Baduy Lestari, Merawat Alam dengan Kearifan Lokal

oleh
oleh
Ketua Umum PUB, Komisaris Jenderal Polisi (Purn.) Drs. Taufiequrachman Ruki, S.H

MAJALAHTERAS.COM – Menjaga kelestarian alam bukan sekadar menanam pohon, melainkan merawat amanah agar tetap terjaga bagi generasi mendatang. Semangat inilah yang melandasi Perkumpulan Urang Banten (PUB) menggagas gerakan Baduy Lestari, sebuah kegiatan penghijauan yang berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Baduy. Kegiatan ini direncanakan berlangsung pada 25 Oktober 2026 mendatang.

Melalui gerakan tersebut, PUB ingin mengangkat kembali filosofi hidup masyarakat Baduy yang menjunjung tinggi keseimbangan antara manusia dan alam. Bagi masyarakat adat Baduy, alam bukan sekadar sumber daya yang dapat dimanfaatkan tanpa batas, melainkan titipan yang harus dijaga, dirawat, dan diwariskan dalam kondisi baik kepada generasi berikutnya. Nilai luhur ini menjadi pesan penting di tengah meningkatnya tantangan kerusakan lingkungan dan kebutuhan akan pembangunan yang berkelanjutan.

Di bawah kepemimpinan Komisaris Jenderal Polisi (Purn.) Drs. Taufiequrachman Ruki, S.H., PUB berupaya menjadikan Baduy Lestari bukan hanya sebagai kegiatan penghijauan, tetapi juga gerakan moral untuk membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan dengan berpijak pada identitas dan kearifan lokal Banten.

Taufiequrachman Ruki merupakan purnawirawan perwira tinggi Polri yang pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2003–2007 dan kembali dipercaya memimpin lembaga tersebut pada 2015. Pengalamannya di bidang penegakan hukum dan tata kelola pemerintahan menjadi bagian dari perjalanan pengabdiannya di ruang publik. Kini, melalui PUB, ia turut mendorong upaya pelestarian alam dan penguatan nilai-nilai budaya sebagai bagian dari tanggung jawab bersama terhadap masa depan Banten.

Lantas, apa visi dan misi PUB melalui gerakan Baduy Lestari? Bagaimana kearifan lokal masyarakat Baduy dapat menjadi inspirasi dalam membangun kesadaran lingkungan yang lebih luas? Berikut petikan wawancara dengan Ketua Umum PUB, Komisaris Jenderal Polisi (Purn.) Drs. Taufiequrachman Ruki, S.H.

Apa yang melatar belakangi PUB menginisiasi kegiatan Baduy Lestari?

Pertama, masyarakat Adat Baduy yang menghuni desa Kanekes, pada tahun 2025, sudah mencapai jumlah 16.322 jiwa dan bertempat tinggal di 65 kampung,  yang berarti naik sebanyak 4 kali lipat bila dibanding dengan tahun 1985 yang hanya 4.474 jiwa, dengan jumlah kampungnya saat itu 30 kampung, sebuah kenaikan jumlah penduduk dan kampung  yang sangat besar.

Kenaikan jumlah penduduk dan jumlah kampung ini jelas merupakan tekanan yang berat terhadap kondisi geografi dari Desa Adat Kanekes yang meliputi 5.136,85 ha, terdiri dari 3.000 har hutan lindung dan 2.136 ha hutan garapan dan lahan pemukiman.

Karena kenaikan jumlah penduduk, maka lahan garapan yang semula digarap 3 tahun sekali saat ini terpaksa digarap dua tahun sekali untuk mencukupi kebutuhan pangan masyarakat adat, dan masa tanam ini otomatis akan menurunkan tingkat kesuburan tanahnya dan menurunkan hasilnya, sementara itu masyakat Adat Baduy tabu menggunakan pupuk kimia. Ini adalah masalah sosial, masalah kesejahteraam masyarakat Adat Baduy yang memerlukan langkah kongkrit dari Pemerintah Kabupaten Lebak, Provinsi Banten dan Pemernitah Pusat, sedangka Perkumpulan Orang Banten, melaku kegiatan Baduy Lestari ini sekedar menggugah pemerintah untuk bertindak lebih kongkrit, misalnya dengan memberikan hak garap, ijin untuk menggarap secara resmi dan sah, tanah negara yang berada disekitar Kecamatan Leuwi Damar kepada masyarakat Adat Baduy dan juga masyarakat Leuwidamar dan Cisimeut, yang secara nyata memang tidak memiliki tanah garapan untuk meningkatkan kehidupan ekonominya.

Kedua, Desa Adat Kanekes berada dikawasan Gunung Kendeng dengan bukit bukit didalamnya seperti Pasir Hoe, Pasir Madang,  Pasir Binglu,  Pasir Baduy dan Pasir Sorokokod yang merupakan sumber mata air dari sungai Ciujung, Cidikit,  Cibarani, Ciparahyang, Cimangsari dan Cibeueung.

Berutunglah sebagian mata air ini berada di kawasan hutan larangan masyarakat Baduy sehingga hutannya masih lestari dan terjaga tetapi Daerah Aliran Sungainya sudah mulai tegerus oleh naiknya jumlah penduduk dan perluasan pemukiman.

Melalui gerakan Baduy Lestari ini PUB berharap bahwa DAS tersebut ditanami kembali dan dilestarikan.

