Gelora Syukur Jadi Sarjana
Di Jantung Kota Depok, Jawa Barat. Ruang sidang Gedung BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata itu mendadak senyap. Hanya ada air mata sebening kristal yang perlahan pecah menjelang prosesi wisuda dimulai. Di depan, puluhan wisudawan dan wisudawati berdiritegak, bertoga, dalam barisan yang rapi, penuh bangga dan syukur.
Senin, 1 Juni 2026, dan bertepatan dengan peringatan hari lahir Pancasila, bukan sekadar hari perayaan kelulusan akademik biasa bagi para wisudawan dan wisudawati Sekolah Tinggi Agama Islam Persatuan Islam (STAI PERSIS) Jakarta. Ini adalah puncak dari air mata, peluh, dan sujud panjang di sepertiga malam terakhir.
Bagi mereka, meraih gelar sarjana di kampus ini tidak pernah menjadi akhir yang statis.Sebaliknya, toga yang mereka sandang merupakan simbol dimulainya babak baru yang jauh lebih menantang, tak seperti di bangku kuliah.
Maka, hari Senin 1 Juni 2026 itu, STAI PERSIS Jakarta kembali melahirkan intelektual muslim, pengabdi umat, dan bahkan pejuang subuh. Air mata yang tumpah di ruang wisuda itu akan menjadi saksi, bahwa di tangan merekalah masa depan dakwah, ibadah, dan ukhuwah akan terus berlanjut.
Ada 20 wisudawan dan wisudawati (wisuda II), terdiri dari 15 orang lulusanJurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) dan 5 orang lulusan Jurusan Hukum Ekonomi Syariah (HES).
Para orang tua tidak mampu menyembunyikan rasa bangga.Anak-anak yang dahulu mereka lepas untuk menuntut ilmu agama, kini jadi sarjana yang siap menuntun umat. Perjuangan memeras keringat dan mengumpulkan biaya kuliah, rasanya runtuh seketika, digantikan oleh gelora syukur jadi sarjana.
Rasa haru menjalar hingga ke kursi senat dan civitas akademika. Para dosen dan pimpinan STAI PERSIS Jakarta menyaksikan dengan mata kepala sendiri saat mahasiwanya berproses, dari yang tertatih-tatih memahami mata kuliah teori, menyusun skripsi, sampai mampu mempertahankan argumentasi ilmiahnya di depan penguji, lalu kini siap di-wisuda.
Asyik Kuliah di KPI dan HES
Menempuh studi di STAI PERSIS Jakarta menuntut komitmen yang berbeda. Para mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HES) dan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) tidak hanya bertarung dengan tumpukan bukuatau jurnal ilmiah, tetapi juga ditempa untuk terjun langsung ke tengah umat.Langsung berinteraksi dengan umat.
Jalur akademik di STAI PERSIS Jakarta bukan sekadar formalitas di bangku kuliah, melainkan laboratorium intelektual untuk merawat tradisi literasi dan gerakan pembaharuan Islam
Para mahasiwa dan mahasiswa membagi waktu antara ruang kuliah, pengabdian di pesantren, hingga menghidupkan majelis taklim di sudut-sudut kota. Di jalur akademik,mereka mengasah intelektualitas.Di jalur agama, mereka memperkokoh integritas.Di jalur masyarakat, mereka mematangkan kepedulian.
Di samping mengikuti kuliah, beragaam referensi pun harus mereka buka. Di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), misalnya, mesti saja mereka membuka kitab karya Stephen W. Littlejohn, EM Griffin, danKatherine Miller yang sering disebut sebagai triorujukan utama mata kuliah teori ilmu komunikasi.
Zaman kini, mata uang baru adalah informasi, dan itu bagian dari ilmu komunikasi.Disadari atau tidak disadari, kini terjadi penjajahan informasi, dari negara yang kaya informasi (rich information) kepada negara yang miskin informaasis (poor information).
Perang Iran – Amerika/Israel, adakah yang menghitung, berapa persen sebenarnya sisi perang informasi di antara mereka? Seberapa jauh perang informasi itu memengaruhi the real war, perang yang sebenarnya? Propaganda dan pembentukan opini publik? Itu kajian ilmu komunikasi juga.
Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) ditempa pula agar tidak gagap teknologi.Mereka harus menguasai algoritma media sosial, teknik produksi konten digital, dan strategi komunikasi modern demi menyuarakan pesan-pesan Islam yang menyejukkan sekaligus mencerahkan.Ke depan, mereka harus menemukan komunikasi profetik di tengah-tengah dominasi komunikasi Barat Maka, asyik kuliah di jurusan KPI STAI PERSIS Jakarta.
