Menyambut 26 Tahun Provinsi Banten : Royal dan Taman Sari Baru, Identitas Khas Jantung Kota Serang

oleh
oleh

Oleh : H.R. Edi Sumatirta, S.E., S.T., M.M

Banten 26 Tahun, “Aje Ngaku Wong Serang”

Pada tanggal 4 Oktober 2026 ini, Provinsi Banten persis berusia 26 tahun. Warga bebas menilainya :  maju pesat luar biasa setelah bersuai lebih dari seperempat abad itu, atau Banten memang biasa-biasa saja. Banten berpisah dari Provinsi Jawa Barat, tempo hari,  untuk kesejahteraan, kemajuan, dan kemandirian di kalangan masyarakat.

Di satu sudut ibu kota Provinsi Banten, Kota Serang. masyarakat setempat khususnya  telah lama dikenal ungkapan, “Aje ngaku wong Serang lamun durung jedogan ning Royal.” Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa Royal dan Taman Sari telah lama mengakar dalam kehidupan sosial masyarakat.

Harapan yang sama juga layak tumbuh bagi para pendatang. Semoga kelak semakin banyak orang mengatakan, “Ke Kota Serang belum lengkap kalau belum ke Royal.” Kalimat sederhana itu akan menjadi penanda bahwa kawasan ini telah berhasil menghadirkan pengalaman yang layak dikenang.

Provinsi Banten kini persis  berusia 26 tahun (4 Oktober 2026). Sebagai ibu kota provinsi, Kota Serang membutuhkan ruang publik yang tidak hanya berfungsi sebagai pusat aktivitas, tetapi juga mampu mencerminkan kemajuan perkembangan kotanya.

Beberapa tahun lalu, gagasan tersebut hanya tertuang dalam sebuah tulisan. Kini, perubahan itu dapat disaksikan secara nyata. Tantangan berikutnya bukan lagi membangun fisik kawasan, melainkan menjaga agar perubahan tersebut tetap hidup melalui pengelolaan yang konsisten, ekonomi masyarakat yang terus berkembang, serta partisipasi aktif warga dalam merawat ruang publik.

Apabila semangat itu terus dipertahankan, Royal tidak hanya akan menjadi kawasan yang tertata dengan baik, tetapi juga menjadi ruang bersama yang dikenang, dirindukan, dan dibanggakan oleh seluruh masyarakat Kota Serang.

Tiga Pilar Pengembangan

Dalam tulisan tahun 2023, saya mengemukakan bahwa pengembangan Royal bertumpu pada tiga unsur yang saling melengkapi: kawasan bisnis, Taman Sari, dan Stasiun Kereta Api  Kota Serang.

Pilar pertama adalah aktivitas bisnis. Sejak dahulu Royal menjadi pusat perdagangan yang menghidupi ribuan pelaku usaha. Karena itu, pembenahan kawasan tidak hanya bertujuan mempercantik lingkungan, tetapi juga meningkatkan kenyamanan berusaha, memperkuat daya tarik kawasan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Pilar kedua adalah Taman Sari sebagai ruang sosial kota. Kehadiran ruang terbuka hijau memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk berinteraksi, berolahraga, menikmati kegiatan budaya, maupun sekadar menghabiskan waktu bersama keluarga. Ruang publik yang aktif akan memperkuat denyut kehidupan kota sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Pilar ketiga adalah Stasiun Kereta Api Serang sebagai gerbang kedatangan. Bagi banyak orang, stasiun merupakan titik pertama saat memasuki Kota Serang. Oleh karena itu, keterhubungan yang baik antara stasiun dan Royal akan menciptakan pengalaman ruang yang nyaman, sekaligus memperkuat daya tarik kawasan bagi masyarakat maupun wisatawan.

Apabila ketiga unsur tersebut terus dikembangkan secara terpadu, Royal akan tumbuh bukan hanya sebagai pusat perdagangan, melainkan juga sebagai kawasan publik yang hidup, mudah diakses, dan memiliki karakter yang semakin kuat.

Harapan Jadi Kenyataan

Tahun  2023, saya menulis sebuah refleksi berjudul “Me-Malioboro-kan Royal di Kota Serang, Mungkinkah?”, dimuat di media siber. Tulisan tersebut lahir dari kegelisahan,  sekaligus harapan sebagai warga Kota Serang.

