Sekitar Dua Juta Calon Haji
Angin gurun berembus pelan membawa bisik doa dari berbagai bangsa. Sebagian menangis terisak, tanpa suara. Ada pula kepala yang tertunduk ke hamparan pasir, dengan tubuh sepenuhnya pasrah. Apa pun bahasanya, tetapi doa dan harap ditujukan hanya kepada tuhan yang sama, tuhan yang esa, tuhan yang mengutus para nabi dan rasul-Nya.
Langit di Padang Arafah selalu tampak cerah.. Di hamparan padang yang gersang itu, manusia datang meletakkan pangkat dan kemewahan dunia. Mereka datang dengan pakaian yang hampir serupa, lembaran kain putih yang sederhana, yang seakan seluruh tanda kebesaran manusia ditanggalkan di hadapan kebesaran-Nya.
Sekitar dua juta calon haji dari seluruh dunia berkumpul di Padang Arafah, 9 Zulhijah 1447 H, atau di Indonesia bertepatan dengan hari Selasa 26 Mei 2026. Sekitar dua juta lidah pula melafalkan talbiah. Berjuta hati mengangkat doa, dan sadar bahwa dirinya amat sangat kecil dan tak berarti di hadapan-Nya
Mengajarkan tentang Kesetaraan
Wukuf, di Padang Arafah itu, bukan sekadar berhenti, seperti terjemahan harfiahnya. Ini adalah “terminal” batin manusia setelah sekian lama berlari mengejar dunia, tanpa lelah. Di Padang Arafah itu pula, manusia seperti dipanggil untuk menatap dirinya sendiri.
Berhenti, hitung dosa! Berapa kali minta pengampunan? Sudahkah benar-benar menyerahkan seluruh hidup hanya kepada-Nya? Salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya karena-Nya, yang terucap saat memulai salat dalam doa iftitah, semua itu hanya di bibir sajakah?
Berhenti di sini, wukuf di Padang Arafah! Renungkan kembali semuanya! Padang Arafah pula bukan hanya tentang kerumunan terbesar manusia dalam ibadah, melainkan juga instrospeksi di ruang terbuka yang beratapkan langit.
Padang Arafah mengajarkan tentang kesetaraan. Tentang kefanaan dunia. Tentang manusia yang pada akhirnya kembali menjadi hamba. Di Padang Arafah pula, dunia terasa begitu kecil. Allah SWT terasa begitu dekat.
Sah, tanpa Jabal Rahmah
Bukit kecil di wilayah Padang Arafah itu sangat terkenal dalam serangkaian ibadah haji. Ia bagian dari wilayah wukuf. Banyak calon haji yang mendatanginya ketika berada di Padang Arafah, saat wukuf itu, dan ingin sekali naik ke ujung bukit Jabal Rahmah ini.
Dalam fikih ibadah haji, yang wajib adalah wukuf di Padang Arafah, bukan naik ke Jabal Rahmah. Tak ada dalilnya, hadis palsu pun tidak ada, bahwa sunah menaiki Jabal Rahmah saat wukuf itu. Jadi, wukufnya sah, meski tanpa naik ke Jabal Rahmah.
Ibadah haji itu (puncaknya) memang wukuf di Arafah, seperti sabda Rasululah SAW (hadis dari Abdurrahman bin Ya’mar Ad-Daili, dicatat Abu Dawud dkk) – dan bukan ditambah dengan naik ke Jabal Rahmah. Calon haji boleh menjumpai atau naik ke Jabal Rahmah,tetapi bukan bagian dari ibadah haji, melainkan sekadar rekreasi.
Pertemuan Nabi Adam dan Hawa
Dalam cerita populer, Jabal Rahmah sering dikaitkan dengan pertemuan kembali Adam dan Hawa setelah diturunkan Allah SWT dari surga ke bumi. Beberapa ayat Al-Qur’an secara tegas menyebutkannya. seperti surat Thaha : 123, “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama”. Para ahli tafsir, seperti Ibnu Katsir, Ath-Thabari, dan Al-Qurtubi bersepakat, bahwa kamu berdua di ayat itu adalah Nabi Adam dan Hawa.
Di belahan bumi mana Adam dan Hawa diturunkan? Cerita populer pula menyebutkan, Nabi Adam diturunkan di India atau Srilangka, sedangkan Hawa diturunkan di Jedah, Saudi Arabia. Jedah artinya, nenek. nenek moyang umat manusia. Tempat ini kemudian disebut Jedah, konon, tempat Hawa dimakamkan. Ada kawasan yang diyakini makan Hawa, di Jedah itu, namun kemudian kabarnya diratakan Pemerintah Saudi Arabia untuk menghindari kultus pada makam.
Pertemuan mereka kembali di dunia, setelah berpisah sekian lamanya, disebut-sebut di Jabal Rahmah, Padang Arafah. Ini cerita populer lagi, bukan hadis sahih apalagi ayat Al-Qur’an.
Kata ahli tafsir Al-Alusi “lam yatsbut fii dzalika khabarun sahiihun”, artinya, tidak ada riwayat yang sahih tentang itu. Namun, Jabal Rahmah boleh dikisahkan, tidak dilarang.
Konon, ada romantisme. Mereka saling mencari. Kalau Adam sedang ada di sebelah barat, dia mengirim pesan lewat angin yang berembus ke arah timur. “Sampaikan salam, aku ada di barat”.
Sebaliknya, kalau Hawa sedang ada di sebelah timur, juga menitipkan salam kepada angin, bahwa dirinya ada di sebelah timur, sampai akhirnya mereka bertemu. Mereka tetap bisa berkomunikasi lewat transmisi angin. Sekarang ini, kita lakukan komunikasi seperti itu lewat “transmisi” pulsa dari telepon genggam kita. Romantisme ini hanya sekedar ingin menguatkan adanya cerita komunikasi sejak manusia generasi pertama lahir.
Puasa Arafah
Tanggal 9 Zulhijah, di luar yang sedang beribadah haji, sunah mengamalkan puasa Arafah. Pahalanya, menghapus dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya (hadis dari Abu Qatadah Al-Anshari, dicatat Imam Muslim).
Tempat ibadah haji meliputi Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Bagaimana kalau beribadah haji tak ke Madinah? Ibadah hajinya sah. Tak ada praktik ibadah haji yang dilakukan di Madinah. Meski begitu, kalau jamaah haji tanpa kunjungan ke Madinah, mungkin akan jadi penyesalan seumur hidup. (Dean Al-Gamereau).






