Putus Rantai Kekerasan di Pesantren, Musyrif dan Musyrifah Dilatih Menerapkan Disiplin Tanpa Fisik

oleh
oleh

MAJALAHTERAS.COM – Penasihat Menteri Agama bidang Penguatan Moderasi Beragama dan Karakter Bangsa, Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid, menyambut baik inisiatif Kemenag menggelar Pelatihan Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Pesantren. Pelatihan ini diselenggarakan secara online melalui platform Massive Open Online Course (MOOC) PINTAR Kemenag.

Menurutnya, pelatihan ini penting untuk membekali para pendamping santri (musyrif dan musyrifah) di seluruh Indonesia terkait upaya pencegahan kekerasan seksual di pesantren. Pemahaman yang komprehensif mengenai pencegahan kekerasan sangat krusial agar para musyrif dan musyrifah dapat menjadi pelopor perubahan menuju ekosistem pesantren yang aman dan nyaman.

“Pelatihan pencegahan dan penanganan kekerasan di pesantren itu penting untuk segera kita lakukan untuk membantu para musyrif-musyrifah menjadi agen-agen perubahan di pesantren,” ujar Alissa di kampus Pusat Pengembangan Kompetensi Sumber Daya Manusia (Pusbangkom SDM) Pendidikan dan Keagamaan Kementerian Agama, Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu (21/10/2026).

Ia menyoroti bahwa kasus kekerasan di lingkungan lembaga pendidikan keagamaan sering kali dipicu oleh penerapan disiplin yang kurang tepat dan berpotensi memicu penggunaan hukuman fisik. “Tradisi pesantren yang menerapkan disiplin yang cukup tegas itu seringkali memerangkap para musyrif-musyrifah untuk tegas sama dengan menggunakan hukuman fisik,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Alissa menjelaskan bahwa praktik tersebut berisiko membentuk budaya kekerasan berulang, baik antarsantri—seperti senior kepada junior—maupun yang melibatkan pengasuh. Oleh karena itu, Kementerian Agama mengambil langkah strategis melalui pelatihan berbasis digital ini agar jangkauannya lebih luas dan merata.

“Ini yang membuat penting bagi Kementerian Agama untuk membantu mendampingi para musyrif-musyrifah supaya mereka paham persoalannya seperti apa dan juga bisa mendorong perubahan,” tuturnya.

Melalui kehadiran Alissa Wahid sebagai narasumber dalam pelatihan di MOOC PINTAR Kemenag, para peserta diharapkan dapat menyerap materi pencegahan kekerasan secara fleksibel dan aplikatif, sehingga mampu mewujudkan lingkungan pesantren yang ramah, humanis, dan bebas dari kekerasan.

 

No More Posts Available.

No more pages to load.