MRT Jakarta Menargetkan 40.000 Penumpang Perhari

Direktur Utama MRT Jakarta William P Sabandar saat jadi pembicara di acara diskusi daring Forum Jurnalis MRT Jakarta, Selasa, 30 November 2021. (Foto: Tangkapan Layar Zoom Meeting)

Jakarta – Direktur William P. Savander dari MRT Jakarta mengatakan pihaknya menargetkan jumlah penumpang harian rata-rata hingga 40.000 pada 2022. Menurut William, jumlah target tersebut merupakan angka yang realistis mengingat masyarakat Jakarta tidak akan terjangkit Covid 19 secara tuntas pada 2022.

“Mengenai target tahun 2022, tadi baru saja kita rapat umum pemegang saham dan memutuskan untuk target kita rata-rata per hari 2022 adalah 40.000 penumpang per hari,” ujar William Sabandar dalam diskusi daring, Selasa (30/11/2021) dilansir beritasatu.com.

Baca Juga  Satu Minggu PSBB TANGSEL, Airin Ben Gagal  Pimpin Gugus Tugas

William mangatakan, jika melihat tren penumpang MRT, maka jumlah penumpang pada Desember 2021 rata-rata 20.000 orang per hari. Pasalnya, pemerintah akan menerapkan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level 3 pada 24 Desember hingga 2 Januari 2021. Angka penumpang tersebut akan secara perlahan meningkat dari 20.000 orang per hari pada Januari 2022 menjadi 60.000 orang per hari pada Desember 2022.

Baca Juga  Tak Kenal Lelah, Operator Alat Berat Membelah Bukit

“Kita belajar dari pengalaman di 2021 ini, situasi itu tidak akan kembali seperti normal, kita akan pasti akan tetap memberlakukan protokol kesehatan, kita pasti akan tetap memberlakukan proses jaga jarak, oleh sebab itu kita membuat perhitungan yang relatif moderat. Ini asumsi-asumsi, kita menjadi cukup realistis melihat situasi perkembagang pandemi covid-19,” tandas dia.

Baca Juga  Didampingi Mendagri, Wapres Lantik 1.994 Calon Muda Praja IPDN

Target ini, kata William mengandaikan tidak ada gelombang ketiga pandemi Covid-19 di Ibu Kota. Karena itu, dia meminta masyarakat tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan dan waspada. Apalagi sejumlah negara telah mendeteksi adanya varian baru Covid-19, yakni varian Omicron.

“Ini memperhitungkan dan semoga tidak terjadi, masuknya varian baru (Omicron) dan adanya gelombang ketiga pandemi Covid-19,” pungkas William.(*/cr2)