LEBAK – Bagi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kabupaten Lebak, punya kantor sendiri adalah sebuah kemewahan, pendorong semangat kerja, tempat diskusi permanen, juga tempat perumusan kebijakan-kebijakan penting kelembagaan yang berkaitan debnagn kerukunan antarumat beragama.
“Alhamdulillah, kini kita punya kantor, dibantu Kemenag Lebak,” kata Ketua FKUB Lebak, Drs. H. Zubaedy Khaerudin, usai meninjau kantor baru, bersama Kepala Kemenag Lebak Dr. H. Iwan Falahudin, Selasa (21/04/26). Kantor FKUB itu sendiri masih satu areal dengan Kemanag Lebak, di Jalan Siliwangi, Kota Rangkasbitung.
Bagi FKUB Lebak, diakui Khaerudin, punya kantor sendiri sudah sejak lama dipikirkan. Namun, belum “gayung bersambut” dengan Pemerintah Kabupaten Lebak, antara lain, karena memang keterbatasan anggaran.
FKUB sendiri, selama ini, berkantor di Kemenag Lebak, selain umumnya di Kantor Badan Kesatuan Bangka dan Politik (Kesbangpol) Lebak. Maka, ATK dan dokumen penting disimpan di rumah ketua, sekretaris, dan bendahara (KSB). “Kita rapikan data dan informasi, di sebuah lemari khusus di kantor,” kata Khaerudin.
Setelah punya kantor, kata Sekretaris FKUB Lebak, Ade Bujhaerimi, S,Pd,I,. M,Pd., para anggota bisa bergiliran piket. Mungkin banyak tamu yang ingin berdiskusi tentang kerukunan, syarat mendirikan rumah ibadah, rumah ibadah sementara, dan lain-lain.
“Sepanjang tahun 2025 saja, misalnya, kita punya banyak kegiatan, seperti menerbitkan buku, sosialisasi kerukunan, rapat-rapat internal, dan lain-lain,” kata Ade, pengasuh Pondok Pesantre Modern AlKanza ini. “Sering sekali konsultasi tentang kerukunan dan pemahaman PBM Nomor 9 dan Nomor 8 dilakukan di rumah ketua. Juga, ada yang datang ke pesantren saya,” kata Ade.
Angagaran Memang kecil
Anggaran operasional FKUB Lebak untuk tahun 2026 ini terhitung masih kecil jika dibandingkan dengan (misalnya) FKUB Kota Tangerang, FKUB Kota Serang , atau FKUB Kota Cilegon. “Meski begitu, tak berarti FKUB Lebak tanpa kegiatan, justru banyak,” kata Bendahara FKUB Lebak Drs. H. Ade Muslih.
Anggaran untuk tahun 2026 ini, diakui Ketua FKUB Lebak, mungkin sekitar Rp50 juta, sama dengan anggaran pada tahun 2025. “Tahun-tahun sebelumnya jauh lebih besar,” kata Ade Muslih pula, yang diserahi tugas mengelola keuangan FKUB. Anggaran FKUB di kabupaten/kota lain, bahkan ada yang mencapai ratusan juta rupiah, atau mungkin tembus ke angka miliaran rupiah.
Tak ada rasa cermburu atau iri pada FKUB lain, kecuali bersyukur. “Lagi pula, kami paham, bahwa APBD Lebak tak sebesar APBD di kabupaten atau kota lain di provinsi Banten khususnya,” kata Ade Muslih.
Itulah sebabnya, di tengah-tengah kecilnya anggaran, bahkan FKUB Lebak bisa punya kantor,” kata Ade Muslih, yang juga PNS di Kemenag Lebak ini. “Kita akan menggelar tasyakur kantor baru, suatu hari, sambil menikmati sayur lontong,“ kata Ade Muslih pula.
“Kalau FKUB Lebak bisa memproduksi buku kerukunan umat begarana (edisi kedua), itu karena ada sponsor, terus terang saja, dari Citra Maja City (CMC). “Buku kami susun sendiri, oleh para anggota FKUB, tanpa campur tangan isi oleh CMC,” ka Ade Muslih. “Tahun 2026, rencananya, akan menerbitkan buku lagi, tetap bertemakan kerukunan, namun dalam bentuk pantun. Anggarannya, mungkin sponsor dari Pemkab Lebak,” tambah Ade. (Dean Al-Gamereau)





