Utsman dan Kodifikasi Al-Qur’an
Seorang sahabat yang lembut, tetapi menggetarkan langit.Beliau bukan saja salah seorang khalifah, melainkan juga tokoh penting Al-Qur’an. Penyandang gelar Dzun Nurain (Pemilik Dua Cahaya) ini dikepung fitnah, ujian terbesar umat Islam sepanjang sejarah.Bukan karena perdebatan ajaran agama, melainkan soal “administrasi”.
Kitab-kitab mencatat dengan penuh haru.Jemarinya yang gemetar lepas, di bawah kepungan fitnah.Kilatan pedang tajam mengepung rumahnya.Namun, beliau tetap setia memeluk Al-Qur’an.
Dalam sunyi malam Kota Madinah, air matanya berjatuhan, membasahi lembar demi lembar perkamen beraksara Arab.Di atas lembaran suci itulah, beliau syahid, dalam usia 80-an tahun, pada tahun 35 H/656 M.
Beliau meninggalkan warisan terbesar bagi peradaban manusia: kodifikasi Al-Qur’an. Kita mengenal warisannya itu sampai sekarang, Mushaf Utsmani.Khalifah Utsman memperkuat Al-Qur’an dari tradisi hafalan, ditambah dengan tradisi penulisan.
Al-Qur’an diturunkan dengan keindahan bahasa Arab yang tiada tandingannya. Khalifah ketiga ini lambang perpaduan keteguhan akademik(Al-Qur’an dihimpun dengan penuh tanggung jawab yang luar biasa), kesetiaan pada wahyu, dan pengorbanan sosial yang tanpa batas.Utsman dikenal pula sebagai orang kaya yang dermawan.
Utsman dan Lembaga Bahasa Arab
Setelah melewati rentang masa sekian panjangnya, ruh ijtihad dan jihadnya itulah yang kini ditiupkan ke dalam nadi sebuah lembaga pendidikan bahasa Arab, diberi nama Lembaga Bahasa Arab MahadUtsman bin Affan, Jakarta. Biasa pula disebut Mahad Utsman bin Affan.
Berdiri pada tahun 2000, hasil kerja sama PP PERSIS dan Asia Muslim Charity Fund (AMCF). Nama Utsman bin Affan sengajadiadopsi dengan banyak pertimbangan, karena menantu Rasulullah SAW, khalifah, dan terutama karena sisi karya monumental : kodifikasi Al-Qur’an.
Nama khalifah dari Bani Umayah ini tidak sekadar dipahat menjadi plang Mahad Utsman bin Affan, tetapi diformat pula sebagai kiblat spiritual dan intelektual bagi para mahasiswa dan mahasiswinya, di bawah asuhan dan asahan jamiyah PERSIS
Nama Dzun Nurain itu akan selalu bersinar di Mahad Utsman bin Affan. Disebut pemilik dua cahaya, karena Utsman menikahi dua putri Rasulullah SAW, dengan “cahaya pertama” Ruqayah (wafat pada tahun 2 Hijriyah) dan “cahaya kedua”, Ummu Kulsum (wafat pada tahun 9 Hijriyah).
Kitab Klasik Islam, Visi Pembaharuan
Di era ketika dunia bergerak tergesa-gesa, dan informasi keagamaan kerap diringkas dalam potongan video pendek yang instan dan dangkal, yang kerap jadi masalah hukum, lulusan Mahad Utsman bin Affan ini justru memilih jalan sunyi yang melatih ketekunan tingkat tinggi.Para wisudawan dan wisudawati menjelmajadi mujahid dan mujtahid penjaga gerbang turats, menjadi sang perawat kitab klasik Islam.
Di balik dinding-dinding tembok kelas dan bilik mahad, malam-malam mereka habis dikerubuti cahaya lampu, membolak-balik lembar demi lembar kitab-kitab klasik Islam yang tebal.
Bahasa Arab, bagi mereka, bukan sekadar deretan kosakata untuk diucapkan di atas mimbar-mimbar pengajian, melainkan sebuah kunci untuk “membongkar rumah pemikiran” para mujahid dan mujahid terdahulu – yang bertaburan mutiara ilmu dan hikmah.
Mengurai kerumitan ilmu nahwu, mencermati ketepatan ilmu saraf, hingga menikmati keindahan estetika sastra balagah, adalah“zikir” panjang para mahaiswa dan mahasiswa Mahad Utsman bin Affan.Mereka dituntut punya empat keterampilan berbahasa Arabmodern:berbicara, membaca, mendengar, dan menulis.
Kemampuan mereka membaca teks-teks kitab klasik Islam.yang tanpa harakat itu, bukan sekadar keahlian mekanis di atas kertas ujian akademik. Itu adalah sebuah jembatan spiritual agar visi pembaharuan (tajdid)yang diusung jamiyyah PERSIS tidak pernah kehilangan akarnya.
Dari ketekunan mereka itulah.kemurnianajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah akan tetap terjaga. Mereka belajar Islam dari sumber utamanya, disebut sumber A-1, sumber mata air primer yang terpercaya.Bukan dari kitab yang sudah ditafsir ulang atau malah di-framing, misalnya, oleh orientalis-orientalis tertentu yang hasad terhadap ajaran Islam.
Sering sekali terjadi, mahasiswa yang belajar Islam ke Barat dan mahasiswa yang belajar Islam ke Timur Tengah, ketika berjumpa lagi di tanah air, mereka sering sekali berbedapandangan ketika melihat Islam.
Fase Perjuangan, Fase Pengabdian
Wisudawan dan wisudawati Mahad Utsman bin Affan ada 14 orang. (wisuda XLVII). Tempat wisuda di Gedung BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata, Kota Depok, Jawa Barat. Prosesi wisuda pada pada01 Juni 2026, Namun, kampus mereka di Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur.
Ketika para wisudawan Mahad Utsman bin Affan ini berdiri di atas altar kelulusan, mereka tidak hanya membawa pulang gelar sarjana. Di dalam dada mereka, ada sebongkah tanggung jawab moral untuk melanjutkan estafet Utsman bin Affan, jadi benteng Al-Qur’an,penjaga garis keilmuan Islam, dan pemelihara bahasa Arab sebagai “kunci” kitab klasik Islam.
Pesan Ketua Umum PP Persatuan Islam (PERSIS), K.H. Dr. Jeje Zaenudin, M.Ag., dalam sumbutan wisudanya, “Hari ini, para wisudawan dan musudawati tidak hanya punya ijazah, tetapi juga punya tanggung jawab”.
Pesan Ketua Umum pula, “Bahwa wisuda bukan sekadar seremoni akademik, Ia adalah penanda berakhirnya satu fase perjuangan dan dimulainya fase pengabdian yang lebih luas.Jadilah lulusan yang menjunjung tinggi akhlak”.
Pamungkas.Ketua Umum PP PERSIS terdahulu, K.H.E. Abdurrahman (masa jihad 1962-1982) menasihati santri-santrinya, “Tujuh puluh persen manusia ditentukan oleh akhlaknya, bukan oleh ilmunya. Peliharalah akhlakmu!”.Kata pengamat politik berlatar belakang filsafat, Rocky Gerung, “ Ijazah itu tanda Anda pernah sekolah, bukan tanda Anda pernah berpikir”.(Dean Al-Gamereau)






