sama hanyalah: kolam Roro Denok.***

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *