(C.R. Nurdin)
Dalam Al-Qur’an, ada tahriiru raqabah (di tiga surat, seperti dalam uraian di, bawah) dan fakku raqabah (hanya di surat A-Balad 13). Baik tahriiru raqabah maupun fakku raqabah diterjemahkan dengan “nafas” yang sama : memerdekakan hamba sahaya, atau pembebasan perbudakan (hamba sahaya), dan lain-lain.
Seorang pakar bahasa Arab dan kebahasaan Al-Qur’an kontemporer, Prof. Dr. Fadil Salih As-Samarra’i, membedakan tahriiru raqabah dan fakku raqabah. Salah satunya, kata pengasuh kebahasaan di televisi Qatar ini, fakku raqabah mencakup pula pembebasan kesulitan.
Kata para ulama, tahriiru raqabah zaman sekarang sudah tak ada lagi, tetapi fakku raqabah mungkin akan selalu ada, seperti fakku raqabah yang didefinisikan As-Samarra’i. Fakku raqabah lebih umum dari tahriiru raqabah.
Tiga Ayat Tahriiru Raqabah
a. An-Nisaa 92 – Tahriiru raqabah disebut tiga kali dalam surat ini dalam konteks yang berbeda. Pertama. Orang mumin yang secara tak sengaja membunuh orang mumin lagi, maka hukumannya adalah memerdekakan hamba sahaya yang beriman dan diyat (tebusan) dari yang membunuh tak sengaja itu kepada keluarga (ahli waris) yang terbunuh. Diyat jadi tak ada kalau keluarga (ahli waris) menyedekahkannya atau membebaskannya. Kedua. Orang mumin yang secara tak sengaja membunuh orang mumin yang memusuhinya, maka hanya memerdekakan hamba sahaya yang beriman saja, tanpa diyat. Ketiga. Orang mumin yang secara tak sengaja membunuh orang kafir yang terikat dengan perjanjian damai (dengan orang mumin), maka harus memberi diyat kepada keluarga korban dan memerdekakan hamba sahaya. Kalau tak mampu, maka dia harus saum dua bulan terus-menerus.
b. Al-Maidah : 89 – Allah Subhaanahu wa Ta’aalaa tak menghukum sumpah yang tak sengaja. Sumpah yang disengaja secara sadar, yang diteguhkan di dlam hati, lalu dilanggar, maka dikenai kaffaarah (denda pelanggaran sumpah), yaitu memberi makan kepada 10 orang miskin dengan makanan yang biasa diberikan keluarga, atau memberi pakaian, atau membebaskan hamba sahaya. Kalau tidak bisa, maka saum tiga hari.
c. Al-Mujaadilah : 3 – Aus bin Shamit, suami Khaulah bintu Tsalabah men-ziharnya (memperlakukan Khaulah. sebagai seorang ibu kandung). Kalimat zihar, misalnya, anti kazahri ummi (kau seperti ibu saya saja). Zihar tak sama dengan cerai. Oleh karena itu, boleh jadi istri lagi kalau suami menempuh kaffaarah, Pertama, memerdekakan hamba sahaya. Kedua, kalau tak mampu, saum dua bulan terus-menerus. Ketiga, kalau tak mampu pula,memberi makan kepada 60 orang miskin. Ayat ini termasuk pula cara pembebasan perbudakan (secara bertahap).
Zakat untuk Riqaab
a. Surat At-Taubah : 60 berisi delapan asnaf penerima sadakah (zakat), salah satunya, untuk memerdekakan hamba sahaya. Untuk menghapus perbudakan. Dengan demikian, uang zakat boleh digunakan untuk kepentingan tersebut.
b. Surat Al-Baqarah : 177 menyebut riqaab yang termasuk ruang lingkup al-birr (kebajikan). Riqaab dalam ayat ini, menurut Asy-Syaukani, pembelian hamba sahaja atau budak-budak untuk dimerdekakan. Disebutkan pula, riqaab di sini maksudnya pemerdekaan tahanan perang. Tahanan perang itu sendiri, menurut beberapa kitab klasik Islam, bisa dibunuh, dijadikan budak (hamba sahaya), dan dimerdekakan. Maka, pemerdekaan hamba sahaya bisa termasuk al-birr (kebajikan).
c. Riqaab dalam surat Muhammad : 4, berarti leher-leher. “Panconglah leher-leher mereka…” (A, Hassan, 2021 : 510). “Maka pukullah batang leher mereka (Institut Quantum Akhyar : 507). Pada dua ayat lain berarti hamba-hamba sahaya. Riqaab, jamak dari raqabah, yang juga berarti leher, selain berarti hamba sahaya (budak). Sebagai kiasan, budak dan leher berkaitan. Budak seakan-akan “terikat lehernya” oleh tuannya. Dalam surat Muahmmad : 4 itu, riqaab tak berarti budak, tetapi leher.






