Museum Multatuli, Sumbangan Khazanah Histori Banten

oleh
oleh -

MAJALAHTERAS.Com – Provinsi Banten terkenal dengan wisata alam, wisata religi dan wisata sejarah. Untuk jenis wisata yang terakhir, tidak lama lagi daya destinasi wisata sejarah akan kembali diperkaya, kini sudah ada Museum Multatuli.

Bertepatan 197 tahun kelahiran Douwes Dekker alias Multatuli, museum yang diberi nama Multatuli di Kota Rangkabitung, Provinsi Banten, bakal menjadi museum antikolonial pertama di Indonesia.

Bangunan museum, yang merupakan bekas kantor dan kediaman Wedana Lebak (dibangun pada 1920-an), kini terus dilengkapi isinya.

Walaupun disebut Museum Multatuli, museum ini disiapkan sebagai museum tentang gerakan antikolonialisme -sejak persinggungan awal berbagai wilayah di Nusantara di abad 14 dengan Belanda, Portugis, Spanyol hingga berdirinya Republik Indonesia.

Siapa yang tak mengenal sosok Multatuli. Simbol pembangkang yang memiliki nama asli Edward Douwes Dekker itu konon getol melakukan perlawanan terhadap kolonial Belanda. Dia juga kerap mengangkat derita dan kemiskinan masyarakat Lebak melalui novel Max Havelaar. Tak lama lagi, ia akan mendapat “rumah” berupa museum.

Baca Juga  Tingkatkan Kualitas Pendidikan, MDC of Lebak Gelar Bimtek PKKM Penguatan Kompetensi

Saat tulisan ini dibuat, menurut Bupati Lebak Iti Octavia Jayabaya, masih pengerjaan patung berbahan perunggu ikon Multatuli dan Saija-Adinda. Tidak kepalang tanggung, pengerjaan patung langsung dilakukan oleh maestro patung tanah air Dolorosa Sinaga.

Iti berharap peresmian museum ini bisa rampung sebelum ia cuti sebagai Bupati Lebak menghadapi Pilkada Lebak 2018. Menurut perkiraan Iti, acara tersebut akan dihadiri oleh wisatawan, akademisi dan peneliti asing dari berbagai negara. Mulai dari Belanda, Amerika, Jerman dan Korea. “Mereka orang-orang yang mencintai sosok Multatuli,” kata Iti.

Mengenai konten museum, pihaknya mengaku sudah bekerja sama dengan Yayasan Multatuli Genootschap, Belanda. Ada beberapa artefak yang akan didatangkan dari sana. Mulai dari buku Max Havelaar terbitan tahun 1860 dengan judul Max Havelaar, of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij.

Selain itu ada juga benda sejarah berupa tegel atau lantai yang dulu merupakan rumah tinggal Douwes Dekker serta banyak lagi peninggalan Multatuli termasuk miniatur kapal VOC.

Museum ini, lanjut Iti akan dibagi menjadi lima ruangan yang salah satu ruangannya menceritakan kisah hidup Multatuli. Ada juga ruangan yang menceritakan sejarah Banten, kemudian para sesepuh yang turut serta memerdekakan Banten.

Baca Juga  Di Tengah Pandemi, Untirta Gelar Wisuda Daring Pertama

“Kemudian juga ada tentang potensi Lebak seperti kasepuhan Baduy, dan termasuk sejarah Cikotok karena potensi emasnya,” ujar Iti.

Museum Multatuli Bukan Kultus Sosok

Iti menegaskan, tujuan dibangunnya museum ini bukan semata untuk mengkultuskan sosok Multatuli. Peran museum ini, hemat Iti untuk menjadikan masyarakat yang menghargai sejarah. Sikap otokritik terhadap kekuasaan kolonial yang dimiliki oleh Multatuli merupakan pelajaran berharga untuk warga Lebak dan Bangsa Indonesia.

“Artinya semangat Multatuli ketika menjadi residen di Kabupaten Lebak semangatnya ialah bagaimana menghapuskan penindasan kepada masyarakat lokal dari penjajahan Belanda. Makanya dia melawan kebijakan kolonial. Itu penyebab dia ditugaskan di Lebak tidak lama didepak ke Belanda,” tutur Bupati Lebak itu.

Multatuli, hemat Iti bukannya menjalankan visi Belanda untuk menjalankan kerja paksa dan upeti, alih-alih mendorong masyarakat Kabupaten Lebak harus bangkit dari ketertindasan dan kemiskinan. “Inilah semangat yang ingin kita bangun.”

Baca Juga  Sinergi FU UIN Jakarta-Mustafa International University Gelar International Ushuluddin Lecture

Nilai Strategis Multatuli

Iti mengakui sebelumnya terjadi diskursus yang hangat mengenai pendirian museum yang akan menempati bangunan bekas kewedanaan Lebak tersebut. Pilihan jatuh kepada Multatuli karena ia ingin berlaku lokal, berpikir global.

Act local, think global. Kalau misalnya saya buat Museum Iti, siapa yang mau datang. Tapi kalau nama Multatuli ini kontennya saja belum masuk ke Lebak, tetapi dari berbagai negara sudah datang ke Lebak. Orang tertarik untuk datang ke Lebak,” imbuhnya.

Hal tersebut menurut Iti sangat positif untuk menarik wisatawan bukan hanya domestik namun internasional. “Inilah yang ingin kita ambil supaya Kabupaten Lebak bisa mendunia dengan nama Multatuli, tetapi semangat yang ada di dalamnya tetap bagaimana masyarakat Lebak bangkit dari kemiskinan melalui museum ini,” tandasnya.

Lebih jauh ia berharap dengan berdirinya Museum Multatuli ini akan menjadi wisata literasi, wisata budaya, sekaligus wisata sejarah di Lebak.@IMAN