PK-Tren Orkestrasi Satukan Suara 42 Ribu Pesantren di Indonesia

oleh
oleh -

Cirebon, 28 Agustus 2025 – Persaudaraan dan Kemitraan Pondok Pesantren (PK-Tren) Indonesia semakin menegaskan perannya sebagai jembatan antara pesantren dan kebijakan publik.

Dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I, Sarasehan, dan Halaqoh IV di Pondok Pesantren Bina Insan Mulia 2, Cirebon, 25–27 Agustus 2025, PK-Tren menyatukan aspirasi lebih dari 42 ribu pesantren di seluruh Indonesia.

Wakil Presiden ke-13 Republik Indonesia sekaligus Ketua Dewan Pertimbangan PK-Tren, KH. Ma’ruf Amin, menggambarkan PK-Tren dengan metafora yang kuat seperti dirigen dalam orkestrasi musik.

Baca Juga  Kalapas Pasir Putih dan Pejabat Struktural Ikuti Penguatan Reformasi Birokrasi oleh Stafsus Menkumham Bidang Pengamanan dan Intelijen

“PK-Tren hadir sebagai dirigen yang memimpin orkestrasi pesantren di Indonesia. Setiap pesantren adalah alat musiknya, dengan suara dan potensinya masing-masing. Tugas PK-Tren adalah menyelaraskan semuanya agar harmonis, sehingga suara pesantren terdengar jelas dalam pembangunan bangsa.” ungkapnya

Menurut KH. Ma’ruf, peran ini tidak hanya simbolis. Melalui orkestrasi ini, pesantren dapat bersinergi dengan pemerintah untuk mendorong pendidikan berkualitas, dakwah yang berdampak, dan kemandirian ekonomi pesantren melalui koperasi dan unit usaha pesantren.

Baca Juga  Angkasa Pura Supports Raih Skor 4.90 Indeks Pelayanan Publik Kategori A (Prima) dari Poltekkes Kemenkes Banjarmasin

Ketua Umum PK-Tren, KH. Dr. M. Ilyas Marwal, Lc., M.M., D.E.S.A., menambahkan pesantren adalah jantung peradaban bangsa. Suara mereka tidak boleh terpinggirkan. “PK-Tren hadir untuk memastikan aspirasi pesantren didengar dan direspons dalam kebijakan publik” jelasnya.

Halaqoh IV ini menyoroti tantangan regulasi, peluang pengembangan ekonomi umat, dan strategi memperkuat kemandirian pesantren.

Baca Juga  Menkumham RI Ingatkan Jajaran Perketat Prosedur Pencegahan Dan Penanganan Covid-19

Dengan jaringan luas lebih dari 42 ribu lembaga dan jutaan santri, PK-Tren menegaskan pesantren bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga motor inovasi dan mitra strategis negara menuju Indonesia Emas 2045.

KH. Ma’ruf berpesan jika orkestrasi ini berhasil, Indonesia akan mendengar harmoni dari ribuan suara pesantren. “Harmoni itu adalah kekuatan kita untuk membangun bangsa yang adil, mandiri, dan kompetitif di panggung global.” ungkapnya (*)