Pertanyaan saya, sekaligus harapan saya sebetulnya, “Mungkinkah Kota Serang memiliki kawasan publik yang khas, seperti Yogyakarta memilik Malioboro? Pertanyaan itu, tampaknya, kini terjawab. Setidak-tidaknya, ditandai dengan revitalisasi kawasan Royal dan Taman Sari. Pembangunan keduanya sudah rampung. Kini, jadi Royal Baru dan Taman Sari Baru

Tampak adanya  perubahan kedua ruang publik itu. Perubahan yang terlihat bukan sekadar pada wajah fisik kawasan yang semakin tertata dan nyaman, melainkan juga pada hadirnya ruang publik yang berkarakter dan berfungsi bagi masyarakat luas..

Perubahan tersebut tentu bukan akhir dari sebuah proses. Sebaliknya, inilah titik awal untuk membangun kawasan yang tidak hanya ramai dikunjungi, tetapi juga memiliki nilai, cerita, dan makna bagi Kota Serang.

Berkaitan dengan pembangunan Kota Serang, Royal sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan dan aktivitas masyarakat di Kota Serang. Pertokoan, kuliner, jasa, hingga berbagai usaha kecil berkembang secara alami mengikuti pertumbuhan kota. Kawasan ini telah menjadi bagian erat dari kehidupan warga, bahkan menjadi salah satu titik pertemuan yang paling akrab dalam keseharian masyarakat.

Revitalisasi yang telah dilakukan menjadi langkah penting untuk mengubah cara pandang publik Pembangunan tidak berhenti pada perbaikan infrastruktur, tetapi juga menghadirkan ruang kota yang lebih manusiawi, tertata, dan memberikan pengalaman yang lebih baik bagi masyarakat.

Semangat Merawat

Rampungnya revitalisasi Royal dan Taman Sari patut dipandang sebagai salah satu tonggak penting dalam pembangunan Kota Serang. Untuk kali pertama,  kawasan perdagangan rakyat dan ruang terbuka publik dibenahi secara terpadu. Langkah ini menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi pejalan kaki, pelaku usaha, maupun masyarakat yang datang untuk beraktivitas.

Perbaikan pedestrian, penataan ruang usaha, dan peningkatan kualitas ruang publik berhasil memperluas fungsi kawasan. Royal tidak lagi hanya menjadi tempat transaksi ekonomi, tetapi juga berkembang sebagai ruang interaksi, rekreasi, dan aktivitas komunitas.

Apabila dikelola secara konsisten, kawasan ini memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi pusat ekonomi kreatif, destinasi wisata perkotaan, sekaligus salah satu landmark yang memperkuat citra Kota Serang.

Inilah makna harapan yang saya tuliskan beberapa tahun lalu. Sejak awal, yang saya maksud bukanlah menghadirkan Malioboro di Kota Serang, melainkan sebagai adaptasi untuk terwujudnya sebuah kawasan yang memiliki identitasnya sendiri, tumbuh dari sejarah, budaya, dan dinamika masyarakat lokal.

Ini Royal dan Taman Saru khas Kota Serang, kota yang memiliki sejarah dan budaya kesultanan selama ratusan tahun. Kalau beberapa banguanan diadopsi dari gaya arsitektur zaman Kesultanan Banten, itulah memang sejarah dan karakteristik Kota Serang sekarang ini. Royal dan Taman Sari baru perlu dirawat, dan bukan hanya jadi idetnitas sejarah, tetapi juga disukai publik. Royal dan Taman Sari Baru jadi identotas khas Kota Serang.

Apabila semangat itu terus digaungkan, Royal tidak hanya akan menjadi kawasan yang tertata dengan baik, tetapi juga menjadi ruang bersama yang dikenang, dirindukan, dan dibanggakan oleh seluruh masyarakat Kota Serang.

Pamungkas

Provinsi Banten terus membangun untuk  kesejahteraan warganya. Juga,  Provinsi Banten terus bersolek, seperti yang kini dilakukan ibu kotanya, Kota Serang.

Salah seorang pendiri Provinsi Banten  H. Tryana Sjam’un, S.E. (Allaahu Yatham) selalu mengatakan, pembentukan Provinsi Banten masih punya “musuh” : kemiskinan dan kebodohan. Keduanya perlu “diperangi” bersama-sama.  Beberapa saat menjelang wafat, Tryana Sjam’un mendirikan Salakanagara Institute (SI), bermaskas di Kabupaten Pandeglang. SI , antara lain, bergerak dalam  pendidikan dan pembangunan ekonomi.

Penulis adalah Dosen Fakultas Teknik dan Pertanian, Universitas Setia Budhi Rangkasbitung

No More Posts Available.

No more pages to load.