Al-Muhaimin
Ayat-ayat Al-Qur’an yang mengajarkan tentang ke-Mahakuasa-nya Allah SWT, segala kemuliaan, keagungan, tertuang dalam surat Al-Hasyr ayat 22 – 24. Salah satu Asma Al-Husna dalam ayat itu adalah Al-Muhaimin
Berdasarkan Tafsir Maariful-Quran, kata Al-Muhaimin berasal dari akar kata hamn yang berarti menjaga, memelihara, atau mengawasi. Al-Muhaimin, di Indonesia khususnya, jadi pula nama seseorang. namun misalnya memakai ‘abdun (hamba), jadi Abdul Muhaimin.
Kalau namanya hanya Muhaimin, tentu tak boleh karena menyamai nama atau sifat Allah SWT. Kalau memakai ‘abdun, jadi lain artinya, hamba Al-Muhaimin, atau pengabdian/penyembahan kepada Al-Muhaimin, salah satu nama Allah SWT.
Dalam konteks ayat ini, Allah adalah Zat yang Maha Mengawasi. Tidak ada satu pun amal atau kejadian di alam semesta yang luput dari pengawasan-Nya. Allah SWT Maha Memelihara. Menjaga kelangsungan hidup dan keamanan seluruh makhluk-Nya.
Allah SWT itu Saksi Agung. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abbas, Al-Muhaimin berarti Asy-Syahid (Yang Maha Menyaksikan) atas segala perbuatan hamba-Nya.
Dalam ayat ini, Al-Muhaimin terletak di antara nama Al-Mu’min (Maha Memberi Keamanan) dan Al-Aziz (Maha Perkasa). Urutan ini menunjukkan bahwa setelah Allah SWT memberikan keamanan (Al-Mu’min), Lalu, Allah SWT terus memelihara dan menjaga keamanan tersebut secara terus-menerus (Al-Muhaimin). Penjagaan Allah SWT bersifat mutlak karena didukung oleh kekuasaan-Nya yang mutlak tak terbatas (Al-Aziz).
Pijakan Moral dan Etika
Secara praktis, dengan meneladani atau menyerap sifat Al-Muhaimin untuk konteks media, maka berarti mengadopsi tiga fungsi utama, (a) amanah dalam Informasi. Menjadi saksi yang jujur atas kebenaran, (b) Proteksi, Melindungi yang lemah dan menjaga keseimbangan tatanan masyarakat, dan (c) Integritas. Bertindak dengan kesadaran bahwa setiap tindakan senantiasa berada dalam pengawasan Allah SWT.
Muhaimin
Dalam banyak kitab tafsir pilihan, seperti Tafsir Ath-Thabari, muhaimin merujuk pada fungsi Al-Qur’an terhadap kitab-kitab sebelumnya (Taurat, Zabur, dan Injil).
Maknanya, meliputi kesaksian : membuktikan kebenaran ajaran asli dari Allah SWT. Penjaga atau pengawas: Melindungi ajaran tauhid dan menjadi tolok ukur untuk menilai perubahan (distorsi) pada kitab terdahulu.
Maka, Al-Muhaimin, salah satu nama Allah SWT itu, ajarannya atau firman-Nya jadi pijakan atau pedoman moral-operasional seorang wartawan. Al-Qur’an sebagai muhaimin pun wajib pula diserap wartawan, antara lain, adsopsi fungsi kesaksian atas kebenaran. Media massa jadi saksi kebenaran dan keadilan.
Kerangka Implementasi
Berikut adalah kerangka implementasi nama Al-Muhaimin dalam operasional media:
- Media sebagai Saksi dan Penjaga Kebenaran. Secara linguistik, Al-Muhaimin berarti Zat yang menyaksikan dan menentukan kebenaran. Media bertindak sebagai watchdog (penjaga/pengawas) yang tidak hanya melaporkan fakta, tetapi menjaga agar informasi tersebut akurat dan bebas dari distorsi (hoaks). Al-Qur’an sebagai muhaimin menjadi penjaga/tolok ukur bagi kitab-kitab sebelumnya.
- Fungsi Pengawasan (Watchdog Function), Al-Muhaimin mencakup makna pengawasan (Ar-Raqib) terhadap seluruh makhluk. Media massa mengawasi jalannya pemerintahan.
- Perlindungan dan Pengayoman (Stewardship). Akar kata Al-Muhaiminjuga menggambarkan seekor burung yang membentangkan sayap untuk melindungi anak-anaknya.
- Akuntabilitas dan Transparansi. Karena Allah Al-Muhaiminmengetahui segala yang tersembunyi, pijakan ini menuntut integritas tinggi.
Penerapan
- Media harus berfungsi sebagai pelindung bagi kelompok yang lemah (suara bagi yang tak bersuara) dan penjaga moralitas bangsa, bukan justru mengeksploitasi penderitaan demi traffic.atau popularitas.
- Media memiliki legitimasi moral untuk melakukan pengawasan terhadap kekuasaan dan kebijakan publik demi kepentingan masyarakat luas (maslahah), memastikan tidak ada penyelewengan yang merugikan publik.
- Praktik jurnalisme harus mengutamakan kode etik jurnalistik (KEJ), antara lain, bersikap independen dan berani meralat kesalahan dengan transparan sebagai bentuk tanggung jawab kepada Allah SWT dan transparanai kepada publik.
- Dalam dunia yang hiruk-pikuk oleh informasi, manusia tidak kekurangan berita. yang langka adalah penjagaan kebenaran. Maka, di situlah makna nama atu sifat Allah SWT Al-Muhaimin dijadikan pedoman sebagai etika media. Wartawan bukan sekadar mengawasi dunia, tetapi menjaganya agar tidak kehilangan nurani. (Dean Al-Gamereau).





