Dampak Abu Vulkanik Untuk Kesehatan

Majalahteras.com – Status Gunung Agung di Bali telah naik dari Tingkat III (siaga) menjadi Tingkat IV (awas)  sejak Jumat (22/9/2017). Level Awas adalah level tertinggi dalam status gunung api. Efeknya, wilayah steril Gunung Agung yang semula radius enam kilometer dari puncak gunung, kini diperluas menjadi sembilan kilometer.

Perluasan wilayah sektoral pun juga ditambah yang semula 7,5 kilometer menjadi 12 kilometer. Masyarakat di sekitar lereng gunung pun diminta untuk menjauhi wilayah tersebut untuk menghindari dampak potensi bila terjadi erupsi seperti material padat, cair, gas hingga abu vulkanik.
Biasanya, abu vulkanik menjadi persoalan serius bila terjadi sebuah letusan gunung api karena dampaknya sangat luas. Abu vulkanik berpotensi membahayakan dunia penerbangan. Bagi lingkungan, abu vulkanik bisa menurunkan kualitas air dan jangka pendek merusak tanaman, hingga berpotensi menyebabkan berbagai jenis penyakit bagi makhluk hidup termasuk manusia.

Berdasarkan data Pusat Pengkajian, Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Sekretariat Jenderal DPR RI, dari sejumlah 34.973 pengungsi pada bencana letusan Gunung Kelud, Jawa Timur, 13 Februari 2014, terdapat penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) mencapai 790 orang, penyakit yang dominan menyerang pengungsi kala itu.

 

Sejauh mana abu vulkanik memengaruhi kesehatan manusia? Dampak abu vulkanik bagi kesehatan bisa ditelaah dari kandungan kimia abu vulkanik itu sendiri. Pulmonologist, dr. Ceva Wicaksono Pitoyo, SpPD,KP FINASIM menggambarkan bahwa, secara kasar, abu vulkanik itu seperti abu semen, berupa batuan kecil dan halus yang terlempar ke atas saat terjadi erupsi gunung api.

Abu vulkanik mengandung unsur mayor berupa aluminium, silika, kalium dan besi, unsur minor berupa iodium, magnesium, mangan, natrium, pospor, sulfur dan titanium, dan tingkat trace meliputi aurum, asbes, barium, kobalt, krom, tembaga, nikel, plumbum, sulfur, stibium, stannum, stronsium, vanadium, zirconium, dan seng. Sedangkan lima komposisi kimia tertinggi dari tanah abu vulkanik gunung berapi secara urutan adalah silikon dioksida mencapai 55 persen, aluminium oksida 18 persen, besi oksida 18 persen, kalsium oksida 8 persen, dan magnesium oksida 2,5 persen.

Abu vulkanik saat di udara biasanya ukurannya sangat kecil, kurang dari 2µm. Menurut The International Volcanic Health Hazard Network, secara umum abu vulkanik menyebabkan masalah kesehatan khususnya menyebabkan iritasi pada paru-paru, kulit, dan mata.

Gejala pernapasan akut yang sering dilaporkan oleh masyarakat setelah gunung meletus adalah iritasi selaput lendir dengan keluhan bersin, pilek, beringus, iritasi, dan sakit tenggorokan. Penyakit tersebut kadang disertai batuk kering, batuk dahak, mengi, sesak napas, dan iritasi pada jalur pernapasan. Gangguan tersebut akan lebih berat bila terkena pada orang atau anak yang sebelumnya mempunyai riwayat alergi saluran napas dan bronkitis kronis, eufisema, atau asma.

Selain itu, abu vulkanik yang terhirup dapat merangsang peradangan di paru-paru serta luka di saluran napas. Luka ini seperti codet di kulit yang akan menyebabkan luka permanen pada alveolus yang dalam jangka panjang berpotensi menyebabkan kanker.

Ketika abu vulkanik tersebut bersifat asam dan mengenai kulit tubuh bisa menyebabkan gatal-gatal, iritasi, dan infeksi. Iritasi pada kulit tersebut bisa juga diakibatkan oleh perubahan kualitas air yang sudah tercemar abu vulkanik yang bersifat asam.

Suntoro, peneliti dari Program Studi Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sebelas Maret, Surakarta, meriset mengenai dampak abu vulkanik erupsi Gunung Kelud. Ia menjelaskan bahwa pengaruh abu vulkanik terhadap kesehatan masyarakat dapat terlihat dari meningkatnya penyakit mata.

Ia juga menyebutkan bahwa dengan terhirupnya 3-7persen kristal silika dari abu vulkanik akan meningkatkan asma pada penderita penyakit asma dan potensi bronkitis serta efek psikologis. Selain itu, keracunan Fluor dan kematian ternak dapat terjadi jika ternak merumput di rumput yang mengandung abu yang mengandung fluoride walaupun setebal 1 mm.

Anih Sri Suryani, Peneliti Muda Kesehatan Lingkungan bidang Kesejahteraan Sosial pada Pusat Pengkajian Pengolahan Data dan Informasi (P3DI) Setjen DPR RI, dalam kajiannya menyatakan bahwa  upaya untuk menghindari dampak negatif abu negatif terhadap lingkungan relatif sangat terbatas.

Menurutnya, untuk menghindari dampak negatif abu vulkanik terhadap kesehatan, maka paparan abu vulkanik tersebut harus dicegah dengan berada sejauh mungkin dengan lokasi letusan. Mereka harus menghentikan konsumsi air dari sumber air yang telah tercemar. Selain itu aktivitas di luar perlu dikurangi, rumah harus dalam keadaan tertutup untuk mencegah masuknya abu dan gas ke dalam rumah. Penggunaan masker adalah hal mutlak dilakukan. Alat perlindungan diri yang lainnya, seperti kaca mata, juga diperlukan untuk mengurangi iritasi abu dengan mata.

Hartini Retnaningsih, Peneliti bidang Studi Kemasyarakatan (Kepakaran Analisis Dampak Sosial dan Evaluasi Program), dalam kajiannya mengenai letusan di Gunung Sinabung turut menjelaskan metode untuk mengurangi dampak dari abu vulkanik. Salah satu metode yang dapat dilakukan adalah dengan hujan buatan yang bertujuan untuk melarutkan abu vulkanik guna mengurangi risiko-risiko penyakit infeksi saluran pernapasan akut dan mencegah kerusakan tanaman. (jem/net)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *