Cabai Indonesia Diminati Pasar Jepang, Ekspor UMKM Yogyakarta Tembus Hampir Rp1 Miliar

oleh
oleh

MAJALAHTERAS.COM – Cabai asal Indonesia mulai mendapat tempat di pasar internasional, termasuk Jepang. Tingginya kebutuhan cabai di Negeri Sakura salah satunya didorong oleh keberadaan sekitar 266 ribu warga negara Indonesia (WNI) yang tinggal dan bekerja di negara tersebut.

Kebutuhan cabai dari komunitas WNI di Jepang diperkirakan mencapai 1.227 ton per tahun. Peluang pasar tersebut dimanfaatkan salah satu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) asal Yogyakarta yang menjalankan kegiatan produksinya di Gunungkidul.

UMKM tersebut mengekspor cabai beku ke Jepang untuk pertama kalinya pada Juni 2025 dengan volume 7,9 ton. Ekspor kembali dilakukan pada April 2026 sebanyak 8,3 ton dan berlanjut pada Agustus 2026 dengan volume 8 ton.

Secara keseluruhan, UMKM tersebut telah delapan kali melakukan ekspor dengan nilai transaksi yang mencapai hampir Rp1 miliar.

Pasar Jepang bukan satu-satunya tujuan ekspor cabai Indonesia. Produk hortikultura tersebut juga telah dipasarkan ke sejumlah negara lain, di antaranya Malaysia, Pakistan, Cina, Australia, Belanda, hingga Amerika Serikat.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan volume ekspor cabai Indonesia mengalami fluktuasi dari tahun ke tahun. Pada 2022, volume ekspor cabai segar tercatat 0,11 ribu ton, sedangkan cabai olahan mencapai 9,10 ribu ton.

Setahun kemudian, ekspor cabai segar meningkat menjadi 0,29 ribu ton. Pada periode yang sama, volume ekspor cabai olahan juga naik menjadi 9,48 ribu ton.

Kinerja ekspor tersebut menunjukkan adanya peluang bagi pelaku UMKM untuk memperluas pasar produk cabai Indonesia ke mancanegara. Jepang, dengan jumlah komunitas WNI yang besar dan kebutuhan cabai yang relatif tinggi, menjadi salah satu pasar potensial bagi produk cabai beku asal Indonesia.

 

No More Posts Available.

No more pages to load.