Ketiga, melalui gerakan Baduy Lestari, PUB berharap kualitas buah-buahan dan hasil hutan masyarakat semakin meningkat sehingga memiliki nilai jual yang lebih tinggi di pasaran. Karena itu, PUB turut menyumbangkan bibit pohon buah-buahan, seperti durian bawor, duku, manggis, dan rambutan tangkue. Selain itu, PUB juga memberikan bibit pohon kawung atau aren agar produksi gula aren masyarakat dapat meningkat, baik dari segi jumlah maupun kualitasnya.

Kenapa pelaksanaan yang semula 17 Oktober diundur menjadi 25 Oktober?

Ini semata mata karena Gerakan Baduy Lestari ini menyesuaikan dengan jadwal “Ngaseuk Huma” yaitu musim tanah pertama yang diselenggarakan secara adat diseluruh dan oleh masyarakat Desa Kanekes. PUB tentu menghargai dan menghormati acara adat ini dan karenanya PUB menggeser acara ini ke tanggal 25 Oktober 2026. Kegiatan ini juga bertepatan dengan waktu luang Gubernur Banten dalam agenda kedinasannya. Karena itu, beliau telah menyatakan kesediaannya untuk hadir langsung di Kadu Ketug sekaligus memimpin kegiatan Baduy Lestari pada hari pelaksanaannya.

Ada 70.000 bibit untuk 68 kampung adat, bisa dijelaskan distribusinya?

Sebanyak 70.000 bibit pohon yang akan ditanam dalam program PUB dan gerakan Baduy Lestari diperoleh secara gratis dari Balai Benih Dephut Rumpin. Jadi program PUB ini match dengan programnya Dephut.

Puluhan ribu bibit tersebut akan didistribusikan ke tujuh kampung yang dapat dijangkau kendaraan, khususnya truk kecil. Selanjutnya, bibit diserahkan kepada para pangiwa dan pengurus adat masyarakat Baduy. Puncak kegiatan ditandai dengan penyerahan bibit kepada Jaro Oon selaku Jaro Pamarentah Baduy, yang dilakukan langsung oleh Gubernur Banten, dengan dihadiri Bupati Lebak serta para pemimpin adat masyarakat Baduy.

Sementara untuk biaya transportasi bibit ini dari Rumpin ke Desa Kanekes dicukupi oleh anggota PUB secara gotong royong dengan gerakan yang disebut “Sasieur Sabeunyeur”, berupa saweeang uang semampunya dan seikhlasnya, dan Alhamdulillah sebesar 140 juta berhasil dihimpundari angggota PUB.

Banyak program penghijauan gagal setelah seremoni, bagaimana PUB memastikan ini berkelanjutan?

PUB pada gerakan awal ini memilih Desa Kanekes sebagai Desa Adat Baduy, karena masyarakat adat baduy itu benar benar well organized. Kepengurusan adat diajak bicara dan dilibatkan, perwakilan mereka yang memilih bibit pohon apa yang mereka ingin tanam dan mereka juga yang menentukan jadwalnya, dengan keikut sertaan pengurus adat dan masyarakat Adat Baduy yang masih taat adat ini, penanaman dan pemeliharaan bibit pohon ini Inshaa Allah akan berhasil.

Jadin program Baduy Lestari ini titik beratnya adalah bottom up, bukan top down, dan PUB hanya memfasilitasinya saja, yaitu mempertemukan masyarat sebagai end user dengan pemerintah di Departemen Kehutanan yang memang portofolionya.

Bagaimana model pembiayaannya?

Modal pembiayaannya jelas gotong royong angggota PUB yang disebut Sazieur Sabeubyeur.

Sieu dalam bahasa sunda adalah anak kutu rambut yang sangat kecil, dan beunyeur adalah bubuk pecahan beras yang juga sangat kecil, jadi dengan menyumbang sedikit uang sesuai dengan kemampuan dan keikhlasan masing-masing anggota PUB, 70.000 bibit pohon, insha Allah dapat diantarkan dari Rum pin sampai ke setiap kampung di desa, Adat Kanekes. Inshaa Allah.

Baduy Lestari untuk Banten Asri, untuk Indonesia, apa langkah setelah deklarasi?

Langkah berikutnya adalah, masih bekerjasama dengan pihak Rumpin, kami akan melakukan pelatihan untuk Urang Baduy, untuk bisa melakukan aktivasi tanaman, dengan teknik yang modern sehingga mereka bisa meneruskan upaya  pelestarian hutannya, saya berharap manakala mereka menebang satu pohon, mereka menggantinya dengan menanam empat atau lima bibit bohon baru.

Langkah berikutnya kalau program ini dianggap berhasil, PUB akan bekerjasama dengan komunitas masyarakat  Banten lainnya untuk menghijaukan kawasan mereka. Termasuk penanaman pohon bakau di pantai utara.

Apakah ada pesan-pesan untuk generasi muda Banten?

Tanamlah sebatang pohon setiap minggu di halaman rumah kalian di kampung halam kita. Ingatlah buah kelapa, durian, rambutan manggis, duku, nangka, dan pohon pohon lainnya itu ditanam oleh orang orang tua kita untuk kita, jadi sekarang mari kita tanam juga untuk anak cucu kita.***

No More Posts Available.

No more pages to load.