Oleh Shamsi Ali Al-Nuyorki
Karena bulan ini adalah “Black History Month” (bulan penghormatan kepada warga kulit hitam di Amerika) maka saya mengajak kita untuk kembali merenungkan kata-kata bijak dari Martin Luther King Jr. yang megatakan: “ketidak adilan di mana pun adalah ancaman kepada keadilan di mana pun”. Hikmah abadi ini sangat relevan dengan dunia kita saat ini, di mana penindasan dan ketidakadilan terus melanda umat manusia.
Kita masih terus menerus menyaksikan di hadapan mata kita, dari Gaza/Palestine hingga Ukraina, dari India dan Kashmir, dari Uighur hingga ke Rohingya kekerasan dan pembunuhan terus berlanjut, sering kali dengan impunitas yang memprihatinkan. Warga Palestina hingga saat ini, baik yang di Ramallah apalagi di Gaza masih terus mengalami kekerasan dan pembunuhan oleh penjajah Zionis.
Sayangnya, kekerasan bahkan genosida ini seringkali terjadi di hadapan mata dunia internasional, namun mereka memilih diam seolah kebingungan. Diamnya dunia internasional ini sangat kontras dengan ajaran semua agama yang mendorong pemeluknya untuk menentang ketidakadilan dan mempromosikan kemanusiaan, cinta, kasih sayang dan keadilan.
Sayangnya, pengikut agama-agama, semua agama, isering menunjukkan perilaku yang paradoks, di mana religiositas yang luar biasa tidak sejalan dengan kenyataan hidup. Kesenjangan ini berasal dari kegagalan memahami esensi agama – spiritualitas. Fokus hanya pada simbol dan ritual, mengabaikan kekuatan transformatif iman pada kehidupan sosial.
Karenanya dengan keimanan kita harus bersuara melawan ketidakadilan, mengakui bahwa “ketidakadilan terhadap satu orang/kelompok adalah ketidakadilan terhadap semua orang/kelompok.”
Hal lain yang penting disadari adalah bahwa agama-agama semua mengajarkan kita kejujuran dan integritas; sehingga kita harus jujur dalam melihat dan menegakkan keadilan. Kejujuran iman harusnya memastikan keadilan itu merata untuk semua semua, tanpa memandang latar belakang suku, bangsa bahkan agama.
Pandangan keadilan untuk semua ini sangat mendasar dalam ajaran Islam. Allah bahkan menegaskan agar keadilan ditegakkan walau itu bertentangan dengan kepentingan diri, keluarga dan kelompok. Baik ayat-ayat Al-Quran maupun sejarah hidup Rasulullah menegaskan pentingnya menegakkan keadilan untuk semua. Bahkan beliau mengatakan: “Kalau saja Fatimah, putri Rasulullah, mencuri niscaya akan saya potong tangannya (tegakkan hukum)”.
Maka mari kita bersatu dalam memperjuangkan keadilan dan bersuara melawan ketidakadilan, membangun dunia di mana hak asasi dan martabat semua orang dihormati secara universal. Sebagaimana sebuah pepetah mengatakan: “kejahatan akan menguat dan berkembang di saat orang baik tidak melakukan apa-apa.”
PBB New York, 3 Februari 2026
(Ringkasan presentasi dalam acara Dialog Antaragama PBB untuk Advokasi Global).






