PERSIS : Visi  Kemanusiaan Universal  dan Visi Rahmat untuk Semesta Alam

oleh
oleh
Visi rahmat untuk semesta alam. Dasarnya, wahyu. Al-Anbiyaa : 107

VisiKemanusiaan Universal

Pidato Presiden Sukarno di PerserikatanBangsa-Bangsa (PBB), New York, Amerika Serikat, 30 September 1960,membakar semangat perubahan dan kemandirian bangsa-bangsa di Dunia Ketiga.Situasi ketika itu, memang,dunia sedang tidak baik-baik saja.Perang dingin Blok Barat (Amerika Serikat) dan Blok Timur (Uni Soviet) tidak bisa dibekukan.

Dalam pidato monumentalnya itu, di bawah judul “To Build the World Anew” (“Membangun Dunia Baru”), Presiden Sukarno mengeritik dominasi kekuatan Imperialisme dan Kolonialisme karena mengancam perdamaian dunia, lalu mengusulkan Pancasila sebagai ideologi alternatif dunia.Diusulkan pula, agar PBB ditata ulang supaya lebih adil terhadap negara-negara yang baru merdeka di Asia dan Afrika.

Presiden Sukarno mengutip surat Al-Hujurat :13 untuk mengingatkan pemimpin di dunia, bahwa  perbedaan bangsa dan suku bukanlah alasan untuk saling menindas, melainkan untuk saling mengenal dan bekerja sama secara adil.

Presiden Sukarno mengaitkan surat Al-Hujurat : 13 itu dengan surat Ar-Ra’du : 11. Dalam pandangannya, berdasarkan ayat ini, perubahan nasib bangsa akan ditentukan oleh dirinya sendiri, bukan oleh orang lain.

Sebagai pelengkap narasi universalitas lintas agama, Presiden Sukarno mengutip ajaran Kristen, Love thy neighbour as thyself (Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri), berasal dari Gospel of Matthew 22:39 dan Gospel of Mark 12:31.

Pidatonya yang mengandung visi kemanusiaan universal ini kemudian jadi Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World), dicatat oleh  UNESCO, sebuah badan PBB yang bermarkas  di Paris, Prancis.

Sampai saat ini, tampaknya, belum ada lagi pidato presiden Indonesia yang menjadi Warisan Ingatan Dunia UNESCO, selain pidato Presiden Sukarno.Juga, presiden Indonesia yang mengutip ayat Al-Qur’an dalam pidatonya di PBB, boleh jadi, baru Presiden Sukarno..

Syekh Ketum PP PERSIS, kalau bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto, boleh berbisik,  titip mengutip ayat Al-Qur’an  kalau berpidato lagi di PBB, untuk mengulangi sejarah, seperti Presiden Sukarno dulu.

 

Visi  Rahmat untuk Semesta Alam

Tema muktamar PERSIS ke-16, tahun 2022.Transformasi gerakan dakwah PERSIS mewujudkan Islamrahmatan lil ‘alamin dalam bingkai Negara KesatuanRepublik Indonesia”.

Kalau saja dihubung-hubungkan dengan gagasan Ketua Umum PP PERSIS K.H. Dr. Jeje Zaenudin, M.Ag.,maka tema muktamar PERSIS ke-17, tahun 2027 nanti, bisa saja diperluas, dari Islam rahmatan lil ‘alamindalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia jadi Islam rahmatan lil ‘alamindi pentas dunia. Kalau sudah menyebut pentas dunia,  otomatistermasuk di dalamnya NKRI dengan segala bingkainya. Ok?

Ada sejumlah persamaan yang menarik antara visi kemanusiaan universal (antroposentris) yang disampaikan Presiden Sukarno dan visi rahmat untuk  semesta alam (kosmosentris) yang bersumber dari wahyu (Al-Qur’an). Ayatnya, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam“ (Al-Anbiya : 107).

Sejumlah persamaan yang menarik itu berjumpa pada titik temu yang kuat, meliputi kemanusiaan universal, penolakan penindasan, anti-Kolonialisme, terwujudnya perdamaian dunia, persamaan derajat bangsa-bangsa, perubahan berasal dari manusia sendiri, dan  solidaritas internasional.

Meskipun memiliki banyak titik temu, keduanya berbeda dalam landasan.Visi Presiden Sukarno berangkat dari Humanisme, Nasionalisme, anti-Kolonialisme, dan keadilan internasional, sedangkan visi Islam rahmat untuk semesta alam berangkat dari wahyu (Al-Qur’an) dan misi profetik (kenabian).

