Menyambut Hari Pers Nasional Tahun 2026 di Provinsi Banten. Pesan Al-Qur;an untuk Wartawan (29)

oleh
oleh
Dakwah kini, dakwah digital (Foto : https://www.vecteezy.com)

Literasi Digital

Memasuki  The Information and Communication Age, wajah dakwah telah mengalami pergeseran fundamental. Jika dahulu surat dakwah identik dengan lembaran buletin jumat yang dibagikan di selasar masjid atau surat edaran fisik dari organisasi keagamaan.

Pada zaman The Information and Communication Age itu, surat tersebut telah bertransformasi menjadi bit-bit informasi di layar gawai kita. Masa-masa Gutenberg (penemu mesin cetak asal Jerman), kini sudah berubah jadi e-gutenberg).

Namun, di tengah banjir informasi digital ini, muncul pertanyaan reflektif, “Sejauh mana pesan dakwah tersebut mampu menjaga substansinya tanpa tergerus arus disinformasi?”

Maka, isi surat-surat dakwah Rasulullah SAW masih tetap relevan jadi pelajaran. Bukankah kini, bahasa atau pesan  di siber media, selalu lebih singkat dna padat daripada bahasa atau pesan di media massa cetak?

Secara historis, surat adalah instrumen diplomasi dan edukasi para rasul  dan ulama. Dalam konteks komunikasi publik, surat dakwah sejatinya adalah pesan tertulis yang membawa misi transformasi sosial.

Maka, di era digital, surat ini mewujud dalam bentuk artikel blog, utas (thread) di media sosial, hingga buletin elektronik yang dikirim langsung ke surat elektronik masyarakat. Praktis tanpa sampah kertas,       Gawai kita tak pernah meras lebih berat karena banyaknya isi pesan.

Keuntungannya jelas. Jangkauan (reach) yang tak terbatas. Sebuah pesan kebaikan kini bisa melintasi batas geografis hanya dalam hitungan detik melalui platform seperti layanan informasi keagamaan. Namun, kemudahan ini melahirkan tantangan, tak lain, literasi digital.

 

 “Klik” dan “Like” atau Materi Dakwah?

Literasi digital bukan sekadar kemampuan mengoperasikan perangkat, melainkan kecakapan dalam memverifikasi kebenaran (tabayyun). Pada  saat sekarang ini,  tantangan terbesar dakwah bukan lagi kurangnya akses informasi, melainkan surplus informasi yang seringkali bercampur dengan hoaks atau narasi kebencian.

Surat dakwah yang dikirim melalui media digital seringkali harus berhadapan dengan algoritma yang lebih mengutamakan sensasi daripada esensi. Di sinilah refleksi kita dimulai,  apakah dakwah kita hanya mengejar “klik” dan “like“, atau tetap berpijak pada kedalaman materi dan etika berkomunikasi?

Materi Dakwah

Refleksi atas surat dakwah pada  era digital harus bermuara pada tiga pilar utama. Pertama, tabayyun digital. “”Simnga podium” atau penulis dakwah harus menyertakan sumber yang otoritatif.

Masyarakat dapat didorong untuk memverifikasi hukum atau rujukan melalui kanal resmi seperti Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an untuk memastikan validitas dalil. Kalau Al-Qur’an punya standar kesahihah, maka informnasi pun harus punya standar kesahihah.

Penting pula juru dakwah jadi tempat cleaning house dan clearing house, penjelas atau penjernih informasi  untuk segala informasi yang beredar, yang sering sekali banyak yang cenderung hoaks.

Kedua, konteks sosial.  Surat dakwah digital harus relevan dengan masalah kontemporer, seperti isu lingkungan, kesehatan mental, dan keadilan sosial, agar tidak dianggap sebagai teks kuno yang tercerabut dari realitas.

Ketiga, etika berjejaring: Menggunakan bahasa yang merangkul, bukan memukul. Literasi digital mengajarkan bahwa jejak digital bersifat abadi, sehingga pesan dakwah harus ditulis dengan penuh tanggung jawab.

 

Juru Dakwah, Kurator Konten

Surat dakwah di masa kini adalah jembatan antara nilai-nilai langit dan realitas bumi yang serba digital. Menulis dakwah hari ini berarti menulis untuk keabadian di ruang siber. Tanpa penhgawalan  literasi digital yang mumpuni, pesan suci berisiko tenggelam dalam riuhnya kebisingan informasi.

Sudah saatnya para juru dakwah tidak hanya menjadi konsumen teknologi, tetapi menjadi kurator konten yang mencerahkan, cerdas secara digital, dan santun secara sosial. Sasaran dakwah adalah manusia juga yang perlu dihormati dan dihargai. Sering sekali, metode-lah yang menentukan keberhasilan dakwah.

Pada akhirnya, esensi dakwah adalah ajakan. Ajakan yang paling efektif adalah yang mampu menyentuh hati di tengah dinginnya layar digital. Dakwah digital pun bukan untuk mencari puas, melainkan jelas. Dakwah adalah ajakan, bukan ejekan. (Dean Al-Gamereau).

No More Posts Available.

No more pages to load.