Lintas Sara Melawan Corona

oleh
oleh -

Oleh : Jaya Suprana

Memprihatinkan, bagaimana sejak Pilpres 2019, bangsa Indonesia sibuk memecah-belah diri sendiri dengan angkara murka saling membenci, saling menghujat, saling memfitnah, dan saling melaporkan ke polisi. Namun pada belahan awal tahun 2020 mendadak terjadi perubahan suasana akibat prahara wabah virus Corona melanda persada Nusantara.

LINTAS SARA

Pada tanggal 23 April 2020 mulai pukul 17.00, Ketua Umum MUSTI (Muslim Tionghoa Indonesia) merangkap Ketua Dewan Pembina Klenteng Kim Tek Ie, Jusuf Hamka memprakarsai gerakan melawan Covid-19 dengan penyemprotan disinfektan terhadap segenap ruangan di dalam Vihara Dharma Bakti di Petak 9 Glodok , Jakarta agar bersih dan steril dari virus Corona.

Baca Juga  Media, Raffi Ahmad, dan Pengawalan Vaksinasi Covid-19

Gerakan melawan Covid-19 bersifat lintas SARA dengan melibatkan umat Islam, Nasrani, Buddha, Hindu, Kong Hucu dan berbagai suku, ras dan etnis. Umat BABAH ALUN dan MUSLIM TIONGHOA (MUSTI) bahu-membahu dengan FPI dan Laskar Pembela Islam serta relawan-relawan umat Nasrani, Buddha, Hindu dan Kong Hucu, polisi dan TNI bersatupadu menyelenggarakan kerja bakti membersihkan Vihara Dharma Bakti di Petak 9 Glodok yang juga dikenal dengan nama Kelenteng Kim Tek Ie sebagai warisan kebudayaan Nusantara yang sudah berusia 400 tahun.

Baca Juga  Doa Memohon Perkenan Yang Maha Kasih

PERSATUAN INDONESIA
Dapat diyakini bahwa apabila arwah Gus Dur sebagai Bapak Pluralis Nusantara menyaksikan peristiwa lintas SARA melawan Corona di Klenteng Kim Tek Ie menjelang Bulan Suci Ramadhan itu, pasti beliau tersenyum bahagia. Mengharukan, membanggakan serta membahagiakan, bagaimana terbukti bangsa Indonesia mampu menyingkirkan segenap angkara murka kebencian demi mengejawantahkan semangat Bhinneka Tunggal Ika menjadi kenyataan selaras makna adiluhur yang terkandung pada sila Persatuan Indonesia demi bersama-sama, bahu-membahu, bergotong royong melawan angkara murka Covid-19, MERDEKA !

Baca Juga  Kewajiban Sosial Konglomerat : Sebuah Solusi Win-Win

(Penulis adalah pendiri Sanggar Pembelajaran Kemanusiaan)