PERSIS pada abad ke-15 hijriyah inginmenegaskanjati dirinyatetap menjadi instrumen efektif dalam menghadirkan Islam sebagai rahmat untuk semesta alam.Keinginan seperti itu, kata Dr, Jeje, dan dengan sangat bersemangat, bisa diwujudkan dengan penguatan identitas jamiyah  yang kokoh nan  teguh, modern, sekaligus jamiyah yang punya visi global untuk mengintervensi isu kemanusiaan.

Islam sebagai rahmat untuksemesta alam, kata Dr. Jeje lagi, harus jadi  visi global.”PERSIS harus menggaungkannya di pentas  dunia, melalui  penyeimbangan watak verifikasi dan purifikasi ajaran Islam dengan kontribusi nyata, seperti ikut mewujudkan bangsa yang adil, makmur, dan mandiri,“ tegas Dr. Jeje.

Bagaimana visi rahmat untuk semestaalam itu diusung?Tentu saja, PERSIS memerlukan diplomat, pakar politik luar negeri, pakar komunikasi politik, pakar hukum internasional, dan lain-lain.Siapa pengusungnya?Biarkan Madrasah Siyasah PP PERSIS memperluas jangkauannya dengan mencetak kader-kader yang dibutuhkan.

Andai saja ketika itu Presiden Sukarno  melengkapi pidato visi kemanusiaan universal-nya dengan visi rahmat untuk semesta alam, dan mengutip surat A-Anbiyaa-a : 107, betapa dunia akan kian terkesima.

Dengan diawali Konferensi Asia Afrika di Bandung (1955), lalu pidato Presiden Sukarno  di markas PBB (1960) itu, setahun kemudian terbentuk negara-negara nonblok, dalam KTT I Beograd, Yugoslavia, 1- 6 September 1961.

Duh,…Indonesia yang baru merdeka 15 tahun,  tidak diduga sebelumnya, punya nyali besar, jadi inspirator pembentukan “moderasi” berbangsa dan bernegara di tengah-tengah Blok Barat dan Blok Timur.

Para pendiri Gerakan Non-Blok, Sukarno (presiden Indonesia), Gamal Abdul Nasser (presiden Mesir), Pandit Jawaharlal Nehru (Perdana Menteri India), Josip Broz Tito (presiden Yugoslavia), dan Kwame Nkrumah (Presiden Ghana).

Pidato Presiden Sukarno di KAA (Bandung, 1955), lalu  di PBB (New York, 1960),  memang berpengaruh, dan membangkitkan harga diri bangsa-bangsa yang baru merdeka dewasa itu.

 

Mimpi  PERSIS?

PERSIS harus membuktikan bahwa menjadi pemeluk  Islam yang murni  tidak berarti tertutup. Justru, dengan kemurnian itulah, PERSIS memiliki jangkar yang sangat kuat. Dengan demikian, PERSIS tidak akan linglung atau  limbungketika harus berenang di tengah ombak besar geopolitik dunia yang penuh intrik.

Tentu, menarik sekali kalau PERSIS kelak melompat ke pentas dunia, dengan mengusung visi rahmat untuksemesta alam, tetapi  tidak kehilangan karakter verifikasi dan purifikasinya.

Visi rahmat untuk semesta alam yang kosmopolis tidak akan mengabaikan visi kemanusiaan universal yang antropolis, karena memang sudah termasuk di dalamnya. Dengan visi rahmat untuk semesta alam, misalnya, PERSIS bisa berkontribusi pada perdamaian dunia, ikut mengampanyekan gerakan peduli lingkungan (go green), ketahanan pangan, dan gaya hidup berkelanjutan.

PERSIS sedang bermimpi? Peristiwa besar diawali dengan mimpi dulu, seperti mimpi Nab Yusuf AS dengan 11 bintang serta matahari dan bulan yang bersujud kepadanya (Yusuf : 4). Juga, mimpi Nabi Ibrahim ASyang diuji menyembelih anaknya (Ash-Shaffat : 102), lulus, lalu jadi teladan sepanjang masa. Nabi Ibrahim AS sekeluarga disebut di setiap salat, juga jejak dan langkahnya(napak tilas) ditelusuri di setiap ibadah umrah dan haji.(Dean Al-Gamereau)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

No More Posts Available.

No more pages to load.