Semangat Pers Kampus
Dari sebuah desa/Berbekal gitar tua/Datang di ibu kota/Jadi seorang biduan/Jadi seorang biduan. Itu grup musik Bimbo dari Bandung, dengan judul lagu lawasnya “Balada Seorang Biduan”. Lagu ini diciptakan Raden Muhammad Samsudin Hardjakusumah, atau lebih dikenal Sam Bimbo. Lagu diproduksi pada tahun 1976. Sebuah cerita sederhana tentang seseorang dari desa yang ingin jadi biduan di ibu kota.
Ada seorang laki-laki yang sekolah di SD, SMP, dan SMA di desa (kampung halamannya), Banda Aceh. Lalu, kuliah di Universitas Riau (UNRI) berbekal tekad, dan bercita-cita jadi wartawan.
Dia menyukai pers kampus, saat jadi mahasiswa. Maka, jurnalisme jadi “pintu masuk” untuk mencapai cita-citanya. Berhasil, beberapa jabatan penting di jajaran redaksi didudukinya, di Aceh, Riau, dan Sumatra.
Dalam perjalanan kariernya, dia jadi direktur utama Harian Sumut Pos , komisaris Rakyat Aceh, Metro Siantar, Posmetro Medan, Komisaris Pekanbaru Pos , dan direktur utama Komisaris Riau Televisi (RTV).
Pernah pula jadi ketua PWI Provinsi Riau, dua kali masa jabatan. ketua Serikat Pekerja Pers (SPS) Riau, ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Riau, dan terakhir sekjen PWI Pusat.
Perjalanan kariernya ini menunjukkan kombinasi profesi wartawan, manajer media, dan pemimpin organisasi pers. Sukses. Pers kampus membuatnya bersemangat. Jurusan di FISIP UNRI yang dipilihnya, administrasi negara, padahal tak beririsan dengan jurnalisme.
Bang Zum, Pergi
Sabtu lewat tengah malam itu (18/04/26), waktu seperti berjalan lebih pelan dari biasanya. Tiba-tiba, kabar itu datang, tak permisi atau mengetuk, tak pula memberi isyarat. Bang Zum (di Riau) atau Bang Zul (di Jakarta), demikian Zulmansyah Sekedang biasa dipanggil. akhirnya seperti daun yang diam-diam melepaskan diri dari rantingnya. Bang Zum telah pergi.
Lalu, di layar-layar ponsel pengurus PWI Pusat khususnya, namanya menyebar dalam pesan singkat, disusul kalimat yang terasa amat sangat mengejutkan, “telah wafat”.
Kata-kata itu biasanya mereka tulis untuk orang lain, kini harus mereka baca untuk seseorang yang selama ini berdiri di tengah mereka. Bang Zum bukan sekadar sebagai pemimpin, melainan sebagai sesama pejuang kata. Maka, sunyi pun berubah rupa. Ia jadi lebih berat.
Di ruang Kantor PWI Pusat, mungkin pagi ini terasa berbeda. Kursi-kursi masih ada, meja masih sama, kopi masih mengepul seperti biasa. Namun, ada sesuatu yang tak lagi hadir. Suara yang dulu mengikat, menenangkan, atau sekadar menyela dengan candaan ringan dan lucu di sela-sela rapat.
Bang Zum tahu, dunia pers tak selalu ramah. Kata-kata bisa menjadi jembatan, tetapi juga bisa menjadi jurang. Di antara semua itu, Bang Zum memilih berdiri, tak selalu di depan, tetapi selalu hadir.
Tumbuh dari Daerah
Bang Zum datang dari jauh, dari Aceh, lalu ke Riau, dan berlabuh di ibu kota.Tak membawa gitar tua untuk jadi biduan, seperti lagu Bimbo, tetapi membawa tekad, jadi pejuang kata.
Suami dari Hj. Saltuti Asra ini adalah representasi generasi wartawan yang tumbuh dari daerah, menempa diri di organisasi, lalu mencapai puncak kepemimpinan nasional di Jakarta.
Ayah anak tunggal ini (Abinyu Putra Sekedang, 23 tahun, kuliah di Malaysia), berangkat dari Aceh ke Riau, lalu ke Jakarta. Kabarnya, Bang Zul di Jakarta tiga hari dan di Riau tiga hari pula. Kabarnya, biaya sendiri.