Di Jurusan HES, para mahasiswa dipastikan menelusuri Al-Maududi. Tahun 1940, ulama asal Pakistan ini menyodorkan sistem ekonomi Islam, Muhammad Hamidullah membahas ekonomi Islam secara sistematis (1940 -1950).Sayyid Qutub mengeritik sosialisme dan kapitalisme, sambil menawarkan ekonomi Islam.(1950 -1960).
Mahasiswa Program Studi Hukum Ekonomi Syariah (HES) tidak hanya bertarung dengan tumpukan kitab klasik Islam dan regulasi hukum positif, tetapi juga diajak membedah sistem keuangan syariah sehingga mampu menjadi solusi atas ketimpangan ekonomi masyarakat perkotaan. Maka, asyik kuliah di jurusan HES STAI PERSIS Jakarta.
STAI PERSIS Jakarta berharap, dan dengan doa terbaik, agar para lulusannya jadi lentera yang menerangi kegelapan di masyarakat, baik sebagai ahli hukum syariah yang berintegritas maupun sebagai komunikator dakwah yang menyejukkan, bukan mengaduk emosi khalayak penonton, seperti acara-acara debat panjang tertentu di beberapa televisi.
Titip Tiga Amanah untuk Alumni
Ketua STAI PERSIS Jakarta, K.H. Dr. Jeje Zaenudin, M.Ag., mengingatkan alumni tidak boleh menjadi menara gading yang menjulang tinggi, tidak boleh pula berpaling dari lingkungan di sekitarnya. Mulai hari ini, kata Ketua STAI berikutnya, dan dengan nada serius, saya titipkan tiga amanah kepada para alumni, dan harus dijalankan secara beriringan.
Pertama, amanah akademik. Para alumni wajib terus menjaga integritas keilmuan, berpikir kritis, objektif, dan tidak pernah berhenti belajar. Ilmu yang diperoleh selama kuliah harus dipertanggungjawabkan melalui kontribusi gerak dan pemikiran yang sehat bagi bangsa.
Kedua, amanah dakwah. Para alumni diharapkanjadi transformator nilai-nilai Islam di mana pun ditempatkan, di kota atau di desa, di lingkungan pemerintahan atau lingkungan swasta, dan lain-lain. Dakwah yang diusung adalah dakwah perkataan yang santun dan dakwahperbuatan yang nyata.
Ketiga, amanah sosial. Para alumni harus peka terhadap realitas kemiskinan, ketidakadilan, dan problem kemasyarakatan di sekitarnya. Paraalumni harus hadir membawa solusi nyata, mengabdi untuk mengangkat harkat hidup manusia, dan menjadi benteng moral di tengah pergeseran zaman
Anantakupa dan Triohahaha
Kini, sebuah kesadaran besar telah tertanam di hati setiap wisudawan dan wisudawati.. Hari ini, STAI PERSIS Jakarta kembali melahirkan barisan intelektual muslim yang baru.
Air mata syukur yang tumpah di ruang wisuda hari ini akan menjadi saksi sejarah, bahwa di tangan anak-anak muda berpikiran maju inilah, estafet dakwah dan pembaharuan umat akan terus bergerak maju tanpa pernah padam.
Gedung tempat wisuda, BBPPMPV Bisnis dan Pariwisata, kembali senyap.Para wisudawan dan wisudawati sudah melangkah keluar. Mereka bercanda dan bercerita kembali seperti saat-saat kuliah, saat-saat menunggu dosen yang terlambat masuk kelas karena macet di perjalanan ke kampus.Mereka pun segera meninggalkan bangku kuliah, STAI PERSIS, di Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur.STAI PERSIS Jakarta didirikan pada tahun 2016.
Mereka sarjana yang masih hangat, dan semangat : api nan tak kunjung padam, diakronimkan jadi “anantakupa”, slogan Departemen Penerangan RI, tempo hari. Dan itu, semangat lulusan STAI PERSIS Jakarta, yang dalam berjihad, terus dibalut semangat membara, seperti anantakupa.
Ketua Umum PP PERSIS terdahulu, Drs. K.H. Shiddiq Amien, M.B.A. (wafat 31 Oktober 2009) berpesan kepada para lulusan lembaga pendidiian PERSIS agar punya triohahaha : heart (beriman, bertakwa), head (berpikir, berilmur) dan hand (bekerja, berkarya). (Dean Al-Gamereau)






