Langkah Damai
Sang surya di langit Kampung Kapugeran, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, hendak kembali ke balik malam, suatu sore (01/04/26). Udara yang biasanya agak gerah, kini terasa lebih sejuk.
Di sebuah rumah yang tak begitu mewah, keheningan sempat menyelimuti ruang tamu sebelum sebuah ketukan pintu memecah suasana. Sosok yang datang bukanlah tamu biasa. Dia adalah orang nomor satu di Kabupaten Lebak : Bupati H. Mochamad Hasbi Asyidiki Jayabaya, S.H.
Hanya dua hari sebelumnya, memang, jagat maya dan lorong-lorong kantor pemerintahan riuh oleh gema pernyataan keras yang memicu retak. Namun, di muka pintu itu, tak ada lagi sorot mata tajam atau nada suara yang tinggi. Hanya ada langkah kaki layaknya seorang adik yang berkunjung ke rumah kakaknya. Itu adalah langkah damai.
Saat Wakil Bupati Ir. H.Amir Hamzah, M.Si. muncul, ruang tamu itu mendadak jadi saksi bisu runtuhnya sebuah tembok ego. Tanpa banyak kata-kata formal protokol, Bupati Hasbi melangkah maju. Tangannya terulur, bukan sekadar untuk bersalaman, melainkan langsung merengkuh bahu Wakil Bupati Amir Hamzah, dalam sebuah pelukan erat dan hangat.

Dalam dekapan itu, amarah yang sempat membara seolah menguap terbawa angin sore Kampung Kapugeran yang asri. Dendam yang dikhawatirkan banyak pihak berkembang, ternyata mencair seketika. Bahu keduanya tampak terguncang pelan, sebuah isyarat bahwa ada beban berat yang baru saja mereka lepaskan.
Di mata para saksi, termasuk Penjabat Sekda Lebak, Halson Nainggolan, dan para tokoh agama yang hadir, momen itu bukan sekadar formalitas politik, melainkan kembalinya ikatan kemanusiaan. Mereka pun memuji Bupati Hasbi yang rendah hati, meski kepada wakilnya. Sebuah pelajaran yang sangat berharga, dan tak akan ditemukan di kampus mana pun.
Ada Ruang untuk Rendah Hati
“Saya minta maaf, Pak Wakil,” ucap Bupati Hasbi, lirih, sungguh sebuah kalimat pendek yang meruntuhkan segala ketegangan. Wakil Bupati Amir Hamzah pun membalas dengan tepukan hangat di punggung atasannya itu, menandakan bahwa pintu maaf telah terbuka lebar. Senyum yang sempat hilang dari wajah keduanya kini kembali merekah, tanpa sekat.
Suasana yang sebelumnya kaku berubah jadi cair dan penuh kekeluargaan. Tak ada lagi pembahasan soal masa lalu atau sindiran tajam. Obrolan mengalir tentang mereka harus kembali berjalan beriringan, menatap arah yang sama : masa depan rakyat Lebak yang menunggu pengabdian mereka.
Sore itu pula, Kampung Kapugeran menjadi saksi bahwa di atas kursi kekuasaan, masih ada ruang untuk rendah hati. Bupati Hasbi dan Wakil Bupati Amir telah memilih untuk menang melawan ke-aku-an mereka sendiri.
“Dinding Tembok” Ego, Runtuh
Kini, mereka tak lagi berdiri berseberangan. Keduanya kembali kompak, siap melangkah satu irama dan satu aroma untuk membangun Lebak yang lebih baik. Rakyat pun menyambutnya dengan sukacita yang tulus.
Sore itu pula, langit di atas Kampung Kapugeran, tampak merona jingga. Alam seakan turut merestui sebuah babak baru yang akan terukir. “Dinding” tembok” ego yang sempat menjulang tinggi runtuh seketika. Amarah yang membara selama dua hari terakhir menguap, digantikan oleh isak tertahan yang membuat siapa pun yang melihatnya ikut berkaca-kaca.
Wakil Bupati Amir Hamzah tak kuasa membendung emosinya. Dia balas pelukan itu dengan tepukan hangat di punggung atasannya itu, dan seolah berbisik, “Luka saya telah pulih, telah sembuh. Maafkan saya pula”. Tak ada lagi dendam, tak ada lagi cerita lama yang diungkit.
Dwitunggal yang Kompak
Di hadapan Sekda dan tokoh agama, dua pemimpin ini tidak lagi bicara soal kursi atau kuasa, melainkan soal persaudaraan yang sempat koyak, tetapi kini tertaut kembali lebih kuat.
Kabar damai ini menjalar cepat ke sudut-sudut pasar, terminal, hingga ke kampung-kampung di pelosok Kabupaten Lebak. Media sosial menyebarkan kabar ini, melesat “tanpa ampun”. Kini, rakyat tersenyum lebar. Alhamdulillah.
Rakyat Lebak seolah mendapat kado terindah. Rasa tegang yang menyelimuti perkantoran kini mencair, berganti dengan semangat baru. Bupati dan Wakil Bupati kini berdiri tegak berdampingan, bukan lagi sebagai rival yang saling serang, melainkan sebagai dwitunggal yang kompak menatap masa depan.
RUHAY dan Rukun
Sore di Kapugeran itu menjadi bukti abadi : bahwa di atas segalanya, cinta pada daerah dan rakyat jauh lebih besar daripada sekadar harga diri. Kabupaten Lebak kembali memiliki nahkodanya yang bersatu, siap mengarungi samudera pembangunan dengan satu irama jantung yang sama. Peluk hangat di Kampung Kapugeran itu terasa lebih indah dari sekadar bunga yang mekar merekah di taman alun-alun Rangkasbitung.
Dalam jumpa pers dengan wartawan, usai bertemu empat mata dengan Amir Hamzah, Bupati Hasbi mengakui pentingnya rukun. “Bagaimana Lebak RUHAY, kalau pemimpinnya tak rukun. Nanti, hilang huruf /R/nya, jadi Lebak UHAY”. Lagi-lagi, kebiasaan Bupati Hasbi, dalam acara serius sekalipun, bercanda sudah jadi bagian dari gaya komunikasinya (Dean Al-Gamereau).





