Karhutla Jambi Dipantau dari Udara, Pemerintah Perkuat Pengendalian Hadapi September

oleh
oleh

MAJALAHTERAS.COM – Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto dan Gubernur Jambi Al Haris, memperkuat langkah pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi melalui rapat koordinasi teknis dan pemantauan langsung dari udara, Rabu (2/9).

Rapat koordinasi teknis penanganan karhutla dilaksanakan di VIP Room Bandara Sultan Thaha Jambi dengan melibatkan unsur pemerintah daerah, TNI, Polri, BNPB, BPBD, serta para pihak terkait. Pertemuan tersebut membahas perkembangan karhutla, operasi pemadaman darat dan udara, hingga langkah mitigasi menghadapi periode puncak musim kemarau.

Usai rapat koordinasi, Menhut, Kepala BNPB, dan Gubernur Jambi melakukan patroli udara bersama menggunakan pesawat Cessna 208B BNPB. Patroli menyusuri wilayah Muaro Jambi, antara lain Sungai Gelam dan Pulau Mentaro, untuk melihat langsung kondisi lapangan serta memverifikasi informasi titik panas yang terpantau melalui sistem pemantauan.

Kepala BNPB Suharyanto mengatakan, berdasarkan perkembangan hingga sehari sebelumnya, luas areal yang terbakar di Jambi tercatat sekitar 13 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 5 hektare telah berhasil dipadamkan dan penanganan terhadap sekitar 8 hektare lainnya masih dilanjutkan.

“Untuk Jambi, alhamdulillah, luas yang terbakar per hari kemarin itu 13 hektare. Kemudian sehari kemarin bisa dipadamkan 5 hektare, jadi hari ini sedang memadamkan 8 hektare,” kata Suharyanto.

Menurutnya, kondisi tersebut masih terus bergerak karena setiap hotspot yang terdeteksi perlu diverifikasi langsung di lapangan. Informasi hotspot dari SiPongi Kementerian Kehutanan menjadi salah satu acuan bagi tim untuk melakukan patroli dan memastikan apakah sumber panas tersebut merupakan titik api kebakaran atau sumber panas lainnya.

Dalam patroli udara, rombongan juga melihat satu lokasi yang terindikasi sebagai kebakaran baru dengan skala relatif kecil. Temuan tersebut selanjutnya menjadi bagian dari informasi lapangan yang perlu ditindaklanjuti oleh satuan tugas.

“Setiap hari data-data ini bisa terpantau secara real time. Mudah-mudahan yang 8 hektare hari ini dipadamkan betul-betul padam dan tidak ada lagi titik api,” ujar Suharyanto. Ia menambahkan, operasi darat, operasi udara, dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) terus dioptimalkan untuk mendukung pengendalian karhutla.

Sementara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengingatkan bahwa dinamika hotspot dapat berubah dengan cepat. Secara nasional, setelah sebelumnya enam provinsi prioritas menunjukkan tren penurunan, pada hari ini hotspot kembali meningkat terutama di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah.

“Oleh karena itu besok kami ke Pontianak untuk bertemu kembali dengan seluruh stakeholder, dengan Gubernur, Kapolda, Pangdam, merapatkan barisan kembali, melakukan evaluasi, sekaligus membuat rencana apa yang bisa kita lakukan untuk memitigasi dan memastikan agar angka, baik hotspot maupun fire spot yang sudah diverifikasi, dapat turun,” kata Menhut.

Untuk Jambi, Menhut menilai perkembangan penanganan menunjukkan tren yang relatif baik. Namun kondisi tersebut tidak boleh membuat seluruh pihak lengah karena hotspot dapat muncul kembali dalam waktu singkat dan harus segera diverifikasi serta ditangani di lapangan.

Menhut secara khusus mengingatkan bahwa September merupakan periode yang sangat krusial dalam pengendalian karhutla. Karena itu, seluruh sumber daya pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, Polri, masyarakat, dan para pihak perlu terus menjaga kesiapsiagaan.

“Puncak karhutla ini adalah bulan September. Ini medan perjuangan, ladang perjuangannya justru di September ini. Jadi semua pihak, pemerintah, TNI, Polri, termasuk masyarakat, diharapkan bersama-sama berpartisipasi untuk mengatasi persoalan karhutla ini,” tegas Menhut.

Gubernur Jambi Al Haris mengatakan Pemerintah Provinsi Jambi bersama seluruh unsur satuan tugas terus mengutamakan kecepatan respons ketika ditemukan kebakaran. Pemadaman darat segera dilakukan dan dapat diperkuat dengan dukungan water bombing apabila dibutuhkan.

“Begitu ada kebakaran, langsung kita kejar titik api di mana, langsung ada pemadaman dengan tim Satgas di daerah, lalu diikuti lagi dengan water bombing yang telah disiapkan BNPB,” ujar Al Haris.

Ia menjelaskan penanganan karhutla di lahan gambut membutuhkan perhatian lebih karena api dapat tetap tersimpan di bawah permukaan. Meskipun api tidak lagi terlihat, asap maupun bara dapat bertahan dan kembali memunculkan api beberapa jam kemudian.

“Lahan gambut itu api tidak muncul, asapnya ada. Bahkan dalam hitungan jam bisa muncul lagi api baru di tempat yang sama. Itulah risiko lahan gambut. Tugas kami adalah mengawal sampai tuntas pendinginannya,” kata Al Haris.

Patroli udara di Jambi turut diikuti Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Mayjen TNI Budi Irawan, Kapolda Jambi Irjen Pol. Krisno Halomoan Siregar, dan Danrem 042/Garuda Putih Brigjen TNI Nyamin. Patroli dengan rute Bandara Sultan Thaha–Muaro Jambi–Bandara Sultan Thaha tersebut berlangsung sekitar satu jam dengan fokus pemantauan di Sungai Gelam dan Pulau Mentaro.

 

 

No More Posts Available.

No more pages to load.