MAJALAHTERAS.COM – Daun kelor yang selama ini identik sebagai tanaman pekarangan ternyata mulai naik kelas, sudah menjadi komoditas ekspor bernilai ekonomi tinggi. Peluang ini juga sudah banyak dimanfaatkan oleh para UMKM di negara ini.
Produk kelor buatan UMKM Daerah Istimewa Yogyakarta contohnya, sudah berhasil menembus pasar Malaysia. Pada awal Mei 2024, sebanyak 2 ton daun kelor berhasil diekspor ke Malaysia dengan nilai sekitar Rp 155 juta.
Bukan hanya produk buatan Yoyakarta, pada 2022 produk kelor buatan Kabupaten Sumenep, Madura juga berhasil menempus padar China. Sebanyak 200 ton daun kelor olahan berhasil dikirimkan ke China.
Kisah sukses lainnya datang dari UMKM asal Nusa Tenggara Timur, yang telah mengekspor produk kelornya ke Qatar, Arab Saudi, Singapura, hingga Australia. Dari lima kali pengiriman, UMKM ini berhasil mencatatkan pendapatan pulihan ribu dollar Amerika Serikat (AS). Lantaran volume ekspor yang terus meningkat, UMKM ini kemudian beralih dari pengiriman udara ke kontainer.
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), selama periode Januari-September 2024, nilai ekspor sayuran bubuk asal Indonesia mengalami peningkatan signifikan, sebesar 90,74 persen menjadi US$ 13,75 juta dari USD 7,21 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Volume ekspornya melesat 169,41 persen dari 1.610 ton menjadi 4.350 ton.
Sebagian besar produk yang diekspor adalah campuran sayuran yang mencakup sayuran bubuk kelor. Peningkatan kumulatif tertinggi nilai ekspor terjadi ke Tiongkok (naik US$ 7,39 juta), Thailand (naik US$ 110,54 ribu), Arab Saudi (naik US$ 71,01 ribu), Jepang (naik US$ 46,09 ribu), dan Malaysia (naik US$ 35,08 ribu). Ini menandakan bahwa pasar untuk produk sayuran bubuk, termasuk produk berbasis kelor, memiliki prospek yang sangat cerah.





