(C.R. Nurdin)
Tahun Duka Cita (‘Aam A-Huzni), bagi juru dakwah khususnya, mengajarkan satu hal yang tak pernah usang : dakwah bukan soal hasil cepat, melainkan kesetiaan panjang. Seperti Rasulullah ﷺ, tetap istiqamah berdakwah, menyampaikan risalah Islamiah, meski diuji berbagai kesedihan.
Dalam hitungan bulan, memang, dua orang terdekatnya wafat. Abu Thalib, sang paman dan pelindung terakhir dari amukan Quraisy, meninggal dunia. Tak lama berselang, Khadijah binti Khuwailid, istri sekaligus orang pertama yang membenarkan kenabiannya, menyusul pergi.
Pada tahun ke-10 Kenabian itu pula, dakwah Rasulullah ﷺ ke Taif disambut aksi kekerasan fisik. Rasulullah ﷺ dan sahabat Zaid bin Harisah terluka, cukup parah. Meski begitu, ketika yang dicinta wafat, ketika pintu-pintu Taif ditutup, dakwah tetap berjalan – karena ia bukan projek pribadi, melainkan amanah Ilahi.
Makkah tak berubah pada tahun itu. Pasar tetap riuh, Kabah tetap berdiri, dan matahari tetap panas membakar pasir. Namun, bagi Rasulullah ﷺ. tahun kesepuluh kenabian itu adalah masa ketika dunia terasa runtuh perlahan, tanpa suara gemuruh. Lalu, ketika itu, dideklarasikan sebagai Tahun Duka Cita. Memang, manusiawi. Tahun Duka Cita, tahun “uuncak” ujian dakwah di Makkah.
Rasulullah ﷺ tak berhenti karena sedih. Tak mundur karena ditolak. Tak membalas luka dengan kebencian. Dari duka lahirlah kedewasaan. Dari luka lahirlah kasih sayang. Dari kesendirian, dan terasa sunyi di tengah keramaian, lahirlah kian kokohnya keteguhan berdakwah.
Beberapa tahun kemudian, masyarakat Taif yang pernah melempar batu datang membawa iman. Anak-anak yang dulu mengejek tumbuh menjadi generasi muslim yang membanggakan. Kalau saja Rasulullah ﷺ tak sabar, dan ingin membalaskan dendam, ketika ditawari bantuan oleh Malaikat Jibril, tentu, generasi muda muslim Taif tak akan pernah lahir.
Jika hari ini dakwah terasa berat, jika kebenaran terasa sendirian, ingatlah Tahun Duka Cita. Bahwa Rasulullah ﷺ pernah berada di titik yang sangat manusiawi, namun tak pernah meninggalkan tugas kenabian. Dakwah sejati bukan tentang tepuk tangan, melainkan tentang tetap berjalan, meski hati sedang patah. Maka, dari sanalah, sejarah akhirnya berubah ke arah yang diharapkan.
Abu Thalib bukan muslim, sampai akhir hayatnya. Namun, selama hidupnya, ayah Ali bin Abu Thalib ini menjadi pagar sosial yang membuat kaum Quraisy berpikir dua kali sebelum melukai keponakannya. Seusai wafat, pagar itu runtuh. Gangguan menjadi terbuka. Caci maki tak lagi sembunyi. Tekanan fisik meningkat. Dakwah yang sebelumnya dihadang secara halus kini disambut dengan kekerasan verbal dan sosial.
Di rumah, Rasulullah ﷺ kehilangan istrinya (Khadijah), tempat berbagi letih, tempat pulang setelah seharian berdakwah. Perempuan yang menghibur saat wahyu pertama turun, yang mengorbankan harta dan kedudukan demi sebuah risalah, kini telah tiada. Dakwah kehilangan dua penyangga utama : perlindungan sosial dan tempat sandaran batin.
Bagi siapa pun yang hari ini berdakwah, maka Tahun Duka Cita adalah cermin. Bahwa penolakan adalah bagian dari langkah dan perjalanan. Bahwa kehilangan tak selalu berarti kekalahan.
Bahwa dakwah sejati harus tetap berjalan, bahkan ketika yang paling dicintai telah pergi. Penyampaian risalah ini tak berdiri di atas kenyamanan, melainkan di atas keteguhan hati. Dan dari duka itulah, sejarah akhirnya berbelok menuju cahaya.







