Jakarta – Suasana hangat dan penuh penghormatan terasa di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH). Sejumlah tokoh bangsa, akademisi, pegiat lingkungan, hingga sahabat lama berkumpul untuk merayakan ulang tahun ke-96 Emil Salim sekaligus menghadiri peluncuran buku yang merekam perjalanan panjang pengabdiannya bagi Indonesia.
Namun, hari itu bukan sekadar perayaan ulang tahun. Bagi banyak orang yang hadir, momen tersebut menjadi kesempatan untuk kembali mendengarkan kisah, gagasan, dan refleksi seorang tokoh yang selama puluhan tahun menjadi salah satu wajah utama gerakan lingkungan hidup Indonesia.
Di usia 96 tahun, Emil Salim masih tampil dengan pemikiran yang jernih dan daya ingat yang mengesankan. Ia berbicara tanpa kehilangan ketajaman analisis yang selama ini menjadi ciri khasnya. Tidak mengherankan jika banyak orang mengenal Emil Salim bukan hanya sebagai mantan menteri atau akademisi, melainkan juga sebagai guru bangsa.
Dalam kesempatan tersebut, Emil Salim mengenang salah satu peristiwa yang mengubah arah perjalanan hidupnya. Saat masih menjabat Menteri Perhubungan, ia pernah memancing bersama Presiden Soeharto di Teluk Jakarta.
Di tengah kegiatan sederhana itu, keduanya menyaksikan kondisi Teluk Jakarta yang mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan lingkungan. Percakapan yang terjadi saat itu kemudian menjadi titik awal lahirnya penugasan baru bagi Emil Salim.
Presiden Soeharto saat itu memintanya menangani urusan lingkungan hidup. Emil Salim mengaku ketika menerima tugas tersebut dirinya belum memiliki pemahaman mendalam mengenai isu lingkungan. Namun sebagai seorang abdi negara, ia menerima amanah itu tanpa ragu.
“Kalau itu tugas negara, saya siap melaksanakan,” kenangnya. Sejak saat itu, perjalanan panjangnya di bidang lingkungan hidup dimulai. Yang menarik, Emil Salim tidak memulai langkahnya dengan mencari referensi dari luar negeri. Ia justru memilih berkeliling Indonesia untuk belajar langsung dari masyarakat.
Emil Salim berdialog dengan para ulama, tokoh Nahdlatul Ulama, pemimpin pesantren, pemuka agama, akademisi, serta masyarakat di berbagai daerah. Dari perjalanan tersebut, ia menemukan bahwa kesadaran menjaga lingkungan sebenarnya telah hidup dalam nilai-nilai budaya dan spiritual yang berkembang di tengah masyarakat Indonesia.
Menurut Emil Salim, pengelolaan lingkungan hidup tidak cukup hanya mengandalkan aturan dan teknologi. Upaya tersebut harus didukung oleh kesadaran moral yang tumbuh dari dalam diri masyarakat.
Pandangan itu semakin menguat ketika ia melihat berbagai praktik baik di lapangan. Di Madura, misalnya, ia menemukan wilayah yang secara alamiah tergolong tandus dan kering. Namun masyarakat setempat mampu menjaga kehidupan lingkungannya karena para kiai dan pimpinan pesantren mendorong para santri untuk menanam pohon dan menghijaukan kawasan sekitar.
Pengalaman serupa ia temukan di Maumere, Nusa Tenggara Timur. Di sana, kawasan perbukitan tetap produktif berkat peran para pemimpin gereja yang mengajak jemaat menanam lamtoro pada lahan pertanian berterasering. Selain membantu mencegah erosi, tanaman tersebut juga meningkatkan produktivitas lahan.
Dari pengalaman-pengalaman itu, Emil Salim sampai pada sebuah keyakinan sederhana namun mendasar, bahwa lingkungan hidup akan terjaga ketika masyarakat merasa memiliki dan mencintainya.
Karena itulah ia selalu menekankan pentingnya kolaborasi. Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dunia usaha, akademisi, organisasi keagamaan, masyarakat sipil, dan komunitas lokal harus berjalan bersama dalam menjaga lingkungan hidup. Gagasan tersebut menjadi salah satu warisan pemikiran yang terus dikenang hingga sekarang.
Dalam testimoninya, mantan Menteri Perdagangan (2011-1014), Gita Wirjawan menyebut Emil Salim sebagai sosok yang sangat langka. “Spesies langka yang perlu dilestarikan,” ujarnya yang langsung disambut tawa hadirin.
Menurut Gita, Emil Salim merupakan salah satu tokoh yang sejak awal menyadari pentingnya konservasi mangrove di Indonesia, jauh sebelum isu perubahan iklim menjadi perhatian dunia seperti sekarang.
Bagi Menteri/Kepala BPLH, Moh Jumhur Hidayat, warisan terbesar Emil Salim tidak hanya terletak pada kebijakan atau gagasan yang pernah ia lahirkan. Yang lebih penting adalah cara pandangnya dalam melihat masa depan. Di tengah tantangan lingkungan yang semakin kompleks, pemikiran Emil Salim tetap relevan dan menjadi sumber inspirasi bagi generasi yang akan datang.