Jejak Bang Zum jadi bagian penting dalam sejarah pers Indonesia kontemporer. Anak keenam dari tujuh bersaudara ini, boleh jadi, tak sepopuler pejuang kata yang lain. Namun, justru di sinilah Bang Zum dikenang..
Buku Feature Badui, HPN 2026
Di suatu tempat, mungkin masih ada pesan Bang Zum yang belum sempat dibalas. Di tempat lain, ada rencana yang belum sempat selesai dibicarakan. Di banyak hati, ada ingatan yang akan tinggal lebih lama dari apa pun yang bisa ditulis hari ini.
Contohnya, masih bisa terbaca di grup WA, Bang Zum sedang menyiapkan cetakan buku feature tentang Badui, karya wartawan peserta kemah di Desa Kanekes, dalam rangka HPN 2026 di Provinsi Banten. Inilah perhatian dan pekerjaan Bang Zum yang terakhir, berkaitan dengan karya jurnalistik,
Dunia pers akan terus berjalan, seperti waktu yang tak pernah berhenti. Namun, di antara derap sang waktu, akan selalu ada satu langkah yang terasa hilang. Kita akan mengenangnya, bukan hanya sebagai sekretatris jendereal, melainkan sebagai seorang kawan.
Rasa Kehilangan itu…
Barangkali yang paling terasa hilang bukanlah jabatannya, melainkan kebiasaan kecil, seperti menjawab telepon, mengirim pesan singkat, atau sekadar bertanya kepada temannya sebagai pelepas rindu. “Bagaimana kabar di daerah?
Bang Zum paham, dan sudah ditempa sejak aktif di pers kampus, bahwa jadi pejuang kata bukan jalan yang selalu lurus dan mudah. Seperti banyak wartawan lain, dan harus hadir dengan sebuah keyakinan, “bahwa kata-kata punya arti”. Bang Zum merawatnya baik-baik.
Kata Ramon Damora, sahabatnya di PWI Riau, “Ia wartawan Riau Pos dengan kode zum, ditulis huruf kecil. Dari kofr huruf kecil inilah nama besar. Ia role mode wartawan masa itu.Gagah, good looking, perlente, jejaring luas, dan ysng penting bisa menulis cepat dan bagus”.
Di tengah perubahan zaman, dan di tengah derasnya arus informasi yang kadang tak lagi peduli pada kebenaran, Bang Zum tetap percaya bahwa pers harus berdiri di tempat yang semestinya : tak boleh goyah, dan tak boleh mudah terbawa arus. Oleh karena itu, Bang Zum tak ingin berpaling dari pers, dari profesi pejuang kata, meski kian berat.
Beberapa hari terakhir ini, akan banyak wartawan yang menulis tentangnya. Menyusun kalimat, merangkai kenangan, memilih kata yang cukup hormat untuk mengantar kepergiannya.
Namun. selalu ada satu hal yang sulit dituliskan. Rasa kehilangan. Ini tak pernah benar-benar bisa dijelaskan. Kehilangan hanya bisa dirasakan dalam jeda, dalam diam, dalam ruang yang tiba-tiba terasa lebih sempit seperti di ruang rapat PWI Pusat. Akan ada saatnya, Bang Zum tak hadir untuk kali pertama di rapat PWI Pusat. Maka, kehilangan akan kian terasa, tak bisa dijelaskan dengan kata-kata, oleh pejuang kata sekalipun.
Pamungkas
Bang Zum menyaksikan pembentukan Serikat Wartawan Senior +60. (SWSI) di kampus LSPR, Jakarta. Ini seakan pamit kepada para seniornya, “Saya pergi lebih dulu menghadap-Nya, biar pun masih muda, belum termasuk senior”.
Hari ini, kita menggali kubur untuk orang lain. Besok atau lusa, orang lain menggali kubur untuk kita. Hari ini. kita melipat kain kafan untuk orang lain. Besok atau lusa, orang lain melipat kain kafan untuk kita.
Nasihat Khalifah Ali bin Abu Thalib, “ Hari ini, di dunia, ada amal, tetapi tak ada hisab. Besok, di akhirat, ada hisab, tetapi tak ada amal”. Penting jadi renungan untuk para pejuang kata. (Dean Al-Gamereau).





